Avatar jogloabang
Posted by jogloabang on June 08, 2017
#AYOngabubuTRIP di Tebing Breksi

GenPI Jogja atau Generasi Pesona Pariwisata Jogja akan mengadakan sebuah workshop yang ditandai dengan tema Gelar Acara #AYOngabubuTRIP di Tebing Breksi Jogjakarta. Acara ini akan diikuti oleh 40 orang peserta yang akan terbagi menjadi 3 kelas yaitu fotografer, blogger dan vlogger pada hari Sabtu tanggal 10 Juni 2017. #AYOngabubuTRIP akan digelar mulai jam 15.00 hingga selesai. Seperti kita ketahui bersama GenPI atau Generasi Pesona Pariwisata Jogja adalah wadah netizen yang memiliki ketertarikan dengan kepariwisataan.

Tujuan GenPI Jogja adalah untuk mengangkat citra positif dan mempopulerkan dunia pariwisata Dareah Istimewa Yogyakarta. Mengapa memilih Tebing Breksi sebagai lokasi ajang #AYOngabubuTRIP sebab Tebing Breksi adalah salah satu dari 7 destinasi wisata yang masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia 2017. Tentu saja melalui kegiatan ini GenPI Jogja akan sekaligus mengeksplorasi secara lebih mendalam untuk menggali cerita-cerita atau katuranggan Tebing Breksi yang lebih esensial, jadi tidak hanya tahu bahwa Tebing Breksi memiliki pemandangan yang bagus dan hanya sekedar untuk selfie-selfie saja.

Workshop yang dikemas dalam #AYOngabubuTRIP pada tanggal 10 Juni 2017 akan memberikan bekal sebanyak mungkin bagi GenPI Jogja dan akan dipandu dengan banyak narasumber yang piawai dibidangnya. Mulai dari pakar lingkungan hingga aspek-aspek pengembangan pariwisata kreatif lain dari para pelaku dan orang-orang yang berkecimpung langsung dalam proses terjadinya Wisata Tebing Breksi.

Konten positif dan kreatif yang membumi menjadi tujuan dari acara #AYOngabubuTRIP karena dengan adanya keterbukaan dan informasi yang jelas dan komprehensif dari Tebing Breksi akan menjadi bahan pembuatan konten yang menarik untuk para blogger, fotgrafer dan vlogger yang ikut dalam kegiatan ini. Selain mengikuti workshop tentusaja para fotografer dan vlogger dapat secara langsung menjadikan obyek-obyek yang dibahas menjadi kontennya untuk dapat di publish di dunia maya.

#AYOngabubuTRIP ini didukung oleh Dinas Pariwisata DIY, Masyarakat Digital Djogja - Masdjo, Pokdarwis Desa Sambirejo, Lintas Komunitas Jogja dan pengelola Kawasan Wisata Tebing Breksi. Konten acara dapat dilihat dibawah ini, dan softcopy rilis persnya dapat anda unduh dari tautan di bawah tulisan ini:

TEBING BREKSI DALAM BINGKAI TULISAN  FOTO DAN VIDEO

BEGIN TO VOTE for PESONA INDONESIA AWARD WINNER

KEGIATAN  :

Hari / Tanggal             : Sabtu , 10  Juni 2017

Pukul                           : 14:00 WIB – selesai

Tempat                        : Kawasan Wisata Tebing Breksi, Prambanan, Sleman

Peserta                         : 1. Pengelola admin media sosial di destinasi wisata , sebanyak 10 0rang

                                      2. Blogger/anggota GENPI Jogja , sebanyak 30 orang

                                      3. Mentor 3 Orang ( blogging, fotografi, video)

                                      4. Pendamping 10 orang

 

TUJUAN KEGIATAN :

  1. Tercapainya proses mengenal lebih dekat, sekaligus praktik jurnalistik (publikasi) on the spot bagi peserta, melalui kegiatan menulis, fotografi, dan videografi.
  2. Pendalaman pemahaman dan publikasi tentang destinasi wisata “Kawasan Tebing Breksi” sebagai peserta lomba “Pesona Indonesia.”
  3. Menghasilkan materi tulisan, foto dan video yang ditujukan untuk lebih merangsang empati dan simpati “publik” dalam melakukan “vote” bagi kawasan Tebing Breksi sebagai nominator “Anugerah Pesona Indonesia.”
  4. Membuahkan impact” positif bagi kunjungan wisata, menambah “value” pemahaman publik dan menguatkan “unique selling point” kawasan wisata Tebing Breksi.

 

NARA SUMBER :

1. Bapak Ir. Aris Riyanta, M.Si (Kepala Dinas Pariwisata DIY)

2. Romo Ir. Condroyono (Pengamat budaya dan pariwisata)

3. Bapak Prof Eko Teguh (Geolog) / Tim Geologi UPN Veteran Yogyakarta

4. Bapak Roni Primanto ( Kepala Diskominfo DIY/ Ketua Haria Pengda IMI DIY)

5. Bapak Mujimin (Lurah Sambirejo, Prambanan, Sleman)

6. Bapak Mujimin S. Sos (Ketua Pokdarwis Desa Sambirejo)

7. Mas Kholik Widiyanto (Pengelola Taman Tebing Breksi)

8. Mas Antok ( Koordinator Forkom Lintas Komunitas)

9. Mas Arief ( Shiva Plateau)

10. Bapak Wagimin (pelaku wisata)

11. Ibu Marsih (pelaku wisata)

12. Mas Anto (pemahat dan pengembang kriya )

13. Bapak / Ibu pelaku wisata kuliner dan cinderamata

 

PEMBAGIAN SPOT :

SPOT 1

Tema               :  Sejarah Breksi pada masa penambangan oleh masyarakat beserta kondisi sosial/ekonomi masyarakat sebelum secara resmi dibuka sebagai kawasan wisata oleh Gubernur DIY pada 30 Mei 2015.

Metode            : Wawancara narasumber di tempat  secara panel/bersamaan dan melakukan elaborasi serta melakukan pengambilan foto dan video narasumber.

Narasumber     :

1. Bapak Mujimin (Lurah Sambirejo, Prambanan, Sleman)

2. Bapak Wagimin (mewakili masyarakat penambang)

3. Ibu Marsih dan mas Eko (mewakili perintis usaha awal )

Peserta             : 15 peserta

Lokasi              : Gazebo kayu sebelah utara Tebing Breksi

Waktu              : Mulai Pukul 15.00 (per 35 menit dilakukan rolling)

 

SPOT 2

Tema               : Kondisi geologis, pengelolaan wisata berbasis masyarakat, dan transformasi dari masyarakat penambang menuju masyarakat pariwisata.

Metode            : Pemaparan sejarah pengelolaan wisata di lokasi panggung terbuka ‘tlatar seneng’(10 min), dilanjutkan dengan penjelasan aspek geologis di sekitar tebing ( 15 min) dan kunjungan peserta di lokasi kuliner dan cinderamata (10 min) . Peserta melakukakan interview dan elaborasi serta melakukan pengambilan foto dan video pemaparan narasumber.

Narasumber     :

1. Bapak Prof. Eko Teguh / Tim Geologi UPN Veteran Yogyakarta

2. Bapak Mujimin , S. Sos (Ketua Pokdarwis, Sambirejo, Prambanan, Sleman)

3. Bapak / Ibu Pengelola kuliner dan cinderamata

4. mas Anto (seniman / pemahat tebing breksi)

Peserta             : 15 peserta

Lokasi              : Panggung terbuka ‘tlatar seneng” dilanjutkan peninjauan lokasi sekitar tebing dan berakhir di lokasi kuliner dan cinderamata

Waktu              : Mulai Pukul 15.00 (per 35 menit dilakukan rolling)

 

SPOT 3

Tema               : Capaian dan pengembangan wisata Tebing Breksi

Metode            : Pemaparan capaian dan rencana pengembangan Tebing Breksi di lakukan di tebing naga (10 min), dilanjutkan tour dengan armada jeep shiva plateau, berhenti di lokasi taman lintas komunitas dan dilanjutkan dengan eksebisi/atraksi wisata adventure di sebelah utara tebing ( 25 min). Peserta melakukakan wawancara, elaborasi, pengambilan foto dan video selama tour atraksi wisata adventure.

Narasumber     :

1. Bapak Roni Primanto ( Ketua Harian Pengda IMI DIY)

2. Mas Kholik Widiyanto (Ketua Pengelola Taman Tebing Breksi)

3. Mas Antok (Koordinator Forkom Lintas Komunitas)

 

Peserta             : 15 peserta

Lokasi               : Tebing naga dilanjutkan ke Taman Lintas Komunitas dan berakhir di lokasi offroad di sebelah utara tebing

Waktu              : Mulai Pukul 15.00 (per 35 menit dilakukan rolling)

 

RUNDOWN ACARA :

Sabtu, 10 Juni 2017

WAKTU

KEGIATAN

PENGAMPU

KETERANGAN

14:00 – 15:00

Registrasi peserta

panitia

Kedatangan peserta langsung menuju lokasi

Pembekalan singkat dan  materi awal oleh Mentor Blogging, Fotografi dan Videografi

Mentor

Mentor Blogging

Mentor Fotografi

Mentor Videografi

15:00 – 15:40

Eksplorasi Spot I/Spot II/Spot III

Narasumber dan Tim Pendamping

Per 35 menit/Tim dan dilakukan proses rolling (5 menit)

15:40 – 16:20

Eksplorasi Spot I/Spot II/Spot III

Narasumber dan Tim Pendamping

Per 35 menit/Tim dan dilakukan proses rolling (5 menit)

16:20 – 17:00

Eksplorasi Spot I/Spot II/Spot III

Narasumber dan Tim Pendamping

Per 35 menit/Tim dan dilakukan proses rolling (5 menit)

17:00 – 17: 35

Eksplorasi Sunset @ tebing breksi

Mentor

Mentor Blogging

Mentor Fotografi

Mentor Videografi

17:35 – 18:15

Buka Bersama

Panitia dan Pelaku Wisata Tebing Breksi

 

Sholat Maghrib dan Makan Malam

18:15 – 19:00

Jeep Trip, tour mengenal sensasi kawasan perbukitan  dan kompleks candi shiva (candi Banyunibo, spot riyadi, candi Barong dan candi Ijo)

Shiva Plateu

disediakan 10 armada untuk 40 peserta

19:00 – 19:45

Bedah Konten Materi

 

Forum tanya jawab dengan dengan semua panelis/narasumber

19:45 – 21:00

Diskusi teknis aplikasi/kiat pengembangan konten media sosial vote Tebing Breksi

 

Mentor Blogging

Mentor Fotografi

Mentor Videografi

 

MENGENAL LEBIH DEKAT DESTINASI WISATA “TEBING BREKSI”


PENGANTAR :

Sejak tahun 80’an hingga akhir tahun 2014 salah satu perbukitan di Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta adalah sawah tadah hujan dan penghasil batu. Saat itu daerah ini belum tersentuh proyek pengaspalan jalan, namun aktivitas penambangan yang sarat muatan berat setiap hari tak bisa dihindarkan dan justru memperburuk kondisi jalan. Bukit batu itu tak bernama. Para buyer asing atau pembeli batu dari luar wilayahlah yang sering menyebut bebatuan di sana dengan breksi. Ternyata, kata breksi menular ke lidah masyarakat setempat,  maka dipakailah nama breksi atau tebing breksi hingga kini.

Tebing Breksi  gaungnya ke seluruh penjuru negeri sebagai pemasok batu terbaik. Gempuran para penambang demikian hebatnya. Ribuan kubik batuan sukses ditambang dan dikirim ke luar wilayah.  Hingga akhirnya “menyisakan” postur tebing terjal dan curam. Pada akhir 2014 sebagian orang menyadari Tebing Breksi sebagai lokasi tambang dengan panorama eksotis. Berkat kecanggihan teknologi, keelokan Tebing Breksi terdengar oleh masyarakat pecinta fotografi. Kedatangan mereka ke Tebing Breksi rupanya memiliki andil dalam menungkatkan aktivitas parkir dan warung di sekitarnya. Jika dulu hanya melayani para penambang kini juga melayani para pengunjung yang belum bisa disebut dengan wisatawan.

Siapa sangka kawasan tambang dan sawah tadah hujan ini menyimpan banyak informasi tentang gejolak bumi. Bahkan, kondisinya mengundang para peneliti dunia untuk bisa mempertahankan keberadaannya.  Seiring perkembangan ilmu pengetahuan pada tahun 1990-2000 banyak penelitian yang dilakukan di sana. Hasilnya sungguh mengejutkan, Tebing Breksi merupakan salah satu bukti sejarah pembentukan Pulau Jawa. Tebing breksi merupakan endapan abu vulkanik erupsi Gunungapi Semilir/Gunungapi Purba sebelum Gunungapi Purba Nglanggeran.

Hasil-hasil penelitian kemudian mendorong penetapan kawasan ini sebagai bagian dari warisan geologis (geoheritage) melalui Keputusan Kepala Badan Geologi RI Nomor 1157.K/40/BGL/2014. Setelah menjadi kawasan geoheritage praktis warga setempat tak bisa lagi menggantungkan hidup sebagai petani tadah hujan dan penambang batu. Sebagai pemangku kebijakan, Bapak Gubernur DIY mendorong pengembangan wisata pada kawasan ini untuk menyelamatkan para “veteran tambang dan petani tadah hujan” melalui Dinas Pariwisata DIY mencanangkan program pengembangan destinasi di Desa Sambirejo. Berkat program tersebut, Tebing Breksi mulai menunjukkan kecantikannya.

Malam itu, 30 Mei 2015 merupakan momen tak terlupakan bagi masyarakat Sambirejo. Ribuan elemen masyarakat dari berbagai komunitas hadir menyaksikan Bapak Gubernur meresmikan panggung terbuka “Tlatar Seneng” sekaligus  menetapkan kawasan ini sebagai destinasi wisata. Kehadiran pemimpin tertinggi DIY tersebut sekaligus sebuah jawaban untuk kelestarian harta karun ilmu pengetahuan (geologi), tidak saja bagi masyarakat Sambirejo, ataupun masyarakat DIY, tapi juga untuk dunia. Sejak penetapan sebagai kawasan wisata sampai saat ini geliat masyarakat untuk guyub rukun, bahu membahu mengembangkan kawasan ini sebagai kawasan wisata semakin menggelora.

Saat ini, pengembangan kawasan Tebing Breksi sebagai kawasan wisata, akhirnya menjadi topik pembicaraan dan pemberitaan di mana-mana. Sebuah destinasi wisata yang menawarkan sisi keindahan, keunikan, kreativitas, dan pengelolaan kawasan yang dikembangkan dan didesain sedemikian rupa secara bersama-sama oleh masyarakat yang sinergis melalui pokdarwis, pemerintah desa, Dinas Pariwisata DIY, Pemerintah Kabupaten Sleman dan tentu saja banyaknya komunitas yang mencintai Tebing Breksi , seperti komunitas yang tergabung dalam Forkom Lintas Komunitas Peduli Wisata DIY.

Kami mengajak untuk lebih dekat mengenal Tebing Breksi, Apa yang menarik? Apa yang menjadikan tempat ini layak di angkat mendunia dan mejadi tujuan wisatawan baik lokal maupun internasional? Selain tawaran keindahan alam, penataan, potensi atraksi, ruang publik dan lain sebagainya yang menjadi kekuatan potensi Tebing Breksi.

Berbagai kisah sosial masyarakat dan romatikanya juga menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita pengembangan kawasan wisata ini. Masyarakat penambang dan kentalnya pandangan masyarakat luar akan maraknya penyakit masyarakat (pekat) di wilayah ini, sampai dengan ratusan orang yang sekarang beralih menjadi pelaku dan menikmati buah manis pariwisata.

Anda, orang paling beruntung yang berkesempatan menggali secara lebih dalam dan selanjutnya menjadi volunteer/agen mandiri promosi dan pemasaran wisata Tebing Breksi. Baik melalui karya tulis, fotografi, dan atau Video Anda.

Selamat mengenali dan mendalami sisi lain kawasan wisata Tebing Breksi …..

 

SEJARAH GEOLOGIS :

Tebing breksi terletak di Dusun Groyokan/Nglengkong, Sleman, Sambirejo, Prambanan, Sleman. Memiliki sejarah yang tak bisa lepas dari sejarah Gunungapi Purba Nglanggeran. Hal ini dikarenakan Breksi sebagai cagar budaya tak lepas dari kondisi geologisnya. Batu kapur breksi di tebing ini rupanya merupakan endapan abu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran. Itulah mengapa Taman Tebing Breksi dilestarikan, sama halnya dengan Candi Ijo dan Candi Ratu Boko yang terletak di kawasan yang sama. (sumber kompas.com di akses pada 2 juni 2017/ 02:19)

Secara fisiografi Gunung Api Purba Nglanggeran terletak di Zona  Pegunungan Selatan Jawa Tengah-Jawa Timur (Van Bemmelen 1949) atau   tepatnya di Sub Zona Pegunungan Baturagung (Baturagung Range) dengan ketinggian 700 meter  dari permukaan  laut dan kemiringan lerengnya curam-terjal (>45%). Gunung Nglanggeran berdasarkan sejarah geologinya merupakan gunung api purba yang berumur tersier ( Oligo- Miosen) atau 0,6 – 70 juta tahun yang lalu.

Material batuan penyusun Gunung Nglanggeran merupakan endapan vulkanik tua berjenis andesit (Old Andesite Formation). Jenis batuan yang ditemukan di Gunung Nglanggeran antara lain breksi andesit,  tufa dan lava bantal.  Singkapan  batuan vulkanik klastik yang ditemukan di Gunung Nglanggeran  kenampakannya sangat ideal dan oleh karena itulah maka, satuan batuan yang ditemukan di Gunung tersebut menjadi  lokasi tipe (type location)  dan diberi nama Formasi Geologi Nglanggeran.

Beberapa bukti lapangan  yang menunjukkan bahwa dahulu pernah ada aktivitas vulkanis  adalah banyaknya batuan sedimen vulkank klastik seperti batuan  breksi andesit, tuff dan  adanya aliran lava andesit di Gunung  Nglanggeran. Bentuk kawah Gunung Api Purba Nglanggeran dapat ditemukan di puncak Gunung Nglanggeran. ( sumber gunungapipurba.com )

Nama tebing breksi adalah sebutan saja dan bukan merupakan jenis bebatuan seperti yang dikenal dalam ilmu Geologi. Tak sedikit wisatawan yang menganggap bahwa batuan di Tebing Breksi ini adalah batu kapur, dan memang tidak banyak yang tahu juga tebing breksi adalah bebatuan yang terbentuk karena endapan abu vulkanik Gunung Api Purba Nglanggeran. Bahasa ilmiahnya yang disebut batuan tuff. Masyarakat lokal sendiri menyebut sebagai “lenthon”. (sumber snowlife-elisa.com )

 

SEJARAH SEBAGAI DESTINASI WISATA :

Pengembangan wisata di kawasan Tebing Breksi, tidak dapat dipisahkan dari intervensi/dukungan Pemda DIY dan arahan Gubernur DIY pada pengantar perencanaan pembangunan DIY Tahun 2014. Bahwa pengembangan wisata harus fokus pada pengembangan potensi yang ada di masyarakat dan diprioritaskan pada wilayah kecamatan miskin/tertinggal. Kecamatan Prambanan, pada waktu itu, menjadi prioritas untuk pelaksanaan program pengentasan kemiskinan. Eksekusi untuk fokus dan prioritas pada kecamatan miskin dan tertinggal diinstruksikan untuk dilakukan semua dinas teknis, tak terkecuali Dinas Pariwisata DIY. Melalui serangkaian proses amatan potensi daya tarik wisata, jatuhlah pilihan untuk pengembangan wisata di lokasi tambang di desa Sambirejo.

Proses komunikasi awal dengan perangkat desa, berbuah sebuah dukungan dari Lurah Desa Sambirejo beserta perangkat desa yang lain untuk menjadikan tebing tambang sebagai kawasan wisata. Tidak sederhana pada awalnya, selain sebagian besar masyarakat masih tergantung dari usaha penambangan, hanya sedikit masyarakat yang percaya bahwa pengembangan wisata menjadi sebuah hal yang menjanjikan. Jangankan menjadikan suatu hal yang menjanjikan, bagi masyarakat khusunya penambang, saat itu, proses pembangunan panggung terbuka dianggap suatu hal yang mengganggu aktifitas penambangan. Seringkali, di awal pelaksanaan, tim pelaksana dari Dinas Pariwisata, harus berhadapan dengan penambang. Pada akhirnya Bapak Mujimin, Lurah Desa Sambirejo harus turun ke lapangan menjelaskan kepada masyarakatnya dan memperingatkan agar penambangan di wilayah tebing dihentikan.

Pemilihan pembangunan panggung terbuka di awal pengembangan Taman Tebing Breksi, juga bukan tanpa alasan. Kebutuhan DIY sebagai daerah yang kaya akan seni budaya yang membutuhkan  sebuah panggung terbuka yang representatif untuk pengaktualisasiannya, akan menjadi sebuah daya tarik wisata baru ketika bertemu dengan perpaduan panorama dari perbukitan dan batuan cadas yang melatarbelakanginya. Bukanlah hal yang mudah untuk mewujudkannya, karena untuk menghasilkan sebuah bentuk panggung terbuka seperti sekarang ini , diperlukan tidak kurang dari 850 (delapan ratus lima puluh) truk urugan (menimbun) tanah yang diambilkan dari wilayah di sekitar area penambangan, mengingat lokasi panggung terbuka “tlatar seneng,” sebelumnya adalah cekungan/jurang yang luas dan dalam. Tim gabungan Dinas Pariwisata DIY didukung sekelompok relawan pejuang berlatar belakang lintas komunitas, yang peduli akan pengembangan wisata di DIY mulai melakukan serangkaian upaya membangun jiwa masyarakat, mengedukasi, dan mengajak masyarakat untuk sadar potensi pariwisata, selama kurang dari 3 bulan.

Tentu saja tidak mudah meyakinkan dan membangun kepercayaan masyarakat dalam waktu singkat. Skenario pamungkas menjadi jalan terakhir. Pilihan untuk menghadirkan pemimpin DIY menjadi sebuah keharusan untuk penghentian praktek penambangan. Tentu saja kabar baik ini, merupakan sebuah kebanggaan bagi masyarakat Sambirejo, bahwa wilayahnya akan dikunjungi orang nomor satu di DIY, dan masyarakat mulai berbenah. Semua proses diarahkan untuk peresmian program awal Dinas Pariwisata DIY tersebut. Seluruh elemen masyarakat dan Forum Lintas komunitas bahu membahu mewujudkan kesiapan “Tlatar Seneng.”

Tibalah saat yang dinantikan tiba. Sabtu, 30 Mei 2015 Gubernur DIY Sri Sultan HB X meresmikan  tempat wisata baru di Kabupaten Sleman yakni  Tlatar Seneng di lokasi bekas penambangan batu breksi di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan. Tepatnya, sekitar 1 kilometer di sebelah barat Candi Ijo. 

Panggung yang pada saat awal didesain ideal berkapasitas 750 orang, malam itu, penuh sesak oleh elemen lintas komunitas termasuk generasi muda dan pramuka. Dalam sambutannya , Sri Sultan HB X, menyampaikan bahwa selama ini masyarakat menganggap bahwa batu-batu di tebing itu sebagai batu breksi biasa. Tapi secara akademik, batu tersebut hasil dari lava yang menggumpal atau berproses jutaan tahun lalu. “Karena itu, saya meminta agar tebing ini tidak ditambang lagi namun dijadikan sebuah tempat wisata baru. Tak hanya itu saja, nantinya masyarakat juga harus mau mengelola dengan baik kawasan tersebut untuk nantinya mampu meningkatkan perekonomiannya,” ungkap Sri Sultan seraya berpesan agar panggung tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan pramuka serta kegiatan seni dan budaya. (sumber : http://www.jogja.co/sultan-resmikan-obyek-wisata-taman-tebing-breksi-jogja/diakses pada tanggal 1 juni 2017, pukul 19:05).

Sementara itu Kepala Badan Geologi kementerian ESDM Dr.Surono menyatakan kebanggaannya terhadap DIY selama ini. Karena selama SMA di Jogja dan sampai saat ini tetap belajar terhadap Jogja tentang bagaimana respek masyarakat Jogja terhadap alam hingga sekarang ini. Berbeda dengan daerah-daerah lain, orang berpandangan bahwa alam itu dinilai secara ekonomi identik dengan ekstraksi, merubah bentang alam, mengekoloitasi besar-besaran, tetapi di jogja tidak terjadi, bahkan terhadap alam yang dikembangkan pelestariannya sangat respek terhadap alam di jogja. Daerah lain terhadap alam identik dengan menambang, identik dengan merusak dan sebagainya, di Jogja melestarikan, menjaga dan ini kita semua harus belajar terhadap Jogja. (sumber. jogjaprov.go.id)

Gayung bersambut, apa yang dilakukan oleh masyarakat, Dinas pariwisata DIY dengan dukungan PemKab Sleman, Balai Pelestari Cagar Budaya dan relawan pejuang lintas komunitas meneruskan pengembangan melalui serangkaian fasilitasi fisik, pendampingan, dan gelaran event/gathering sehingga Tebing Breksi terus berkembang menjadi seperti sekarang ini.

Berbagai kegiatan dan acara dibuat bersama komunitas, masyarakat dan juga berbagai pihak yang memanfaatkan amphitheater dan kawasan tebing breksi dengan keindahannya.  

Pada tahun 2016, bersama dengan dinas pariwisata, pemerintah desa dan juga pengelola, dilakukanlah acara kali kedua bersama dengan komunitas. Sebuah acara gethreing dengan serangkaian acara yang melibatkan berbagai macam komunitas dalam jumlah lebih dari 2.000 peserta. Mencoba lebih konkret, agenda di tahun kedua, selain gathering dan deklarasi juga diaktualisasikan dengan program donasi penanaman pohon buah. Sebanyak 300 buah bibit pohon buah buahan donasi dari berbagai komunitas yang peduli wisata di DIY. Bertempat di sebelah utara lokasi Tebing Breksi bibit itu ditanam sebagai Taman Lintas Komunitas pertama di Indonesia.  Atas kegiatan tersebut semakin membawa Tebing Breksi dikancah Internasional.

 

DAYA TARIK WISATA BEKAS AREA TAMBANG:

Pemandangan yang eksotik adalah keunggulan yang ditawarkan dari ketinggian sisa areal tambang ini. Kawasan bandara, perkotaan, sampai pegunungan dan candi bisa terlihat dengan jelas dari ketinggian Tebing Breksi. Luas area sisa penambangan sekitar 5600 meter persegi yang kini dimanfaatkan sebagai tempat untuk memandang lanskap Yogyakarta, berselfie  dan atau foto prewedding.

Secara khusus bukit yang tersisa saat ini memiliki keluasan dan ketinggian sekitar 30 meter – 40 meter. Saat ini telah  dilengkapi dengan berbagi ornamen dan juga fasilitas lain untuk kenyamanan wisatawan. Saat yang paling tepat atau berada di atas bukit breksi tentu saja pada saat sore hari. Hal ini karena kita bisa menangkap semua keindahan yang ditawarkan Tebing Breksi di sisi barat dan utara. Meski, sebenarnya kapan saja kita bisa menikmati panorama alam dari kawasan Tebing Breksi ini.

Tangga telah dibuat di sisi timur dan utara yang menyatu dengan badan bukit yang telah menjadi keindahan dan keunikan tersendiri. Belum lagi pahatan-pahatan pada dinding tebing di bagian timur yang semakin menambah keelokan bukit yang semakin hari semakin mencuat namanya ini bahkan menjadi nominator dalam Anugerah Pesona Indonesia kategori Tujuan Wisata Baru Terpopuler.

Banyak masyarakat yang belum tahu, bahwa proses penghentian penambangan di kawasan Tebing Breksi, dilakukan melalui sebuah Surat Keputusan tentang penetapan zona merah atau zona tanpa aktifitas tambang sama sekali yang dikeluarkan oleh Pemerintah Desa. Ada sebuah hal yang patut untuk diteladani dari keputusan hebat dan berani seorang pemimpin desa.

Bentuk apresiasi masyarakat untuk mempercantik Tebing Breksi pada gilirannya justru dilakukan mandiri oleh kelompok para penambang. Sungguh sebuah proses revolusi pemahaman, mereka secara swadaya membuat akses berupa tangga, agar wisatawan mudah mencapai bagian atas Tebing Breksi. Tangga inilah yang membuat Taman Tebing Breksi makin dikenal. Selain instagrammable, pembuatan tangga ini juga menjadikan kunjungan wisata semakin meningkat. Karena di ketinggian Tebing Breksi, wisatawan dapat menimati secara visual langsung Candi Ratu Boko, Candi Barong dan juga Candi Prambanan, dengan ketinggian 310 meter dari permukaan laut, keberadaan Taman Tebing Breksi mempunyai keunggulan visual dengan panorama pegunungan dan lembah di sekitarnya pula.

Tidak hanya berhenti dalam pembuatan tangga akses, salah satu seniman pemahat lokal , juga meneguhkan sikap penghentian penambangan dengan memahat sekuel perang kembang, yaitu peperangan antara Ksatria Arjuna dan Buta Cakil. Makna filosofis dari pahatan tersebut adalah bahwa perbuatan berupa keburukan atau kerusakan akan dapat dikalahkan oleh budi baik dan sikap satriya. Sekaligus sebagai tetenger (penanda) transformasi masyarakat dari usaha penambangan (kerusakan) menuju pelestarian dan pengembangan pariwisata.

Pahatan naga dan kura kura menyusul kemudian, hal ini merupakan respon kontekstual icon yang berada pada bagian candi Ijo (800 meter sebelah timur Tebing Breksi). Di lokasi candi Ijo terdapat patung naga dan kura kura, sebuah pengharapan bahwa pengembangan tebing breksi dalam konteks jejaring wisata juga merupakan bagian dari pengembangan kompleks candi-candi shiva di sekitarnya.

Di waktu yang akan datang, pahatan akan di lakukan di sisi utara tebing, dengan mengambil tema cerita rakyat/legenda Prabu Boko dan Bandung Bandawasa. Legenda tersebut erat kaitannya dengan kompleks candi Prambanan, Ratu Boko dan candi candi di dalam kawasan itu.

 

AMPHITHEATRE : TLATAR SENENG

“Tlatar seneng” adalah nama dari sebuah amphitheater (panggung terbuka) yang yang diresmikan oleh Gubernur DIY dan menjadi awal bagaimana kawasan tebing Breksi ini berkembang menjadi kawasan wisata. Tlatar seneng ini dibangun dengan ciri adanya lingkaran sebagai pokok panggung dan tempat duduk yang mampu menampung tak kurang dari 1000 penonton. Peruntukannya adalah sebagai tempat pelaksanaan kegiatan seni budaya atau pagelaran lain bagi masyarakat. Tanpa ada atraksi seni pun, banyak wisatawan duduk-duduk di deretan tempat duduk terbuat dari bahan teraso yang berjejer rapi. Tak sedikit pula yang duduk dan tiduran di atas hamparan rumput di bagian tengah panggung, sambil berselfie ataupun menimati pemandangan tebing.

Dalam berbagai penampilan di Amphitheater ini juga bisa dilakukan tata panggung dengan berbagai kombinasi dan cara yang menarik seperti penambahan panggung, elemen dekoratif  baik di lokasi panggung maupun tebing untuk menghasilkan seni pertunjukan yang lebih sempurna.

Banyak yang belum mengetahui, bahwa tlatar seneng adalah nama wilayah Tebing Breksi ini. Jauh sebelum dikembangkan menjadi kawasan wisata, bahkan sebelum bukit itu ditambang. Pemuka masyarakat setempat menyebut dulunya wilayah ini dikenal sebagai bulak tlatar seneng, apakah leluhur kita sudah bisa mengetahui kelak tempat ini akan menjadi tempat bersenang senang ? (tlatar : tempat luas terbuka, seneng : senang). Hanya Tuhan yang mengetahui segala kepastian….

Dalam hal pemanfaatan panggung terbuka tlatar seneng, serangkaian performa artis telah menjajal area ini dan memuji orisinalitas dan kualitas daya dukung estetika dan akustikanya, antara lain penyanyi Afghan Syahreza, yang dalam pembuatan videoclip lagu “kunci hati”mengambil tempat di panggung terbuka ini. Musisi kondang tanah air lain yang sudah menjajal panggung terbuka ini adalah musisi/gitaris Dewa Budjana, yang dalam launching album Zentuari melakukan pagelaran yang didukung musisi nasional, didukung sistem suara, dan sistem pencahayaan berkelas dunia. Aksi dewa Budjana ini disiarkan secara live streaming ke penjuru pelosok dunia.

Dalam hal festival kesenian di DIY, pada tahun 2016, digelar bigbang di Tebing Breksi dengan menampilkan Symphony Orchestra dan penampilan Endang Soekamti, serta masih banyak lagi pesohor yang telah menjajal keunikan panggung terbuka Tlatar Seneng. Terbaru adalah konser musik Barasuara, yang menampilkan bintang nasional asli jogja Shaggydog.

Karena lokasinya yang luas dan fasilitas parkir yang terbilang lapang, banyak komunitas menjatuhkan pilihan untuk gathering di Tebing Breksi. Selain jadwal yang padat  dan tidak kalah unik pula, panggung terbuka Tlatar Seneng dipakai untuk resepesi pernikahan. Sungguh multifungsi dan uniknya panggung ini.  Ruang perform yang acapkali justru memanfaatkan keluasan pandang sebagai latar belakang panggung yang menarik untuk dipilih dalam berbagai pertunjukan atau dengan kata lain kekuatan ruang terbuka “tlatar seneng” ini menjadi alternatif pilihan yang utama dibanding dengan tata kelola panggung menggunakan dekorasi-dekorasi dan background. Dan benar saja memang Tlatar Seneng telah membuat banyak orang senang…

 

TAMAN LINTAS KOMUNITAS:

Taman lintas komunitas adalah salah satu sisi menarik lain kawasan tebing Breksi. Kawasan seluas kurang lebih 3 hektar ini berisi pohon buah mangga, jambu, dan kelengkeng. Taman lintas komunitas ini ada dalam sebuah acara ulang tahun lintas komunitas ke 2 (dua) yang memiliki tajuk “breksinergi.” Sebuah konsep acara yang muncul sebagai kepedulian lintas komunitas istimewa peduli wisata untuk mendukung pengembangan kawasan wisata tebing Breksi.

Taman lintas ini adalah gagasan untuk menciptakan ruang teduh di kawasan wisata tebing Breksi, tercatat tak kurang dari 30 komunitas mendukung keinginan ini. Menariknya adalah bahwa saat ini setiap pohon buah di taman lintas komunitas ini memiliki nama sesuai dengan nama komunitas atau pribadi yang berdonasi dengan pembelian bibit buah lengkap dengan tititk koordinat. Semua tanaman buah yang berjumlah lebih dari 300 pohon ini memiliki sertifikat lengkap dengan keterangan pohon buah tersebut.

Ke depan, seiiring dengan semakin teduhnya kawasan oleh pepohonan buah, diharapkan lokasi tersebut dapat dikembangkan untuk wisata kebun buah keluarga dan pengembangan beberapa spot glamour camping (glamping)

 

ADVENTURE TRACK:

Kawasan tebing Breksi ternyata memiliki begitu banyak keunggulan lain. Bekas penambangan ini pada akhirnya juga memiliki tawaran lain. Bekas penambangan ini menjadi salah satu wahana baru bagi pecinta dunia otomotif terutama trail dan off road. Selain gundukan yang sangat sulit, medan melewati kubangan air berlumpur juga salah satu tantang terberat bagi mereka yang menyukai kegiatan satu ini. Track tebing Breksi ini juga dikenal sebagai track yang memacu adrenalin tersendiri karena ektrimnya lokasi.

Sejumlah kegiatan yang mulai di lakukan di sana diantaranya Kejurnas off road jogja, Kejurnas adventure offroad team putaran 2, dan masih banyak lagi. Selain sebagai tempat gathering komunitas dengan kapasitas yang lebih dari cukup ternyata ada tawaran menarik juga bagi komunitas adventure yang harapan ke depan akan menjadi terkemuka di Indonesia jika perlu dunia tentunya. Dalam hal pengembangan sirkuit offroad. Selanjutnya, Tebing Breksi berpeluang untuk menjadi barometer pengembangan olah raga adu nyali pada level nasional. Peluang pengembangan itu didukung oleh kesiapan infrastruktur pendukung untuk dilakukannya hajatan offroad, karena lokasi yang tidak begitu jauh dari kota dan tentu saja karena Jogja adalah daerah tujuan wisata.

Beberapa kesempatan perhelatan offroad ronde nasional diselenggarakan di tempat ini, dan dalam kesempatan ke depan untuk menjajal adrenaline tidak hanya dengan menonton apabila ada latihan atau kejuaraan. Harapannya, pengembangan wahana menjajal nyali dapat dinikmati wisatawan umum melalui paket pengembangan yang akan dilakukan oleh pengelola Tebing Breksi dengan Ikatan Motor Indonesia (IMI) dan Indonesian Offroad Federation (IOF). Selain agenda otomotif offroad, agenda adventure skala nasional yang juga telah digelar di Kawasan Tebing Breksi adalah Gelaran Indonesian DownHill Championship , yang digelar pada beberapa bulan yang lalu.

 

LOWO IJO, SANG PENGELOLA TEBING BREKSI TAMAN KULINER:

Berbicara tentang kawasan wisata tentu saja tak akan lepas dari tersedianya fasilitas akses jalan, tempat ibadah, dan toilet. Semua fasilitas ini sekarang tersedia di kawasan tebing Breksi dan yang tak kalah penting adalah fasilitas “kuliner.” Saat ini telah tersedia pada sisi timur tebing Breksi ini kawasan kuliner yang menyediakan berbagai pilihan menu untuk dinikmati yang dilayani oleh para pelaku yang dulunya adalah “veteran penambang.” Dinas pariwisata secara khusus mendesign kawasan kuliner ini dengan titik koordinat yang sangat cantik di mana menikmati kuliner dengan “lesehan” dan sekaligus menikmati pemandangan yang menarik.

 

SHIVA PLATEU:

Pengembangan Pariwisata tebing Breksi menjadi semakin lengkap dengan adanya fasilitas lain yang ditawarkan, yakni adanya jasa penyewaan jeep wisata yang akan memanjakan wisatawan menikmati kawasan wisata dengan memilih paket-paket yang disediakan dengan berbagai pilihan rute berdasarkan waktu tempuh.

Saat ini terdapat tak kurang dari 25 armada jeep tersedia bagi wisatawan yang dikelola. Tak hanya kawasan tebing Breksi saja rute jeep wisata ini, tetapi juga menyentuh pada destinasi-destinasi lain disekitar tebing Breksi seperti ke candi Barong, Spot Riyadi, Candi Ijo, bahkan bisa sampai pilihan rute ke Langgeran.

 

LampiranUkuran
PDF icon #AYOngabubuTRIP di Tebing Breksi4.49 MB