Posted by ladangkata on April 05, 2014
Permpuan dan Tradisi

 Kita lebih banyak mempercakapkan tentang perempuan di waktu kini dibanding dengan kisah tentang perempuan di abad–abad yang silam.  Seakan perempuan di masa lalu seperti potret buram kekuningan yang mulai pudar dikerat waktu. Gegar gender  masih menjadi wacana paling menarik untuk diperbincangan dalam menyikapi peran perempuan. Bagaimana perempuan berbagi peran dengan laki-laki dan bagaimana ia menjalani kodrat tubuh, serta panggilan jiwanya untuk beraktualisasi, seperti kain panjang yang tak pernah putus. Kali ini, biarlah saya tak menyentuh laju kain panjang itu, namun  sedikit menengok ke belakang. Mendedah perihal perempuan di ranah tradisi yang ternyata di antara detak waktu, ikut menjaga dan mengawal keperempuanan perempuan.

Dalam tulisan sebelumnya, saya menyoal tentang ibu rumah tangga sebagai profesi tanpa henti.  Bagaimanapun peran perempuan dalam sektor publik, ketika ia telah menikah, ia tak bisa lepas dari posisi sebagai jenderal dalam sebuah rumah, ibu rumah tangga.  Peran ibu rumah tangga di sini bisa dalam arti yang konvensional maupun dalam konteks kesepakatan bersama dengan pasangannya. Silakan pilih. Jadi, ia tak lepas sebagai individu, ia pula tak lepas sebagai bagian dari komunitas masyarakat yang punya peran tawar di hadapan orang lain.

Masih di tulisan sebelumnya itu, saya menyinggung sedikit tentang tradisi yang diperkenalkan dalam keluarga untuk menyiapkan seorang perempuan Jawa menjadi batu karang kukuh sekaligus samudera luas yang menampung segala yang tiba di muaranya.  Kali ini, saya ingin kembali menengok tradisi-tradisi Nuswantara yang sangat lekat dengan kehidupan perempuan dan bahkan menurut saya, makna filosofisnya adalah mengagungkan perempuan dalam putaran kehidupan. Dalam tulisan ini, saya tertarik untuk mengangkat dua tradisi dengan konsep yang berlawanan: matrilineal dan patrilineal.

Saya mulai dengan tradisi matrilineal yang masih hidup di Nuswantara, Minangkabau. Perempuan-perempuan Minangkabau berdiri tegap menjaga tradisi sementara para laki-lakinya lebih banyak merantau. Mereka berhak tinggal di rumah utama dan memiliki suara yang paling didengar dalam pengambilan keputusan keluarga. Meskipun budaya matrilineal ini  masih harus bersanding dengan syariat Islam yang sangat patriarkhi, namun nada-nada budaya dan tradisi tetap bersenandung di semesta Minangkabau.

Ujian berat perempuan Minangkabau adalah menyanggah suntiang dalam pernikahannya. Dulu, suntiang ini dibuat dari bahan emas dan berkisar memiliki berat 15 kilogram. Sekarang, demi alasan yang pragmatis, suntiang dibuat lebih ringan, berkisar antara 3-5 kilogram. Beratnya suntiang merupakan sebuah makna simbolis sebagai beratnya tugas perempuan dalam keluarga dan kehidupan. Keberhasilan menahan suntiang tetap di kepala hingga pernikahan usai dianggap perlambang berhasilnya ujian pertama perempuan menuju kedewasaan.  Karena, bagi perempuan Minangkabau, pernikahan adalah transisi kehidupan  yang sangat penting.

Garis keturunan yang diambil dari garis ibu, mendorong perempuan-perempuan Minangkabau dalam posisi mempertahankan kehormatan keluarga dalam gempuran apapun. Perempuan-perempuan Minangkabau, dalam menjalankan peran sebagai mande, pusat dari segala kelahiran dan keturunan, juga dituntut untuk memiliki pemikiran yang terbuka. Ketika laki-laki Minangkabau  dilahirkan sebagai organisatoris, maka perempuan Minangkabau terlahir dengan predikat sebagai pemilik semua harta, benda dan segala yang ia peroleh secara turun-temurun.

Menariknya, di kebudayaan yang feodal , patriarkis dan sangat sinkretik seperti Jawa ternyata beberapa diantaranya mengandung konsep yang juga menjunjung tinggi luhurnya perempuan. Ia tak melulu menempatkan perempuan sebagai kanca wingking. Dalam tradisi rumah Jawa, pendopo disyaratkan untuk laki-laki sedangkan ndalem untuk perempuan. Area ndalem dalam sebuah rumah Jawa adalah ruang yang sakral, karena di sana  rentetan kehidupan berjalan, dimana prosesi pernikahan, kelahiran dan kematian diletakkan. Di sini para perempuan Jawa tinggal, sementara laki-laki ditempatkan di gandhok, sebuah area yang justru ada di luar ruang utama sebuah rumah. Secara simbolik, area ndalem adalah sebuah jantung yang memberikan detak kehidupan.

Dalam tradisi Jawa juga, tak terbilang perempuan-perempuan yang dikisahkan dalam babad sebagai pemimpin politik, Ratu Shima salah satu contohnya, Ratu Kalinyamat dengan dendamnya yang sanggup meminta Adipati Pajang membunuh Arya Penangsang atau keluhuran Dewi Sri sebagai sesembahan yang paling dimuliakan di Jawa. Bahkan di Serat Centhini, gubahan Pakubuwono V, para tokohnya Jayengresmi dan Niken Tambangraras digambarkan memiliki kesetaraan gender.  

Masih banyak kisah dari tradisi yang melibatkan perempuan sebagai bumi, sebagai pusat dan sebagai ruang sakral dalam kehidupan. Dengan posisi demikian, jangan dipandang ia justru bisa dikesampingkan dan ditempatkan di ruang kaca. Filosofi tradisi jauh lebih dalam maknanya dari itu. Coba pikirkan, dalam tradisi, ternyata kesetaraan dan pembagian peran telah ada. Secara fisik, laki-laki memang lebih kuat, karena itu tradisi mendorong perempuan memiliki peran yang tak kalah hebatnya.  Ini hanya sekadar cuilan tentang tradisi dan perempuan.

Dan dari sepotong ini saya ingin menutup tulisan saya dengan sebuah fakta: Siapa penguasa tertinggi di Jawa dalam pemahaman budaya Nuswantara? Ia sering disebut sebagai Nyai Roro Kidul. Seorang perempuan.

 

Jogja, 5 April 2014

Ladangkata

 LadangKata adalah penulis, mengabadikan semesta melalui fotografi, pejalan kehidupan yang memetik bunga untuk mewangikan rumah abadinya kelak, cinta pada hitam, not perfect but limited edition)