Avatar jogloabang
Posted by jogloabang on October 15, 2014
Jokowi dan Sri Lestari

Sri Lestari seorang paraplegia akhirnya dapat bertemu dengan presiden Jokowi di Balaikota Jakarta. Sri Lestari yang panggilan akrabnya Tari melakukan perjalanan panjang sejauh lebih dari 3000 kilometer dari 0 kilometer di Sabang menuju Jakarta yang ditempuh selama sebulan.

Terungkap dalam pembicaraan bersama pak Jokowi bahwa kebutuhan kursi roda di Indonesia kira-kira sebesar 2.5 juta menurut data yang dinmiliki oleh United Cerebral Palsy. Pantas saja Presiden kaget, karena memang tidak ada data pasti yang dimiliki oleh pemerintah dan pertanyaan mendasar dari Presiden Jokowi adalah berapa bantuan dari pemerintah Pusat?.

Hal ini disampaikan Joko Widodo kepada wartawan, usai menerima rombongan Sri Lestari di Balai Kota (13/10). Sri lestari adalah penyandang paraplegia yang melakukan perjalanan lintas Sumatra sejak 4 September 2014 lalu. Dimulai dari Titik Nol di Kota Sabang, Aceh, perjalanan Sri berakhir di Jakarta pada 11 Oktober 2014.

Tercatat sekitar 11 persen penduduk Indonesia adalah penyandang disabilitas. Angka ini tidak sedikit, sehingga kebijakan untuk fasilitas yang ramah disabilitas adalah keharusan. Sejumlah kota terus berbenah, untuk memberikan hak bagi warganya yang berkebutuhan khusus. Jika kebutuhan warga berkebutuhan khusus telah diberikan, maka pemerintah telah pula memberikan hak bagi kelompok warga rentan lainnya, seperti ibu hamil, lansia dan anak-anak.

Bagi Sri, perjalanan ini bukan yang pertama. Pertengahan 2013 lalu, Sri telah melintasi Jawa-Bali dengan agenda serupa. Perjalanan ini dilakukan Sri untuk memotivasi para penyandang disabilitas yang ditemuinya. “Banyak difabel yang hanya berdiam diri di rumah. Keterbatasan akses transportasi untuk mobilitas membuat mereka tak memiliki kesempatan yang sama dengan warga lain,” jelas Sri. Sejak memiliki sepedamotor modifikasi roda tiga, dalam kesehariannya Sri dapat mandiri.

Jokowi berjanji akan bantu memperjuangkan hak disabilitas lewat berbagai kebijakan. “Saat di Solo, kami telah membuat berbagai ruang publik aksesibel, seperti Puskesmas, pusat perbelanjaan, halte bus, dan seterusnya. Jakarta belum memiliki kebijakan ini, kami sedang mendorong.”  Selain melihat teknologi modifikasi pada sepedamotor Sri, Jokowi juga sempat merasakan dibonceng Sri.

Selain untuk memperkenalkan sepeda motor modifikasi, Sri kampanyekan hak penyandang disabilitas di jalan raya. Dalam perjalanannya, Sri mengunjungi sejumlah panti disabilitas untuk berbagi cerita kepada sesama penyandang paraplegia. “Saya ingin menunjukkan bahwa orang dengan kemampuan berbeda di Indonesia dapat hidup bebas, mandiri, produktif dan hidup bahagia,” kata Sri.

Tentang Sri Lestari

1997 mungkin menjadi tahun yang tak dapat dilupakan Sri Lestari. Sepeda motor yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Meski menjadi penumpang, Sri mengalami cidera serius. Di usia 23 tahun, ia menjadi gadis paraplegia.

Paraplegia adalah penurunan fungsi motor atau sensorik dari ekstremitas bawah. Hal ini biasanya akibat dari cedera sumsum tulang belakang atau kondisi bawaan seperti spina bifida yang mempengaruhi elemen-elemen saraf dari kanal tulang belakang.

Dengan kata lain, Sri mengalami kelumpuhan separuh tubuh bagian bawah yang diakibatkan oleh putusnya syaraf tulang belakang. Salah satu hal yang mengubah hidup Sri adalah bahwa ia tak lagi dapat menggunakan kakinya untuk bergerak. Sejak itu, ia hanya tinggal di rumah.

Tinggal di rumah, sebab Sri tidak memiliki kendaraan pribadi untuk bepergian. Kendaraan umum pun tak berpihak padanya. Adalah tidak mungkin jika seorang Sri menunggu kendaraan di pinggir jalan, lalu naik ke bus kota—misalnya—dengan kursi rodanya.

November 2007 Sri menerima kursi roda dari UCP Wheels for Humanity, sebuah organisasi internasional yang mengadvokasi hak penyandang disabilitas di negara-negara berkembang. Sri kemudian menjadi relawan kemanusiaan untuk anak tuna netra dan korban gempa.

Atas bantuan sebuah bengkel di kota kelahirannya, Klaten, Jawa Tengah, Sri berhasil memodifikasi sepeda motor. Modifikasi ini membuat Sri dapat mengendarai sendiri sepeda motor, di atas kursi rodanya. Ini menjadi titik balik kehidupannya. Sri dapat bepergian ke mana saja, bahkan menjadi menjadi Anggota Tim Pelayanan di UCP Roda untuk Kemanusiaan (UCPRUK) yang mengharuskannya banyak ke lapangan untuk bertemu klien.

Persoalan Sri belum berakhir. Banyak orang mempersoalkan sepeda motornya, terutama di jalanan. Sri mendapat perlakuan berbeda dari tukang parkir, yang melarang Sri memarkir kendaraan modifikasinya ini di areal parkir sepeda motor.