Jogloabang dan Merapi

Jogloabang Community, bekerjasama dengan berbagai pihak yang peduli bencana Merapi, merespon dengan kekuatan yang ada untuk membantu para pengungsi yang akhirnya berada berdekatan dengan lokasi dimana Jogloabang berada. Dimulai ketika sejak status merapi beranjak ke status "awas", secara mandiri rekan-rekan bergabung dengan sebuah jaringan relawan 'jalin merapi' untuk meenyumbangkan tenaganya kepada masyarakat di sekitar lereng merapi. Jalin Merapi gabungan relawan datang tak diundang pergi tak diantar, menelisik dan kesana kemari untuk mempercepat akses informasi hingga apapun yang bisa dijangkau dengan semangat kerelawanan yang patut diacungi jempol. Tanpa harus mendirikan umbul-umbul hingga papan nama posko yang mencuri pandangan mata di jalan-jalan. Pentas kemarahan Merapi semakin membuat kalangkabut banyak orang ketika suara gemuruh dan dentuman demi dentuman eksotisnya dipadu dengan ujan abu hingga pasir bahkan beberapa kerikil panas menjangkau hingga luas yang menyebabkan kawasan rawan bencana diperluas hingga menjadi 20 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Ditambah lagi dengan terjangan awan panas dan lava pijar yang menjangkau hingga 16 kilometer dari puncak di Kali Gendol serta meluluhlantakan desa-desa atau apapun yang dilaluinya. Meski pada erupsi pertama pada tanggal 26 Oktober 2010 sore sudah merenggut juru kunci merapi Mbah Marijan sang Samurai Jawi, beserta kampung Kinarejo. Dan pada erupsi-erupsi selanjutnya membuat BNPB dan PVBMG melebarkan kawasan rawan bencana menjadi 20 kilometer yang tentunya menyebabkan pindahnya barak-barak pengungsian dan bertambahnya jumlah pengungsi menjadi ratusan ribu jiwa. Meski perhitungan seperti tersebut dan menutup wilayah kawasan rawan bencana dengan sangat ketat menyebabkan pengungsian secara mendadak tanpa persiapan, keadaan ini menjadikan Jogloabang berada di wilayah yang dekat dengan kawasan rawan bencana, dan eksodus posko relawan yang juga harus keluar dari wilayah rawan bencana. Secara otomatis para relawan yang kenal baik dan harus selalu siap dengan agendanya dengan sukarela berposko di Jogloabang menjadikan posko ini ramai dan sedia 24 jam nonstop untuk para pengungsi di sekitar yang terjangkau, meski tidak menutup kemungkinan distribusi bantuan menjangkau wilayah Muntilan dan Magelang, apalagi dengan bantuan relawan dan inisiatif pengungsi sendiri yang mau mengambil barang-barang yang diperlukannya di Jogloabang, meski sangat terbatas, hingga harus bijaksana dalam mendistribusikannya. Bekerja bareng dengan aktivis Syarikat Indonesia membangun dan menjaga posko ini, juga dengan kesigapan dan inisiatif demi kemanusiaan jaringan blogger Jogloabang Peduli pun berdatangan menjaga dan mendistribusikan apa yang ada demi kepentingan darurat pengungsi diantaranya adalah Totok Gunungkelir, Daniel Mahendra, Kika Syafii, Senoaji, Pradna dan sumbangan dari rekan-rekan yang peduli lainnya yang belum bisa disebutkan satu persatu. Pada minggu pertama ini relawan yang bergerak dari Jogloabang adalah dari rekan-rekan STIE Perbanas Jakarta, Alurkriya, dan Pro Fauna, yang dengan kemampuannya beserta logistik mandirinya bergerak bersama dari sini. Juga bantuan logistik khusus untuk anak dari Sekolah Bintang Bangsaku, jaringan pegiat mobil 4x4 hingga majalah Go Girls, menambah persediaan logistik untuk disalurkan ke barak-barak pengungsian terdekat dan para pengungsi swadaya yang berada di sekitar Jogloabang. Posko Jogloabang untuk merapi Posko Jogloabang untuk merapi Posko Jogloabang untuk merapi Posko Jogloabang untuk merapi Posko Jogloabang untuk merapi Posko Jogloabang untuk merapi Entah sampai kapan posko Jogloabang Peduli ini berdiri dukungan apapun akan sangat berarti demi meringankan beban para pengungsi Merapi.