Pencegahan dan Pengendalian Infeksi nCoV-2019

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi nCoV-2019 merupakan bagian dari buku Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (nCoV-2019) dalam BAB IV. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi dalam Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (nCoV-2019) merupakan informasi awal atas COVID-19 yang sekarang sudah dideklarasikan menjadi Pandemi oleh WHO.

Akhir bulan Januari 2020 Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menerbitkan sebuah panduan yang berjudul Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCov). Novel Coronavirus saat ini terkenal dengan sebutan COVID-19 atau Corona Virus / Diseases 2019. Buku ini tebalnya 75 halaman dan menjadi dokumen resmi dari Kementerian Kesehatan dan Germas.

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi nCoV-2019 dalam Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (nCoV-2019) adalah bagian penting untuk menyelamatkan komunitas dan selain perlu diketahui petugas kesehatan, khalayak umum pun harus mengetahuinya untuk membantu kelancaran tugas pekerja kesehatan.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI
Pedoman Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (nCoV-2019)

Mengingat terbatasnya informasi penularan 2019-nCoV yang sampai saat ini belum diketahui maka strategi PPI digunakan untuk mencegah atau membatasi penularan infeksi dengan menerapkan kewaspadaan kontak, droplet dan airborne.

Prinsip Pencegahan Infeksi dan Strategi Pengendalian Berkaitan dengan Pelayanan Kesehatan

Mencegah atau membatasi penularan infeksi di sarana pelayanan kesehatan memerlukan penerapan prosedur dan protokol yang disebut sebagai “pengendalian”. Secara hirarki hal ini telah di tata sesuai dengan efektivitas PPI, yang meliputi pengendalian administratif, pengendalian dan rekayasa lingkungan serta APD.

Pengendalian administratif

Kegiatan ini merupakan prioritas pertama dari strategi PPI, meliputi penyediaan kebijakan infrastruktur dan prosedur dalam mencegah, mendeteksi, dan mengendalikan infeksi selama perawatan kesehatan. Kegiatan akan efektif bila dilakukan mulai dari antisipasi alur pasien sejak saat pertama kali datang sampai keluar dari sarana pelayanan.

Pengendalian administratif dan kebijakan-kebijakan yang diterapkan meliputi penyediaan infrastruktur dan kegiatan PPI yang berkesinambungan, pembekalan pengetahuan petugas kesehatan, mencegah kepadatan pengunjung di ruang tunggu, menyediakan ruang tunggu khusus untuk orang sakit dan penempatan pasien rawat inap, mengorganisir pelayanan kesehatan agar persedian perbekalan digunakan dengan benar, prosedur–prosedur dan kebijakan semua aspek kesehatan kerja dengan penekanan pada surveilans ISPA diantara petugas kesehatan dan pentingnya segera mencari pelayanan medis, dan pemantauan kepatuhan disertai dengan mekanisme perbaikan yang diperlukan.

Langkah penting dalam pengendalian administratif, meliputi identifikasi dini pasien dengan ISPA/ILI baik ringan maupun berat, diikuti dengan penerapan tindakan pencegahan yang cepat dan tepat, serta pelaksanaan pengendalian sumber infeksi. Untuk identifikasi awal semua pasien ISPA digunakan triase klinis. Pasien ISPA yang diidentifikasi harus ditempatkan di area terpisah dari pasien lain, dan segera lakukan kewaspadaan tambahan. Aspek klinis dan epidemiologi pasien harus segera dievaluasi dan penyelidikan harus dilengkapi dengan evaluasi laboratorium.

Pengendalian Lingkungan

Kegiatan ini dilakukan termasuk di infrastruktur sarana pelayanan kesehatan dasar dan di rumah tangga yang merawat pasien dengan gejala ringan dan tidak membutuhkan perawatan di RS. Kegiatan pengendalian ini ditujukan untuk memastikan bahwa ventilasi lingkungan cukup memadai di semua area didalam fasilitas pelayanan kesehatan serta di rumah tangga, serta kebersihan lingkungan yang memadai. Harus dijaga jarak minimal 1 meter antara setiap pasien dan pasien lain, termasuk dengan petugas kesehatan (bila tidak menggunakan APD). Kedua kegiatan pengendalian ini dapat membantu mengurangi penyebaran beberapa patogen selama pemberian pelayanan kesehatan.

Alat Pelindung Diri

Penggunaan secara rasional dan konsisten APD, kebersihan tangan akan membantu mengurangi penyebaran infeksi. Oleh karena itu jangan mengandalkannya sebagai strategi utama pencegahan. Bila tidak ada langkah pengendalian administratif dan rekayasa teknis yang efektif, maka APD hanya memiliki manfaat yang terbatas.

APD yang digunakan merujuk pada Pedoman Teknis Pengendalian Infeksi sesuai dengan kewaspadaan kontak, droplet, dan airborne.

Kewaspadaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

Kewaspadaan Standar

Kewaspadaan standar harus selalu diterapkan di semua fasilitas pelayanan kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang aman bagi semua pasien dan mengurangi risiko infeksi lebih lanjut. Kewaspadaan standar meliputi kebersihan tangan dan penggunaan APD untuk menghindari kontak langsung dengan sekret (termasuk sekret pernapasan), darah, cairan tubuh, dan kulit pasien yang terluka. Disamping itu juga mencakup: pencegahan luka akibat benda tajam dan jarum suntik, pengelolaan limbah yang aman, pembersihan, desinfeksi dan sterilisasi linen dan peralatan perawatan pasien, dan pembersihan dan desinfeksi lingkungan. Orang dengan gejala sakit saluran pernapasan harus disarankan untuk menerapkan kebersihan/etika batuk.

Petugas kesehatan harus menerapkan “5 momen kebersihan tangan”, yaitu: sebelum menyentuh pasien, sebelum melakukan prosedur kebersihan atau aseptik, setelah berisiko terpajan cairan tubuh, setelah bersentuhan dengan pasien, dan setelah bersentuhan dengan lingkungan pasien, termasuk permukaan atau barang-barang yang tercemar.

  • Kebersihan tangan mencakup mencuci tangan dengan sabun dan air atau menggunakan antiseptik berbasis alkohol.
  • Cuci tangan dengan sabun dan air ketika terlihat kotor.
  • Penggunaan APD tidak menghilangkan kebutuhan untuk kebersihan tangan.
    Kebersihan tangan juga diperlukan ketika menggunakan dan terutama ketika melepas APD.

Pada perawatan rutin pasien, penggunaan APD harus berpedoman pada penilaian risiko/antisipasi kontak dengan darah, cairan tubuh, sekresi dan kulit yang terluka. Ketika melakukan prosedur yang berisiko terjadi percikan ke wajah dan/atau badan, maka pemakaian APD harus ditambah dengan,

  • Pelindung wajah dengan cara memakai masker bedah dan pelindung mata/ eye-visor/kacamata, atau pelindung wajah, dan
  • Gaun dan sarung tangan bersih.

Pastikan bahwa prosedur-prosedur kebersihan dan desinfeksi diikuti secara benar dan konsisten. Membersihkan permukaan-permukaan lingkungan dengan air dan deterjen serta memakai disinfektan yang biasa digunakan (seperti hipoklorit) merupakan prosedur yang efektif dan memadai. Pengelolaan laundry, peralatan makan dan limbah medis sesuai dengan prosedur rutin.

Kewaspadaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Tambahan Ketika Merawat Pasien ISPA

Tambahan pada kewaspadaan standar, bahwa semua individu termasuk pengunjung dan petugas kesehatan yang melakukan kontak dengan pasien harus:

  • Memakai masker bedah ketika berada dekat (yaitu dalam waktu kurang lebih 1 meter) dan waktu memasuki ruangan pasien.
  • Membersihkan tangan sebelum dan sesudah bersentuhan dengan pasien dan lingkungannya dan segera setelah melepas masker bedah.

Kewaspadaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi pada Prosedur/ Tindakan Medik yang Menimbulkan Aerosol

Suatu prosedur/tindakan yang menimbulkan aerosol didefinisikan sebagai tindakan medis yang dapat menghasilkan aerosol dalam berbagai ukuran, termasuk partikel kecil (<5 mkm). Tindakan kewaspadaan harus dilakukan saat melakukan prosedur yang menghasilkan aerosol dan mungkin berhubungan dengan peningkatan risiko penularan infeksi, khususnya, intubasi trakea.

Tindakan kewaspadaan saat melakukan prosedur medis yang menimbulkan aerosol:

  • Memakai respirator partikulat (N95) ketika mengenakan respirator partikulat disposable, periksa selalu sealnya.
  • Memakai pelindung mata (yaitu kacamata atau pelindung wajah).
  • Memakai gaun lengan panjang dan sarung tangan bersih, tidak steril, (beberapa prosedur ini membutuhkan sarung tangan steril).
  • Memakai celemek kedap air untuk beberapa prosedur dengan volume cairan yang tinggi diperkirakan mungkin dapat menembus gaun.
  • Melakukan prosedur di ruang berventilasi cukup, yaitu di sarana-sarana yang dilengkapi ventilasi mekanik, minimal terjadi 6 sampai 12 kali pertukaran udara setiap jam dan setidaknya 60 liter/ detik/ pasien di sarana–sarana dengan ventilasi alamiah.
  • Membatasi jumlah orang yang berada di ruang pasien sesuai jumlah minimum yang diperlukan untuk memberi dukungan perawatan pasien.
  • Membersihkan tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungannya dan setelah pelepasan APD.

Kewaspadaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Ketika Merawat Pasien dalam Pengawasan dan Kasus Konfirmasi 2019-nCoV

Batasi jumlah petugas kesehatan, anggota keluarga dan pengunjung yang melakukan kontak dengan pasien dalam pengawasan atau konfirmasi terinfeksi 2019- nCoV.

  • Tunjuk tim petugas kesehatan terampil khusus yang akan memberi perawatan kepada pasien terutama kasus probabel dan konfirmasi untuk menjaga kesinambungan pencegahan dan pengendalian serta mengurangi peluang ketidakpatuhan menjalankannya yang dapat mengakibatkan tidak adekuatnya perlindungan terhadap pajanan.

Selain kewaspadaan standar, semua petugas kesehatan, ketika melakukan kontak dekat (dalam jarak kurang dari 1 meter) dengan pasien atau setelah memasuki ruangan pasien probabel atau konfirmasi terinfeksi harus selalu:

  • Memakai masker N95
  • Memakai pelindung mata (yaitu kacamata atau pelindung wajah)
  • Memakai gaun lengan panjang, dan sarung tangan bersih, tidak steril, (beberapa prosedur mungkin memerlukan sarung tangan steril)
  • Membersihkan tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungannya dan segera setelah melepas APD

Jika memungkinkan, gunakan peralatan sekali pakai atau yang dikhususkan untuk pasien tertentu (misalnya stetoskop, manset tekanan darah dan termometer). Jika peralatan harus digunakan untuk lebih dari satu pasien, maka sebelum dan sesudah digunakan peralatan harus dibersihkan dan disinfeksi. Petugas kesehatan harus menahan diri agar tidak menyentuh/menggosok–gosok mata, hidung atau mulut dengan sarung tangan yang berpotensi tercemar atau dengan tangan telanjang.

Tempatkan pasien dalam pengawasan, probabel atau konfirmasi terinfeksi 2019- nCoV di ruangan/kamar dengan ventilasi yang memadai dengan kewaspadaan penularan airborne, jika mungkin kamar yang digunakan untuk isolasi (yaitu satu kamar per pasien) terletak di area yang terpisah dari tempat perawatan pasien lainnya. Bila tidak tersedia kamar untuk satu orang, tempatkan pasien-pasien dengan diagnosis yang sama di kamar yang sama. Jika hal ini tidak mungkin dilakukan, tempatkan tempat tidur pasien terpisah jarak minimal 1 meter.

Selain itu, untuk pasien dalam pengawasan, probabel atau konfirmasi terinfeksi 2019-nCoV perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Hindari membawa dan memindahkan pasien keluar dari ruangan atau daerah isolasi kecuali diperlukan secara medis. Hal ini dapat dilakukan dengan mudah bila menggunakan peralatan X-ray dan peralatan diagnostik portabel penting lainnya. Jika diperlukan membawa pasien, gunakan rute yang dapat meminimalisir pajanan terhadap petugas, pasien lain dan pengunjung.
  • Memberi tahu daerah/unit penerima agar dapat menyiapkan kewaspadaan pengendalian infeksi sebelum kedatangan pasien.
  • Bersihkan dan disinfeksi permukaan peralatan (misalnya tempat tidur) yang bersentuhan dengan pasien setelah digunakan.
  • Pastikan bahwa petugas kesehatan yang membawa/mengangkut pasien harus memakai APD yang sesuai dengan antisipasi potensi pajanan dan membersihkan tangan sesudah melakukannya.

Durasi Tindakan Isolasi untuk Pasien dalam Pengawasan dan Kasus Konfirmasi 2019-nCoV

Lamanya masa infeksius 2019-nCoV masih belum diketahui. Disamping kewaspadaan standar yang harus senantiasa dilakukan, kewaspadaan isolasi juga harus dilakukan terhadap pasien dalam pengawasan dan konfirmasi 2019-nCoV sampai hasil pemeriksaan laboratorium rujukan negatif.

Perawatan di Rumah (Isolasi Diri) Orang dalam Pemantauan

Mengingat bukti saat ini yang masih sangat terbatas mengenai infeksi 2019-nCoV dan pola penularannya maka dalam pengawasan 2019-nCoV dilakukan dan dipantau di rumah sakit. Namun, untuk kasus dalam pemantauan diberikan perawatan di rumah (isolasi diri) dengan tetap memperhatikan kemungkinan terjadinya perburukan. Bila gejala klinis mengalami perburukan maka segera memeriksakan diri ke fasyankes.

Pemantauan kasus dalam pemantauan ini dilakukan oleh petugas kesehatan layanan primer dengan berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat. Petugas melakukan pemantauan kesehatan terkini melalui telepon namun idealnya dengan melakukan kunjungan secara berkala (harian). Pasien diberikan edukasi untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) meliputi:

  • Melakukan kebersihan tangan rutin, terutama sebelum memegang mulut, hidung dan mata; serta setelah memegang instalasi publik.
  • Mencuci tangan dengan air dan sabun cair serta bilas setidaknya 20 detik. Cuci dengan air dan keringkan dengan handuk atau kertas sekali pakai. Jika tidak ada fasilitas cuci tangan, dapat menggunakan alkohol 70-80% handrub.
  • Menutup mulut dan hidung dengan tissue ketika bersin atau batuk.
  • Ketika memiliki gejala saluran napas, gunakan masker dan berobat ke fasyankes.

Perawatan Terhadap Tatalaksana Kontak

Penularan 2019-nCoV dari manusia ke manusia saat ini sudah terkonfirmasi oleh WHO namun bukti epidemiologinya masih terbatas maka dilakukan pemantauan kontak untuk mewaspadai munculnya gejala yang sama. Orang-orang termasuk petugas kesehatan yang mungkin terpajan dengan pasien dalam pengawasan atau konfirmasi infeksi 2019-nCoV harus disarankan untuk memantau kesehatannya selama 14 hari sejak pajanan terakhir dan segera mencari pengobatan bila timbul gejala terutama demam, batuk diserta gejala gangguan pernapasan lainnya.

Selama proses 14 hari pemantauan, harus selalu proaktif berkomunikasi dengan petugas kesehatan. Petugas kesehatan melakukan pemantauan kesehatan terkini melalui telepon namun idealnya dengan melakukan kunjungan secara berkala (harian). Bila selama dalam masa pemantauan, petugas kesehatan menemukan kasus kontak mengalami sesuai definisi dalam pengawasan 2019-nCoV maka disarankan untuk mengunjungi fasyankes terdekat.

Petugas sebaiknya memberi saran-saran mengenai kemana mencari pertolongan bila kontak mengalami sakit, moda transportasi apa yang sebaiknya digunakan, kapan dan kemana unit tujuan di sarana kesehatan yang telah ditunjuk serta kewaspadaan apa yang dilakukan dalam pencegahan dan pengendalian infeksi.

Fasyankes yang akan menerima harus diberitahu bahwa akan datang kontak yang mempunyai gejala infeksi 2019-nCoV. Ketika melakukan perjalanan menuju sarana pelayanan rujukan, pasien harus menggunakan APD lengkap. Sebaiknya menghindari menggunakan transportasi umum. Jika kontak yang sakit menggunakan mobil sendiri, bila mungkin bukalah jendelanya. Kontak sakit disarankan untuk melakukan kebersihan pernapasan serta sedapat mungkin berdiri atau duduk jauh (> 1 meter) dari orang lain ketika sedang transit dan berada di sarana kesehatan. Kontak sakit dan petugas yang merawat harus melakukan kebersihan tangan secara benar. Setiap permukaan peralatan yang menjadi kotor oleh sekret pernapasan atau cairan tubuh ketika dibawa, harus dibersihkan dengan menggunakan pembersih rumah tangga atau larutan pembersih.

Pemulasaran Jenazah

Langkah-langkah pemulasaran jenazah pasien terinfeksi 2019-nCoV dilakukan sebagai berikut:

  1. Petugas kesehatan harus menjalankan kewaspadaan standar ketika menangani pasien yang meninggal akibat penyakit menular.
  2. APD lengkap harus digunakan petugas yang menangani jenazah jika pasien tersebut meninggal dalam masa penularan.
  3. Jenazah harus terbungkus seluruhnya dalam kantong jenazah yang tidak mudah tembus sebelum dipindahkan ke kamar jenazah.
  4. Jangan ada kebocoran cairan tubuh yang mencemari bagian luar kantong jenazah.
  5. Pindahkan sesegera mungkin ke kamar jenazah setelah meninggal dunia.
  6. Jika keluarga pasien ingin melihat jenazah, diijinkan untuk melakukannya sebelum jenazah dimasukkan ke dalam kantong jenazah dengan menggunakan APD.
  7. Petugas harus memberi penjelasan kepada pihak keluarga tentang penanganan khusus bagi jenazah yang meninggal dengan penyakit menular. Sensitivitas agama, adat istiadat dan budaya harus diperhatikan ketika seorang pasien dengan penyakit menular meninggal dunia.
  8. Jenazah tidak boleh dibalsem atau disuntik pengawet.
  9. Jika akan diotopsi harus dilakukan oleh petugas khusus, jika diijinkan oleh keluarga dan Direktur Rumah Sakit.
  10. Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi.
  11. Jenazah hendaknya diantar oleh mobil jenazah khusus.
  12. Jenazah sebaiknya tidak lebih dari 4 (empat) jam disemayamkan di pemulasaraan jenazah.