Posted by ladangkata on March 28, 2014
 

I have become a housewife and there is no better job. (Quote by - Celine Dion)

Lepas kuliah, saya mulai berkenalan dengan dunia profesi. Di usia sedewasa itu, saya tak pernah menetapkan harus menggeluti profesi apa. Saya hanya merasakan dan membiarkan semuanya mengalir dengan mengambil kesempatan-kesempatan yang lewat di depan saya. Mungkin karena membiarkannnya mengalir sebegitu rupa, maka saya pun menyelami beberapa kali pergantian profesi dan pekerjaan.

Pekerjaan pertama saya adalah seorang jurnalis tabloid gosip. Pekerjaan kedua adalah copywriter. Kesempatan selanjutnya membawa saya menjadi editor sebuah terbitan berbahasa Inggris. Langkah berikutnya, saya ‘tersesat’ sebagai Public Relation selama hampir empat tahun. Dan pekerjaan terakhir saya di dunia jurnalistik adalah Chief Editor di sebuah majalah pariwisata, sementara pekerjaan formal terakhir saya adalah seorang Produser di sebuah Production House. Semuanya memang tak lepas dari dunia komunikasi dan promosi. Itu semua tanpa target, saya hanya mengamini kesempatan yang ada. Hanya pekerjaan pertama yang menggunakan lamaran pekerjaan. Pekerjaan selanjutnya adalah tawaran yang datang dari kawan-kawan sekitar.

 Lalu tibalah saat saya tercerahkan akan satu hal, menjalani profesi tak melulu harus berkutat di kantor. Kesadaran ini memijar dalam pikiran saya pada tahun 2006. Dan di tahun itu pula lah saya memutuskan untuk melepaskan dunia profesi kantor dan mencari profesi di luar ruang-ruang kaca, meninggalkan cublicle dan tak terikat dengan jam-jam kantor. Menjadi ghost writer yang berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya, menjadi penulis novel, menjadi mentor yang berhubungan dengan dunia tulis menulis membuat saya hingga sekarang setia dengan satu profesi: penulis.

Dibalik semua pergantian profesi yang saya jalani, muncul pula sebuah kesadaran, ada satu profesi yang tetap lekat dalam setiap gerak saya, ibu rumah tangga. Hei, apakah ibu rumah tangga masuk kategori profesi? Jika yang dimaksud profesi adalah sebuah pekerjaan yang mendapatkan imbalan setelah pekerjaan itu selesai, maka ibu rumah tangga justru jauh dari itu. Ibu rumah tangga adalah sebuah pekerjaan yang tak berkesudahan. Kau akan mendapatkan imbalannya, berupa kebahagianmu melihat seluruh anggota keluarga menjalani hidup tanpa kekurangan, melihat senyum suami dan anak-anakmu dalam rumah yang kau organisir sedemikian rupa, dan melihat anak-anakmu tumbuh dengan sehat dan memperoleh mimpi-mimpinya. 

Sama seperti profesi lainnya, ibu rumah tangga menuntut kehadiran, memintamu memutar otak dan berstrategi agar organisasi keluarga berjalan dengan baik. Ibu rumah tangga juga mengenal jenjang kenaikan. Pertama, istri tanpa anak, lalu naik menjadi ibu dengan satu anak, dua anak, ibu dengan anak remaja, bahkan hingga menjadi nenek. Semua jenjang memiliki kualitas dan pembelajaran masing-masing. Mulai bangun hingga hendak tidur lagi, ibu rumah tangga tak berhenti menjalankan perannya. Pekerjaan mana yang sanggup seperti itu?

Saya tak bermaksud mengecilkan makna ibu rumah tangga dengan menjadikannya sekadar sebuah pekerjaan atau profesi. Karena yang sebenarnya ia jauh lebih besar daripada sebuah pekerjaan. Saya, yang semula menjalani profesi di kantor, harus terkapah-kapah ketika di hadapan saya, sebuah tanggung jawab menjadi ibu rumah tangga harus saya genggam. 

Tradisi Indonesia, tak ada yang secara spesifik menyiapkan seorang perempuan dewasa memasuki dunia profesi di kantor. Tetapi, dalam tradisi itu diajarkan seorang perempuan untuk melakukan persiapan ketika hendak menjadi ibu rumah tangga. “Profesi” ini didukung oleh budaya. Ini memperlihatkan pentingnya peran ibu rumah tangga. 

Di Jawa, seorang perempuan, sebelum menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, disiapkan sebagai orang yang bangun paling pagi dan tidur paling malam. Diwejangi sebagai seorang yang mampu menjaga rahasia keluarga, dan tak ada dalam kamus tradisi Jawa, seorang perempuan menjadi manja. Perempuan Jawa dididik untuk menjadi kuat, psikis dan fisiknya untuk kelangsungan kehidupan rumah tangga. Di posisi yang seperti ini, ibu rumah tangga di Jawa, justru bukan dialeniasi. Ia berperan sentral dalam sebuah organisasi keluarga. Ia adalah jendral dalam sebuah rumah yang memberikan dampak pada kegiatan anggotanya di luar rumah. 

Banyak aku temui, perempuan-perempuan yang sukses dalam profesi publik mereka, menjadi kewalahan ketika dituntut menjadi full time ibu rumah tangga. Mereka lebih suka bermain strategi bagaimana menjual sebuah produk ketimbang berpikir tentang masak apa hari ini. Mereka lebih suka berkejaran dengan target-target perusahaan ketimbang bersimbah keringat membersihkan rumah. Profesi di kantor bisa saja berubah-ubah, seperti yang saya alami. Tetapi menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah kesadaran yang abadi. 

Jogja, 28 Maret 2014

LadangKata

LadangKata adalah penulis, mengabadikan semesta melalui fotografi, pejalan kehidupan yang memetik bunga untuk mewangikan rumah abadinya kelak, cinta pada hitam, not perfect but limited edition)