Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCov)

Akhir bulan Januari 2020 Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menerbitkan sebuah panduan yang berjudul Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCov). Novel Coronavirus saat ini terkenal dengan sebutan COVID-19 atau Corona Virus / Diseases 2019. Buku ini tebalnya 75 halaman dan menjadi dokumen resmi dari Kementerian Kesehatan dan Germas.

Pada awal tahun 2020, infeksi 2019-nCoV menjadi masalah kesehatan dunia. Kasus ini diawali dengan informasi dari Badan Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) pada tanggal 31 Desember 2019 yang menyebutkan adanya kasus kluster pneumonia dengan etiologi yang tidak jelas di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Kasus ini terus berkembang hingga akhirnya diketahui bahwa penyebab kluster pneumonia ini adalah novel coronavirus. Kasus ini terus berkembang hingga adanya laporan kematian dan terjadi importasi di luar China.

Sebagai upaya kesiapsiagaan Indonesia menyusun pedoman kesiapsiagaan dalam menghadapi 2019-nCoV, atau COVID-19 bagi para petugas kesehatan yang didalamnya berisi tentang:

  1. Surveilans dan Respon
  2. Manajemen Klinis
  3. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
  4. Pengelolaan Spesimen dan Konfirmasi Laboratorium
  5. Komunikasi Risiko dan Pemberdayaan Masyarakat

Untuk hal-hal yang berbau teknis sila dibaca di lampiran atau di dokumen resminya. Disini hanya dituliskan beberapa hal yang bisa dipahami masyarakat umum untuk mengetahui apa itu CoronaVirus (CoV) saja.

Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCov)

Apa itu Corona Virus (nCoV)

Coronavirus (CoV) adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat. Ada setidaknya dua jenis coronavirus yang diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV). Novel coronavirus (2019-nCoV) adalah virus jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus corona adalah zoonosis (ditularkan antara hewan dan manusia). Penelitian menyebutkan bahwa SARS-CoV ditransmisikan dari kucing luwak (civet cats) ke manusia dan MERS-CoV dari unta ke manusia. Beberapa coronavirus yang dikenal beredar pada hewan namun belum terbukti menginfeksi manusia.

Manifestasi klinis biasanya muncul dalam 2 hari hingga 14 hari setelah paparan. Tanda dan gejala umum infeksi coronavirus antara lain gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk dan sesak napas. Pada kasus yang berat dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian.

Pada 31 Desember 2019, WHO China Country Office melaporkan kasus pneumonia yang tidak diketahui etiologinya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Pada tanggal 7 Januari 2020, Cina mengidentifikasi pneumonia yang tidak diketahui etiologinya tersebut sebagai jenis baru coronavirus (novel coronavirus, 2019-nCoV). Penambahan jumlah kasus 2019-nCoV berlangsung cukup cepat dan sudah terjadi penyebaran ke luar wilayah Wuhan dan negara lain. Sampai dengan 26 Januari 2020, secara global 1.320 kasus konfim di 10 negara dg 41 kematian (CFR 3,1%). Rincian China 1297 kasus konfirmasi (termasuk Hongkong, Taiwan, dan Macau) dengan 41 kematian (39 kematian di Provinsi Hubei, 1 kematian di Provinsi Hebei, 1 kematian di Provinsi Heilongjiang), Jepang (3 kasus), Thailand (4 kasus), Korea Selatan (2 kasus), Vietnam (2 kasus), Singapura (3 kasus), USA (2 kasus), Nepal (1 kasus), Perancis (3 kasus), Australia (3 kasus). Diantara kasus tersebut, sudah ada beberapa tenaga kesehatan yang dilaporkan terinfeksi. Sampai dengan 24 Januari 2020, WHO melaporkan bahwa penularan dari manusia ke manusia terbatas (pada kontak keluarga) telah dikonfirmasi di sebagian besar Kota Wuhan, China dan negara lain.

Tanda-tanda dan gejala klinis yang dilaporkan sebagian besar adalah demam, dengan beberapa kasus mengalami kesulitan bernapas, dan hasil rontgen menunjukkan infiltrat pneumonia luas di kedua paru-paru. Menurut hasil penyelidikan epidemiologi awal, sebagian besar kasus di Wuhan memiliki riwayat bekerja, menangani, atau pengunjung yang sering berkunjung ke Pasar Grosir Makanan Laut Huanan. Sampai saat ini, penyebab penularan masih belum diketahui secara pasti.

Rekomendasi standar untuk mencegah penyebaran infeksi COVID-19 atau nCoV-2019 adalah dengan dengan mencuci tangan secara teratur, menerapkan etika batuk dan bersin, memasak daging dan telur sampai matang. Hindari kontak dekat dengan siapa pun yang menunjukkan gejala penyakit pernapasan seperti batuk dan bersin.

Apa itu Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCov)?

Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCov) secara umum bertujuan untuk melaksanakan kesiapsiagaan dalam menghadapi infeksi 2019-nCoV di Indonesia.

Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCov) secara khusus memiliki tujuan untuk:

  1. Melaksanakan surveilans dan respon Kejadian Luar Biasa (KLB)/wabah
  2. Melaksanakan manajemen klinis infeksi saluran pernapasan akut berat (pada pasien dalam pengawasan 2019-nCoV)
  3. Melaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi selama perawatan kesehatan
  4. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium
  5. Melaksanakan komunikasi risiko dan keterlibatan masyarakat dalam kesiapsiagaan dan respon

Ruang Lingkup Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCov)

Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCov) meliputi surveilans dan respon KLB/wabah, manajemen klinis, pemeriksaan laboratorium, pencegahan dan pengendalian infeksi, pemeriksaan laboratorium dan komunikasi risiko.

Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCov) disusun berdasarkan rekomendasi WHO sehubungan dengan adanya kasus 2019-nCoV di Wuhan, China. Pedoman ini diadopsi dari pedoman sementara WHO serta akan diperbarui sesuai dengan perkembangan kondisi terkini. Pembaruan pedoman dapat diakses pada situs www.infeksiemerging.kemkes.go.id.

Dalam BAB II Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCov), membahas tentang Surveilans dan Respon. Hal ini penting untuk mengetahui dan mendapati protokol-protokol yang diperlukan dalam menghadapi COVID-19. Tujuan Surveilans tersebut adalah:

  1. Melakukan deteksi dini pasien dalam pengawasan/ dalam pemantauan/ probabel/ konfirmasi 2019-nCoV di pintu masuk negara dan wilayah
  2. Mendeteksi adanya penularan dari manusia ke manusia
  3. Mengidentifikasi faktor risiko 2019-nCoV
  4. Mengidentifikasi daerah yang berisiko terinfeksi 2019-nCoV

Definisi operasional pengamatan pasien COVID-19, dalam Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCov) yaitu:

Apa itu Pasien dalam Pengawasan?

  1. Seseorang yang mengalami:
    1. Demam (≥380C) atau ada riwayat demam,
    2. Batuk/ Pilek/ Nyeri tenggorokan,
    3. Pneumonia ringan hingga berat berdasarkan gejala klinis dan/atau gambaran radiologis
      Perlu waspada pada pasien dengan gangguan sistem kekebalan tubuh (immunocompromised) karena gejala dan tanda menjadi tidak jelas.

    DAN disertai minimal satu kondisi sebagai berikut:

    1. Memiliki riwayat perjalanan ke China atau wilayah/negara yang terjangkit (sesuai dengan perkembangan penyakit)* dalam waktu 14 hari sebelum timbul gejala; ATAU
    2. merupakan petugas kesehatan yang sakit dengan gejala sama setelah merawat pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) berat yang tidak diketahui penyebab/etiologi penyakitnya, tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian; ATAU
  2. Seseorang dengan ISPA ringan sampai berat dalam waktu 14 hari sebelum sakit, memiliki salah satu dari paparan berikut:
    1. Memiliki riwayat kontak erat dengan kasus konfirmasi 2019-nCoV; ATAU
    2. Bekerja atau mengunjungi fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien konfirmasi 2019-nCoV di China atau wilayah/negara yang terjangkit (sesuai dengan perkembangan penyakit)*; ATAU
    3. Memiliki riwayat kontak dengan hewan penular (jika hewan penular sudah teridentifikasi) di China atau wilayah/negara yang terjangkit (sesuai dengan perkembangan penyakit)*; ATAU
    4. Memiliki riwayat perjalanan ke Wuhan ATAU kontak dengan orang yang memiliki riwayat perjalanan ke Wuhan (ada hubungan epidemiologi) dan memiliki (demam ≥380C) atau ada riwayat demam.

    *Keterangan: Saat ini negara terjangkit hanya China, namun perkembangan situasi dapat diupdate melalui website www.infeksiemerging.kemkes.go.id

Apakah itu Orang dalam Pemantauan?

Seseorang yang mengalami gejala demam/riwayat demam tanpa pneumonia yang memiliki riwayat perjalanan ke China atau wilayah/negara yang terjangkit, dalam waktu 14 hari DAN TIDAK memiliki satu atau lebih riwayat paparan (Riwayat kontak erat dengan kasus konfirmasi 2019-nCoV; Bekerja atau mengunjungi fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien konfirmasi 2019-nCoV di China atau wilayah/negara yang terjangkit (sesuai dengan perkembangan penyakit)*, memiliki riwayat kontak dengan hewan penular (jika hewan penular sudah teridentifikasi) di China atau wilayah/negara yang terjangkit (sesuai dengan perkembangan penyakit)*.

*Keterangan: Saat ini negara terjangkit hanya China, namun perkembangan situasi dapat diupdate melalui website www.infeksiemerging.kemkes.go.id

Termasuk Kontak Erat adalah:

  • Petugas kesehatan yang memeriksa, merawat, mengantar dan membersihkan ruangan di tempat perawatan khusus
  • Orang yang merawat atau menunggu pasien di ruangan ➢ Orang yang tinggal serumah dengan pasien
  • Tamu yang berada dalam satu ruangan dengan pasien

Kasus Probabel

Kasus Probabel adalah apabila Pasien dalam pengawasan yang diperiksa untuk 2019-nCoV tetapi inkonklusif (tidak dapat disimpulkan) atau seseorang dengan dengan hasil konfirmasi positif pan-coronavirus atau beta coronavirus.

Kasus Konfirmasi

Seseorang yang terinfeksi 2019-nCoV dengan hasil pemeriksaan laboratorium positif.

Deteksi Dini dan Respon

Kegiatan deteksi dini dan respon dilakukan di pintu masuk dan wilayah untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya pasien dalam pengawasan, orang dalam pemantauan, kasus probable maupun kasus konfimasi 2019-nCoV dan melakukan respon adekuat. Upaya deteksi dini dan respon dilakukan sesuai perkembangan situasi 2019-nCoV dunia yang dipantau dari situs resmi WHO atau melalui situs lain:

  • Situs resmi WHO (https://www.who.int/) untuk mengetahui negara terjangkit dan wilayah yang sedang terjadi KLB 2019-nCoV.
  • Peta penyebaran 2019-nCoV yang mendekati realtime oleh Johns Hopkins University -Center for Systems Science and Engineering (JHU CSSE) akses pada link https://gisanddata.maps.arcgis.com/apps/opsdashboard/index.html#/bda759… 0299423467b48e9ecf6.
  • Sumber lain yang terpercaya dari pemerintah/ kementerian kesehatan dari negara terjangkit (dapat diakses di www.infeksiemerging.kemkes.go.id)
  • Sumber media cetak atau elektronik nasional untuk mewaspadai rumor atau berita yang berkembang terkait dengan 2019-nCoV.

Deteksi Dini dan Respon di Pintu Masuk Negara

Dalam rangka implementasi International Health Regulation/IHR (2005), pelabuhan, bandara, dan Pos Lintas Batas Darat Negara (PLBDN) melakukan kegiatan karantina, pemeriksaan alat angkut, pengendalian vektor serta tindakan penyehatan. Implementasi IHR (2005) di pintu masuk negara adalah tanggung jawab Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) beserta segenap instansi di pintu masuk negara. Kemampuan utama untuk pintu masuk negara sesuai amanah IHR (2005) adalah kapasitas dalam kondisi rutin dan kapasitas dalam kondisi Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD).

Kegiatan di pintu masuk negara meliputi upaya detect, prevent, dan respond terhadap 2019-nCoV di pelabuhan, bandar udara, dan PLBDN. Upaya tersebut dilaksanakan melalui pengawasan alat angkut, orang, barang, dan lingkungan yang datang dari wilayah/negara terjangkit 2019-nCoV yang dilaksanakan oleh KKP dan berkoordinasi dengan lintas sektor terkait.

Kesiapsiagaan

Dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi ancaman 2019-nCoV maupun penyakit dan faktor risiko kesehatan yang berpotensi Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (KKM) lainnya di pintu masuk (pelabuhan, bandar udara, dan PLBDN) agar memiliki dokumen rencana kontinjensi dalam rangka menghadapi penyakit dan faktor risiko kesehatan berpotensi KKM. Rencana Kontinjensi tersebut dapat diaktifkan ketika ancaman kesehatan yang berpotensi KKM terjadi. Rencana kontinjensi disusun atas dasar koordinasi dan kesepakatan bersama antara seluruh pihak terkait di lingkungan bandar udara, pelabuhan, dan PLBDN.

Dalam rangka kesiapsiagaan tersebut perlu dipersiapkan beberapa hal meliputi NSPK (norma, standar, prosedur, kriteria), kebijakan dan strategi, Tim Gerak Cepat (TGC), sarana prasarana dan logistik, serta pembiayaan. Secara umum kesiapsiagaan tersebut meliputi:

  1. Sumber Daya Manusia (SDM)
    • Membentuk atau mengaktifkan TGC di wilayah otoritas pintu masuk negara di bandara/ pelabuhan/ PLBDN. Tim dapat terdiri atas petugas KKP, Imigrasi, Bea Cukai, Karantina Hewan dan unit lain yang relevan di wilayah otoritas pintu masuk negara yang memiliki kompetensi yang diperlukan dalam pencegahan importasi penyakit.
    • Peningkatan kapasitas SDM yang bertugas di pintu masuk negara dalam kesiapsiagaan menghadapi 2019-nCoV dengan melakukan pelatihan/drill, table top exercise, dan simulasi penanggulangan 2019- nCoV.
    • Meningkatkan kemampuan jejaring kerja lintas program dan lintas sektor dengan semua unit otoritas di bandara/pelabuhan/PLBDN.
  2. Sarana dan Prasarana
    • Tersedianya ruang wawancara, ruang observasi, dan ruang karantina untuk tatalaksana penumpang. Jika tidak tersedia maka menyiapkan ruang yang dapat dimodifikasi dengan cepat untuk melakukan tatalaksana penumpang sakit yang sifatnya sementara.
    • Memastikan alat transportasi (ambulans) penyakit menular ataupun peralatan khusus utk merujuk penyakit menular yang dapat difungsikan setiap saat untuk mengangkut ke Rumah Sakit (RS) rujukan. Apabila tidak tersedia ambulans khusus penyakit menular, perujukan dapat dilaksanakan dengan prinsip-prinsip pencegahan infeksi (menggunakan Alat Pelindung Diri/APD lengkap dan penerapan disinfeksi)
    • Memastikan fungsi alat deteksi dini (thermal scanner) dan alat penyehatan serta ketersediaan bahan pendukung.
    • Memastikan ketersediaan dan fungsi alat komunikasi untuk koordinasi dengan unit-unit terkait.
    • Menyiapkan logistik penunjang pelayanan kesehatan yang dibutuhkan antara lain obat–obat suportif (life-saving), alat kesehatan, APD, Health Alert Card (HAC), dan melengkapi logistik, jika masih ada kekurangan.
    • Menyiapkan media komunikasi risiko atau bahan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dan menempatkan bahan KIE tersebut di lokasi yang tepat.
    • Ketersediaan pedoman pengendalian 2019-nCoV untuk petugas kesehatan, termasuk mekanisme atau prosedur tata laksana dan rujukan pasien.

Deteksi Dini dan Respon di Pintu Masuk Negara

Secara umum kegiatan penemuan kasus 2019-nCoV di pintu masuk negara diawali dengan penemuan pasien demam disertai gangguan pernanapasan yang berasal dari negara/wilayah terjangkit. Selanjutnya petugas KKP melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik lebih lanjut.

Jika memenuhi kriteria pasien dalam pengawasan maka dilakukan:

  • Tatalaksana sesuai kondisi pasien termasuk disinfeksi pasien dan merujuk ke RS rujukan (lihat Kepmenkes Nomor 414/Menkes/SK/IV/2007 tentang Penetapan RS Rujukan Penanggulangan Flu Burung/Avian Influenza)
  • Lakukan tindakan penyehatan terhadap barang dan alat angkut
  • Mengidentifikasi penumpang lain yang berisiko (kontak erat)
  • Terhadap kontak erat (dua baris depan belakang kanan kiri) dilakukan pemantauan (lampiran 2)
  • Melakukan pemantauan terhadap petugas yang kontak dengan pasien. Pencacatan pemantauan menggunakan formulir terlampir (lampiran 3)
  • Pemberian HAC dan komunikasi risiko
  • Notifikasi ke Ditjen P2P melalui PHEOC ditembuskan ke Dinas Kesehatan Provinsi dan dilakukan pencatatan menggunakan formulir notifikasi (lampiran 1). Notifikasi ke Dinas Kesehatan dimaksudkan untuk koordinasi pemantauan kontak erat.

Bila memenuhi kriteria orang dalam pemantauan maka dilakukan:

  • Tatalaksana sesuai diagnosis yang ditetapkan
  • Orang tersebut dapat dinyatakan laik/tidak laik melanjutkan perjalanan dengan suatu alat angkut sesuai dengan kondisi hasil pemeriksaan
  • Pemberian HAC dan komunikasi risiko mengenai infeksi coronavirus, informasi bila selama masa inkubasi mengalami gejala perburukan maka segera memeriksakan ke fasyankes dengan menunjukkan HAC kepada petugas kesehatan selain itu pasien diberikan edukasi untuk isolasi diri (membatasi lingkungan di rumah)
  • KKP mengidentifikasi daftar penumpang pesawat. Hal ini dimaksudkan bila pasien tersebut mengalami perubahan manifestasi klinis sesuai definisi operasional pasien dalam pengawasan maka dapat dilakukan contact tracing.
  • Notifikasi ke Dinkes Prov dan Kab/Kota untuk pemantauan di tempat tinggal menggunakan formulir (lampiran 1)

Bila tidak memenuhi kriteria definisi operasional apapun maka dilakukan:

  1. Tatalaksana sesuai kondisi pasien
  2. Pemberian HAC dan komunikasi risiko mengenai infeksi coronavirus, informasi bila selama masa inkubasi mengalami gejala perburukan maka segera memeriksakan diri ke fasyankes dan menunjukkan HAC kepada petugas kesehatan.

Pada penumpang dan kru lainnya yang tidak berisiko juga dilakukan pemeriksaan suhu menggunakan thermal scanner, pemberian HAC dan komunikasi risiko.

Pengawasan Alat Angkut, Orang, Barang, dan Lingkungan di Pintu Masuk Negara

Pengawasan terhadap alat angkut, orang, barang, dan lingkungan yang datang dari negara terjangkit 2019-nCoV adalah sebagai berikut:

  1. Pengawasan Kedatangan Alat Angkut
    1. Meningkatkan pengawasan alat angkut khususnya yang berasal dari wilayah/negara terjangkit, melalui pemeriksaan dokumen kesehatan alat angkut dan pemeriksaan faktor risiko kesehatan pada alat angkut.
    2. Memastikan alat angkut tersebut terbebas dari faktor risiko penularan virus 2019-nCoV.
    3. Jika dokumen lengkap dan/atau tidak ditemukan penyakit dan/ atau faktor risiko kesehatan, terhadap alat angkut dapat diberikan persetujuan bebas karantina.
    4. Jika dokumen tidak lengkap dan/atau ditemukan penyakit dan/ atau faktor risiko kesehatan, terhadap alat angkut diberikan persetujuan karantina terbatas, dan selanjutnya dilakukan tindakan kekarantinaan kesehatan yang diperlukan (seperti disinfeksi, deratisasi, dsb).
    5. Dalam melaksanakan upaya deteksi dan respon, KKP berkoordinasi dengan lintas sektor terkait lainnya, seperti Dinkes, RS rujukan, Kantor Imigrasi, dsb.
  2. Pengawasan Kedatangan Orang
    1. Meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan (awak/personel, penumpang) khususnya yang berasal dari wilayah/negara terjangkit, melalui pengamatan suhu dengan (thermal scanner maupun thermometer infrared), pengamatan visual.
    2. Melakukan pemeriksaan dokumen kesehatan pada orang.
    3. Jika ditemukan pelaku perjalanan yang terdeteksi demam dan menunjukkan gejala-gejala pneumonia berat di atas alat angkut, petugas KKP melakukan pemeriksaan dan penanganan ke atas alat angkut dengan menggunakan APD yang sesuai. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan dalam pengawasan 2019-nCoV, dilakukan rujukan dan isolasi terhadap pelaku perjalanan tersebut. Terhadap pelaku perjalanan yang kontak erat, dilakukan tindakan pemantauan.
    4. Pengawasan kedatangan orang dilakukan melalui pengamatan suhu tubuh dengan menggunakan alat pemindai suhu massal (thermal scanner) ataupun thermometer infrared, serta melalui pengamatan visual terhadap pelau perjalanan yang menunjukkan ciri-ciri penderita 2019-nCoV.
    5. Jika ditemukan pelaku perjalanan yang terdeteksi demam melalui thermal scanner/thermometer infrared maka dilakukan observasi dan wawancara lebih lanjut. Jika hasil pemeriksaan memenuhi kriteria pasien dalam pengawasan 2019-nCoV, dilakukan rujukan dengan menggunakan ambulans penyakit infeksi dengan menerapkan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) berbasis kontak, droplet, dan airborne.
    6. RS rujukan yaitu RS rujukan infeksi, ataupun RS rujukan tertinggi di wilayah tersebut dengan fasilitas ruang isolasi bertekanan negatif.
    7. Terhadap pelaku perjalanan lainnya, diberikan HAC untuk dilakukan pemantauan selama minimal satu kali masa inkubasi terpanjang.
  3. Pengawasan Kedatangan Barang

    Meningkatkan pengawasan barang (baik barang bawaan maupun barang komoditi), khususnya yang berasal dari negara-negara terjangkit, terhadap penyakit maupun faktor risiko kesehatan, melalui pemeriksaan dokumen kesehatan dan pemeriksaan faktor risiko kesehatan pada barang (pengamatan visual maupun menggunakan alat deteksi).

  4. Pengawasan Lingkungan

    Meningkatkan pengawasan lingkungan pelabuhan, bandar udara, PLBDN, dan terbebas dari faktor risiko penularan 2019-nCoV.

  5. Komunikasi risiko

    Melakukan penyebarluasan informasi dan edukasi kepada pelaku perjalanan dan masyarakat di lingkungan pelabuhan, bandar udara, dan PLBDN. Dalam melaksanakan upaya deteksi dan respon, KKP berkoordinasi dengan lintas sektor terkait lainnya, seperti Dinkes di wilayah, RS rujukan, Kantor Imigrasi, Kantor Bea dan Cukai, maupun pihak terkait lainnya, serta menyampaikan laporan kepada Dirjen P2P , melalui PHEOC apabila menemukan pasien dalam pengawasan maupun upaya-upaya yang dilakukan.

Deteksi Dini dan Respon di Wilayah

Deteksi dini di wilayah dilakukan melalui peningkatan kegiatan surveilans rutin dan surveilans berbasis kejadian yang dilakukan secara aktif maupun pasif. Kegiatan ini dilakukan untuk menemukan adanya indikasi pasien dalam pengawasan 2019- nCoV yang harus segera direspon. Adapun bentuk respon dapat berupa verifikasi, rujukan kasus, investigasi, notifikasi, dan respon penanggulangan. Bentuk kegiatan verifikasi dan investigasi adalah penyelidikan epidemiologi. Sedangkan, kegiatan respon penanggulangan antara lain identifikasi dan pemantauan kontak, rujukan, komunikasi risiko dan pemutusan rantai penularan.

Kesiapsiagaan di Wilayah

Dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi infeksi 2019-nCoV maka Pusat dan Dinkes melakukan kesiapan sumber daya sebagai berikut:

  1. Sumber Daya Manusia (SDM)

    • Mengaktifkan TGC yang sudah ada baik di tingkat Pusat, Provinsi dan Kab/Kota.
    • Meningkatkan kapasitas SDM dalam kesiapsiagaan menghadapi infeksi 2019-nCoV dengan melakukan sosialisasi, table top exercises/drilling dan simulasi 2019-nCoV.
    • Meningkatkan jejaring kerja surveilans dengan lintas program dan lintas sektor terkait.
  2. Sarana dan Prasarana

    • Kesiapan alat transportasi (ambulans) dan memastikan dapat berfungsi dengan baik untuk merujuk kasus.
    • Kesiapan sarana pelayanan kesehatan antara lain meliputi tersedianya ruang isolasi untuk melakukan tatalaksana, alat-alat kesehatan dan sebagainya.
    • Kesiapan ketersediaan dan fungsi alat komunikasi untuk koordinasi dengan unit-unit terkait.
    • Kesiapan logistik penunjang pelayanan kesehatan yang dibutuhkan antara lain obat-obat suportif (life saving), alat-alat kesehatan, APD serta melengkapi logistik lainnya.
    • Kesiapan bahan-bahan KIE antara lain brosur, banner, leaflet serta media untuk melakukan komunikasi risiko terhadap masyarakat.
    • Kesiapan pedoman 2019-nCoV untuk petugas kesehatan, termasuk mekanisme atau prosedur tata laksana dan rujukan RS.

Deteksi Dini dan Respon di Wilayah

Kegiatan penemuan kasus 2019-nCoV wilayah dilakukan melalui penemuan orang sesuai definisi operasional. Penemuan kasus dapat dilakukan di puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) lainnya.

Bila fasyankes menemukan orang yang memenuhi kriteria pasien dalam pengawasan maka perlu melakukan kegiatan sebagai berikut:

  1. Tatalaksana sesuai kondisi pasien dan rujuk ke RS rujukan menggunakan mobil ambulans
  2. Memberikan komunikasi risiko mengenai penyakit 2019-nCoV
  3. Fasyankes segera melaporkan dalam waktu ≤ 24 jam ke Dinkes Kab/Kota setempat. Selanjutnya Dinkes Kab/Kota melaporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi yang kemudian diteruskan ke Ditjen P2P melalui PHEOC dan KKP setempat. Menggunakan form notifikasi (lampiran 4)
  4. Melakukan penyelidikan epidemiologi selanjutnya mengidentifikasi dan pemantauan kontak erat
  5. Pengambilan spesimen dilakukan di RS rujukan yang selanjutnya RS berkoordinasi dengan Dinkes setempat untuk pengiriman sampel dengan menyertakan formulir penyelidikan epidemiologi (lampiran 5), formulir pengiriman spesimen (lampiran 6) dan surat pengantar dinas kesehatan setermpat (lampiran 7)

Bila memenuhi kriteria orang dalam pemantauan maka dilakukan:

  1. Tatalaksana sesuai kondisi pasien
  2. Pemberian HAC dan komunikasi risiko mengenai penyakit 2019-nCoV
  3. Pasien diberikan perawatan rumah (isolasi diri) namun pasien tetap dalam pemantauan petugas kesehatan puskesmas berkoordinasi dengan Dinkes
  4. Fasyankes segera melaporkan secara berjenjang dalam waktu ≤ 24 jam ke Dinkes Kab/Kota/Provinsi.

Bila kasus tidak memenuhi kriteria definisi operasional maka dilakukan:

  1. Tatalaksana sesuai kondisi pasien
  2. Komunikasi risiko kepada pasien

Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB

Setiap pasien dalam pengawasan, orang dalam pemantauan, maupun probabel harus dilakukan penyelidikan epidemiologi. Hasil penyelidikan epidemiologi dapat memberikan masukan bagi pengambil kebijakan dalam rangka penanggulangan atau pemutusan penularan secara lebih cepat.

  1. Definisi KLB

    Jika ditemukan satu kasus konfirmasi 2019-nCoV maka dinyatakan sebagai KLB.

  2. Tujuan Penyelidikan Epidemiologi

    Penyelidikan epidemiologi dilakukan dengan tujuan mengetahui besar masalah KLB dan mencegah penyebaran yang lebih luas. Secara khusus tujuan penyelidikan epidemiologi sebagai berikut:

    1. Mengetahui karakteristik epidemiologi, gejala klinis dan virus
    2. Mengidentifikasi faktor risiko
    3. Mengidentifikasi kasus tambahan
    4. Memberikan rekomendasi upaya penanggulangan
  3. Tahapan Penyelidikan Epidemiologi

    Langkah penyelidikan epidemiologi untuk kasus 2019-nCoV sama dengan penyelidikan KLB pada untuk kasus Mers-CoV. Tahapan penyelidikan epidemiologi secara umum meliputi:

    1. Konfirmasi awal KLB

      Petugas surveilans atau penanggung jawab surveilans puskesmas/Dinas Kesehatan melakukan konfirmasi awal untuk memastikan terjadinya KLB 2019-nCoV dengan cara wawancara dengan petugas puskesmas atau dokter yang menangani kasus.

    2. Pelaporan segera

      Mengirimkan laporan W1 ke Dinkes Kab/Kota dalam waktu

    3. Persiapan penyelidikan
      1. Persiapan formulir penyelidikan sesuai form terlampir (lampiran 5)
      2. Persiapan Tim Penyelidikan
      3. Persiapan logistik (termasuk APD) dan obat-obatan jika diperlukan
    4. Penyelidikan epidemiologi
      1. Identifikasi kasus
      2. Identifikasi faktor risiko
      3. Identifikasi kontak erat
      4. Pengambilan spesimen di rumah sakit rujukan
      5. Penanggulangan awal

        Ketika penyelidikan sedang berlangsung petugas sudah harus memulai upaya- upaya pengendalian pendahuluan dalam rangka mencegah terjadinya penyebaran penyakit kewilayah yang lebih luas. Upaya ini dilakukan berdasarkan pada hasil penyelidikan epidemiologis yang dilakukan saat itu. Upaya-upaya tersebut dilakukan terhadap masyarakat maupun lingkungan, antara lain dengan:

        • Menjaga kebersihan/ hygiene tangan, saluran pernapasan.
        • Penggunaan APD sesuai risiko pajanan.
        • Sedapat mungkin membatasi kontak dengan kasus yang sedang diselidiki dan bila tak terhindarkan buat jarak dengan kasus.
        • Asupan gizi yang baik guna meningkatkan daya tahan tubuh.
          Apabila diperlukan untuk mencegah penyebaran penyakit dapat dilakukan tindakan isolasi dan karantina.
      6. Pengolahan dan analisis data
      7. Penyusunan laporan penyelidikan epidemiologi

Pencatatan dan Pelaporan

Setiap penemuan kasus baik di pintu masuk negara maupun wilayah harus melakukan pencatatan sesuai dengan formulir (terlampir) dan menyampaikan laporan. Selain formulir untuk kasus, formulir pemantauan kontak juga harus dilengkapi. Laporan disampaikan secara berjenjang hingga sampai kepada Dirjen P2P cq. PHEOC.

PHEOC:
Telp. 0877-7759-1097
Whatsapp 0878-0678-3906
Email: [email protected]

Penilaian Risiko

Berdasarkan informasi dari penyelidikan epidemiologi maka dilakukan penilaian risiko cepat meliputi analisis bahaya, paparan/kerentanan dan kapasitas untuk melakukan karakteristik risiko berdasarkan kemungkinan dan dampak. Hasil dari penilaian risiko ini diharapakan dapat digunakan untuk menentukan rekomendasi penanggulangan kasus 2019-nCoV. Penilaian risiko ini dilakukan secara berkala sesuai dengan perkembangan penyakit. Penjelasan lengkap mengenai penilaian risiko cepat dapat mengacu pada pedoman WHO Rapid Risk Assessment of Acute Public Health.