Pasar Tradisional

Mal tegak berdiri, supermarket tumbuh bak jamur di musim hujan, sementara pemandangan kontras terjadi, pasar tradisional kebakaran (atau dibakar), digusur demi alasan keindahan tata kota. Apa salah mereka? Pasar tradisional sudah menjadi pilar ekonomi kerakyatan sejak jaman sebelum majapahit bung!

Menelusuri lapak demi lapak pedagang, meski harus "cincing" karena becek tak membuat semangat berkurang. Melihat para pedagang adu tereak menawarkan dagangan seperti kicau burung di pagi hari menyambut embun. Damai! Hari libur, agenda utama yang menjadi alasan bangun pagi adalah mengunjungi pasar tradisional, mengasah kembali ketajaman penciuman dengan amisnya bau ikan segar, kecutnya keringat penghuni pasar yang sebagian alergi terjadap deodorant. Tapi di sinilah saling menerima dan menghargai begitu dijunjung tinggi...

Tawar menawar, satu proses interaksi sosial yang takkan ditemukan di tempat lain. Senyum ketika kesepakatan harga tercapai atau ngloyor pergi ketika penjual yang masih keukeuh dengan harga yang tinggi, dan kemudian kembali memanggil dengan tawaran negosiasi lagi. Ah....suasana yang jarang ditemui....

Bener2 gak habis pikir, hla kok yang seperti ini mau digusur.  Ra  ngutek blass!