Indeks Keyakinan Konsumen saat meningkatnya Aktivitas Masyarakat dan Kasus COVID-19

Indeks Keyakinan Konsumen saat meningkatnya Aktivitas Masyarakat dan Kasus COVID-19

IKK atau Indeks Keyakinan Konsumen atau ada yang menyebutkan juga sebagai Indeks Kepercayaan Konsumen (Consumer Confidence Index) (CCI) adalah indikator ekonomi yang dirancang untuk mengukur optimisme atau pesimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian negara. Indeks Keyakinan Konsumen menjadi salah satu indikator utama dalam menilai kinerja perekonomian, CCI membaca tingkat konsumsi masyarakat serta proyeksi perekonomian jangka pendek. IKK juga menjadi salah satu data penting bagi para pelaku perdagangan di pasar uang (forex market). Secara periodik Bank Indonesia (BI) menerbitkan Indeks Keyakinan Konsumen.

Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia pada April 2021 mengindikasikan keyakinan konsumen yang optimis terhadap kondisi ekonomi. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2021 sebesar 101,5 yang masuk ke zona optimis (indeks >100), meningkat dibandingkan 93,4 pada bulan Maret 2021. IKK April 2021 juga merupakan angka optimisme pertama kali sejak IKK masuk zona pesimis pada April 2020.

Keyakinan konsumen terpantau membaik pada seluruh kategori tingkat pengeluaran responden, tingkat pendidikan, dan kelompok usia responden. Secara spasial, keyakinan konsumen membaik di seluruh kota yang disurvei (18 kota), tertinggi di kota Padang, diikuti oleh Bandung dan Pangkal Pinang. Indeks Keyakinan Konsumen menjadi acuan penting bukan hanya di saat Pandemi COVID-19 yang sedang merajalela.

Indeks Keyakinan Konsumen saat meningkatnya Aktivitas Masyarakat dan Kasus COVID-19

BI juga merilis bahwa berdasarkan hasil SK, peningkatan optimisme konsumen pada April 2021 didorong oleh membaiknya ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan yaitu terhadap aspek ketersediaan lapangan kerja, ekspansi kegiatan usaha yang meningkat, dan penghasilan yang meningkat pada 6 bulan yang akan datang. Sementara itu, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini terpantau membaik, didorong oleh perbaikan persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan ketepatan waktu pembelian barang tahan lama.

Jadi tidak hanya studi seroprevalensi (pengujian antibodi) yang dapat menunjukkan penyebaran COVID-19 di Indonesia menyebar jauh lebih luas daripada laporan data resmi nasional, seperti yang selalu ramai dibicarakan. Namun salah satu yang dapat mengetahui kesehatan masyarakat adalah juga tingkat kesejahteraan, konsumsi dan perbaikan ekonomi. Negara yang ekonominya sehat dan terus memberikan keyakinan progres kepada masyarakat akan memberikan antiboi jenis lain yang dibutuhkan untuk melawan Pandemi COVID-19.

Tidak hanya Bank Indonesi dan entitas-entitas kependidikan yang sering melakukan survei. Perusahaan-perusahaan Asuransi ataupun yang berkepentingan terhadap keuangan dan ekonomi selalu mencermati perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen. Riset terkini Lifepal.co.id menemukan, optimisme warga terkait perekonomian Indonesia di masa pandemi Covid-19 ternyata dipengaruhi oleh pergerakan mobilitas masyarakat.

Data dari Bank Indonesia yang menunjukkan bahwa penguatan optimisme konsumen yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada periode Januari hingga April 2021 makin meningkat, seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, tetap menjadi pegangan utama. Di sisi lain, jumlah kasus COVID-19 sejak 18 Mei 2021 juga terus mengalami peningkatan hingga 31 Mei 2021.

Indeks Keyakinan Konsumen saat meningkatnya Aktivitas Masyarakat dan Kasus COVID-19

Mobilitas masyarakat ke tempat belanja meningkat

Dari data Laporan Mobilitas Masyarakat selama pandemi Covid-19 yang dirilis Google, Lifepal mencatat mobilitas warga di tempat belanja, toko bahan makanan dan apotek, terhitung dari awal Januari 2021 hingga 27 Mei 2021, berangsur-angsur naik.

Tren mobilitas untuk tempat-tempat seperti taman nasional, pantai umum, dermaga, taman hewan peliharaan, dan taman umum lainnya juga mengalami kenaikan mulai dari 9 Mei 2021 hingga saat ini.

Adapun tren pergerakan yang masih menurun antara lain adalah, pusat transportasi umum maupun tempat kerja. Tentu saja hal itu disebabkan karena masih banyak perusahaan yang menerapkan kebijakan kerja di rumah (WFH).

Indeks Keyakinan Konsumen saat meningkatnya Aktivitas Masyarakat dan Kasus COVID-19

IKK berangsur pulih

Seiring dengan meningkatnya mobilitas warga di pusat perbelanjaan, maka IKK pun cenderung mengalami peningkatan sejak Januari hingga April 2021. Adapun kenaikan IKK dalam rentang waktu 4 bulan di 2021 adalah 16,1 basis poin.

Namun, belum diketahui bagaimana IKK di bulan Mei, apakah naik lebih tinggi atau malah justru turun. Pasalnya, sejak pertengahan Mei, tepatnya mulai tanggal 19, tercatat kenaikan jumlah kasus penderita Covid-19. Padahal, sebelumnya sempat terjadi penurunan jumlah kasus yang signifikan.

Indeks Keyakinan Konsumen saat meningkatnya Aktivitas Masyarakat dan Kasus COVID-19

Optimisme konsumen naik diiringi naiknya kasus baru COVID-19

Peningkatan mobilitas warga tentu akan merangsang peningkatan IKK. Namun, kenaikan mobilitas juga berpotensi memperluas penyebaran Covid-19.

Terlihat jelas bahwa dari grafik kasus baru Covid-19 yang didapat dari situs Our World in Data, jumlah kasus baru sejatinya sempat menurun di awal Februari hingga 18 Mei 2021. Namun sayangnya, terjadi kenaikan penambahan kasus baru Covid-19 memasuki 19 Mei 2021 hingga saat ini.

Di satu sisi, kenaikan IKK mungkin menjadi sinyal yang baik karena hal ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas konsumsi dan juga investasi. Akan tetapi, peningkatan jumlah kasus Corona juga bisa menimbulkan masalah baru di masa yang akan datang.

Apabila kasus makin memuncak dan Pemerintah bukan tidak mungkin aktivitas warga kembali dibatasi, maka hal ini berpotensi kembali menurunkan konsumsi dan menciptakan ketidakpastian bagi para pelaku usaha yang akhirnya juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Indeks Keyakinan Konsumen

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) merupakan indikator ekonomi yang dirancang untuk mengukur optimisme atau pesimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian suatu negara.

Naik turunnya IKK disebabkan karena kenaikan dan penurunan dari dua indeks pembentuknya yaitu, Indeks Kondisi Ekonomi (IKE), dan Indeks Ekspektasi Konsumen.

Nilai IKK di bawah 100 menandakan masuknya IKK ke zona pesimis yang berimbas ke penurunan daya beli dari masyarakat. Sementara itu, nilai IKK di atas 100 menandakan bahwa IKK masih berada di level optimis.

Informasi seputar IKK dapat diakses langsung dalam Survei Konsumen Bank Indonesia (BI).