Avatar suryaden
Posted by suryaden on November 15, 2012
Poster Kompetisi Film Pasar Sehat untuk Konsumen Sehat

Lomba film pendek bertema pasar sehat untuk konsumen sehat, boleh dengan segala alat penangkap gambar bergerak yang dipunyai. Dari alat yang paling sederhana hingga yang memiliki standar broadcasting dipersilahkan untuk dipergunakan dalam melakukan adu informasi tentang pasar yang sehat. 

Lomba karya film ini terbuka untuk umum, dipersilakan membuka tautan pranala ini yang menuju ke web suara komunitas sebagai penyelenggara lomba film pendek bertema Pasar Sehat untuk Konsumen Sehat. Adapun caranya sangat mudah, tinggal unduh form pendaftaran, buat film sesuai tema yang disediakan dan kemudian dikirimkan ke sekretariat Suara Komunitas di kantornya.

Semoga saja tulisan pendek versi resmi keluaran panitia lomba ini bisa menantang kreatifitas dan kegalauan anda untuk membuat film tentang pasar, konsumen, kebersihan dan kesehatan. Memang apa yang membuat kita sakit dan sehat adalah salah satunya adalah apa yang kita konsumsi. Namun jangan lupa bahwa apa yang kita konsumsi tidak datang secara tiba-tiba namun dengan proses yang panjang dan melibatkan banyak tangan, tempat dan tentu saja 'VIRUS'.

Kompetisi Film Dokumenter "Pasar Sehat untuk Konsumen Sehat" 
 
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada survey 2010 menyebut lebih dari 50% pasar yang berada di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) terinfeksi virus flu burung (H5N1). Temuan tersebut membuat waswas karena 85% (65% konsumen dan 25% pedagang) dari total penduduk Indonesia bersentuhan langsung dengan pasar (baca: pasar tradisional). Apalagi jika menilik kenyataan bahwa pasar adalah gebang terakhir sebelum pangan masuk ke rumah tangga. 
 
Umumnya virus flu burung tidak menyerang manusia secara langsung. Tetapi lantaran menyandang jenis penyakit zoonosis, virus flu burung bisa menyerang hewan juga manusia. Nyaris semua kasus flu burung terjadi karena sebelumnya ada kontak langsung atau tidak langsung antara manusia dengan unggas yang mati karena virus flu burung. Dari 15 negara yang terdeteksi dengan virus flu burung, Indonesia berada di peringkat pertama untuk jumlah kasusnya. 
Virus Flu Burung pertama kali ditemukan pada unggas di Indonesia pada Agustus 2003. Namun Indonesia baru menyatakan secara resmi pada bulan Februari 2004. Saat itu sudah ada 11 provinsi yang terjangkit Flu Burung. Baru kemudian vaksinasi pada unggas diijinkan.
 
Juli 2005 Flu Burung menyerang orang Indonesia pertama kali. Pada saat itu tidak bisa ditentukan dari mana sumber penularannya. Lima bulan setelah kasus pertama, kasus Flu Burung terhadap manusia meningkat tajam menjadi 25 kasus. Sebanyak 13 di antaranya berakhir dengan kematian.
 
Kemunculan virus Flu Burung yang kemudian menyerang manusia makin memperpuruk keadaan pasar tradisional yang terus mendapat saingan ketat ritel. Sudah menjadi rahasia umum jika kini nasib pasar tradisional kini terus menurun. Fenomena tersebut bisa dilacak lewat makin menjamurnya pertumbuhan ritel atau pasar modern. 
 
Sampai 2008, Economic Review melansir 10.289 minimarket, 1.447 supermarket, dan 130 hypermarket di seluruh Indonesia. Untuk kelompok minimarket, persaingannya dikuasi oleh hanya dua pemain besar: Indomaret dan Alfamart masing-masing dengan omset Rp 7,6 dan Rp 7,3 triliyun. Sedangkan untuk supermarket dikuasai oleh Hero-Giant dan Carrefour, dan hypermaket oleh Carrefour. 
 
Kemunduran pasar tradisional karena gempuran pasar modern yang menerapkan sisitem franchise (memungkinkan ekspansi wilayah tanpa perlu mengeluarkan investasi besar) juga terlihat dari kian banyaknya kios-kios pasar yang gulung tikar. Di Jakarta saja, sebanyak 90% dari 11 pasar kiosnya pada gulung tikar. Sementara itu, dari 5 pasar tradisional yang tersebar di Tangerang, Depok, dan Bekasi, sebanyak 57% kiosnya tutup. 
 
Reaksi pemerintah atas kemunduran pasar tradisional sampai saat ini belum cukup. Praktis yang hanya menolong pasar tradisional hanyalah legislasi yang membatasi gerak pasar modern (ritel) untuk meluaskan pangsa pasarnya. Akan tetapi, perihal krusial yang dihadapi pasar tradisional, seperti kebersihannya masih belum menjadi prioritas perhatian pemerintah. 
 
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menduga ditinggalnya pasar tradisional oleh pelanggannya lantaran kondisi pasar tradisional itu sendiri. Menurut Kemenkes, pasar tradisional kerap tidak membuat nyaman pengunjung.
 
Pasar tradisional identik dengan kekumuhan, beraroma tidak sedap, becek, juga pengap. Pelbagai macam hewan sumber penular penyakit juga sering dijumpai seperti kecoa, lalat, dan tikus. Kenyataan tersebut memberikan konsekuensi logis-psikologis terhadap pembeli, untuk lebih baik berbelanja di pasar modern yang jauh lebih bersih dan higienis kendati harganya sering lebih mahal ketimbang harus menggadaikan kesehatan ketika berbelanja di pasar tradisional.
 
Sebenarnya sudah sejak 2007 Pemerintah mendorong banyak pasar tradisional menjadi pasar sehat. Dukungan Pemerintah tersebut tersurat dari tiga aturan yang dikeluarkan yaitu Peraturan Presiden Nomor 112 tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern; Keputusan Menteri Kesehatan No. 519/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat; dan Kepmenkes No. 519/2008 tentang Tujuan Penyelenggaraan Pasar Sehat. 
 
Selain dukungan pada tataran aturan, pemerintah melalui bantuan luar negeri sebenarnya juga telah merintis banyak pasar sehat percontohan di beberapa wilayah Indonesia. Selama rentang 2009-2011, Kemenkes telah mendorong 10 pasar sehat percontohan di 9 provinsi. Kemudian pada 2012 ditambah lagi di delapan lokasi. Akan tetapi, bila melihat masih banyak kondisi pasar tradisional yang jauh dari kata bersih dan higienis, program-program pemerintah tersebut tentulah belum cukup sama sekali. 
 
Untuk itu, perlu digalakkan adanya kerjasama menyeluruh antara masyarakat mewujudkan pasar sehat bagi pasar tradisional. Ada dua keuntungan sekaligus yang dapat dipetik dalam upaya menciptakan pasar sehat. Pertama, tentu saja sebagai motivasi awal, adalah membebaskan pasar dari keterjangkitan terhadap penyakit yang mematikan, terutama Flu Burung. Kedua, sekaligus menjadi bonus, dengan terciptanya pasar tradisional yang sehat, turut membantu para pelaku pasar tradisional bisa bersaing dengan pasar modern yang cenderung punya kekuatan modal melimpah. 
 
Suarakomunitas (dot) net bersama dengan filmpelajar (dot) com dan bloggernusantara (dot) com mengundang Anda sekalian (pelajar, mahasiswa, atau umum) untuk turut berpartisipasi mendorong kampanye "Pasar Sehat untuk Konsumen Sehat". Partisipasi Anda melalui film dokumenter sangat dibutuhkan sebagai bagian dari kampanye penyadaran terhadap pelaku pasar tradisional (pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola pasar, pedagang, sampai pembeli) bahwa kebutuhan akan Pasar Sehat adalah mutlak adanya. Jadilah bagian dari kampanye "Pasar Sehat untuk Konsumen Sehat".