Avatar suryaden
Posted by suryaden

Linimas(s)a adalah sebuah film dokumenter tentang media sosial di Indonesia. Entah risetnya macam apa namun tentunya ini sebuah suguhan segar bagi produksi kreatif insan film dan para pemerhati sosial di Indonesia. Sangat banyak persitiwa dan prestasi bangsa ini terhadap penggunaan tehnologi informasi, meski dinafikan, tidak dianggap ada ataupun diberikan sesuatu yang memadai bagi perkembangan ICT di negara ini. Namun bagaimanapun warga negara tetap berusaha untuk bersaing dan menggunakan bermacam tehnologi yang tepat dan berguna bagi kehidupan dan perjuangannya.

Terlepas dari apapun keberhasilan demi keberhasilan pengguna ICT di Indonesia adalah dengan perjuangannya sendiri. Tidak bisa dengan semena-mena diklaim oleh partai atau keberhasilan kabinet tertentu, karena penggunaan dan penerbitan bermacam kebijakan tentang Informasi dan tehnologi disini selalu saja penuh dengan larangan dan denda. Tidak ada itu namanya sokongan dan dorongan yang selalu termaktub dalam pernyataan awalan berbagai undang-undang di Indonesia yaitu :

bahwa pembangunan nasional adalah suatu proses yang berkelanjutan yang harus senantiasa tanggap terhadap berbagai dinamika yang terjadi di masyarakat

Makna tanggap dalam kata-kata diatas bisa jadi bermakna sangat bersayap, sangat ganda, sebagaimana biasanya, tanggapan dari pemerintah selalu saja membuat sesuatu tidak tumbuh dan malah mati. Banyak contoh semisal dengan pasar non-formal yang selalu dihakimi sebagai kakilima liar, kerumunan tak berpajak untuk kemudian ditanggapi dan diatur menjadi sebuah pasar resmi, ditempat yant ditentukan, dan sebagainya,... dan hasilnya, banyak bangunan pusat bisnis yang hanya menjadi kandang tikus dan tidak laku.

Bagaimana bisa mensejahterakan ketika seorang anak bangsa dengan modal seadanya berjualan di pinggir jalan tanpa status namun memberikan jasa kemudahan dengan mengantarkan komoditi ke pembelinya, malah di hancur leburkan harapannya, sementara negara tidak memiliki solusi apapun untuk pengangguran dan orang yang berpendidikan hanya semampunya saja.

Media sosial bisa menjembatani hal tersebut karena akses keterbukan dan individu bisa menuliskan dalam data dirinya mengenai kemampuan ataupun sesuatu apa yang pernah menjadi prestasi menurut dia sendiri. Deal-deal antar individu bisa terjalin bahkan lintas administratif negara seperti yang terjadi pada mas Harry Van Jogja dengan Facebooknya. Siapa yang diuntungkan dan siapa yang meraup keuntungan lebih banyak selain administratur negara yang mendapatkan banyak dari bea masuk ataupun pajak yang tentusaja melebihi pendapatan mas Harry Van Jogja. Dengan catatan huruf tebal, merah, digarisbawahi seperti ini TIDAK DIKORUPSI.

Belum lagi sumbangan blogger bengawan kepada para difabel yang sangat embuh jika dilakukan pemerintah. OBSAT, BFL dengan perjuangan dan perspektifnya. Ataupun Jalin Merapi yang tidak ikut protes ketika bantuan dan uang ganti rugi yang dikoar-koarkan oleh pemerintah tentang sapi yang menjadi korban erupsi merapi. Mereka dengan rela datang tak diundang pulang tak diantar, menjadi relawan semata menyumbangkan apa yang bisa disumbangkan kepada korban dan keadaan kritis seperti ini, dimana semua orang berduka dan harus melakukan sesuatu tanpa harus menunggu apakah presiden prihatin atau tidak. Dan cilakanya ketika presiden prihatin itu tidak mendatangkan rezeki bagi rakyat namun memberikan badai yang lebih keras sebagaimana kenaikan pajak ataupun BBM ataupun hal yang lainnya. Sebuah makna dari kata prihatin yang sangat salah dalam koridor bahasa Jawi.

Entah apa maksud dan konsep film Linimas(s)a apakah hanya berkampanye untuk kesehatan internet agar menjadi internet sehat, penggunaan IT yang bermanfaat atau memiliki perspektif yang lain silahkan saja simak sendiri filmnya, yang dibuat memang untuk mengajak kita semua berpikir tentang apa yang sudah terjadi dan berhasil terekam dalam sebuah dokumentasi.