COVID-19 dan Nataru

Pemerintah menerbitkan buku saku tanya jawab Nataru 2021/2022. Isinya adalah kebijakan perayaan tahun baru 2022, kebijakan seputar pusat perbelanjaan dan wisata, kebijakan ibadah natal 2021, syarat dan ketentuan bepergian di dalam dan ke luar negeri.

Selain itu membahas tentang potensi gelombang ketiga COVID-19, bagaimana potensi lonjakan kasusnya dan bagaimana pentingnya pengetatang dan pembatasan aktivitas warga.

Juga hal yang terakhir adalah informasi COVID-19 terbaru tentang virus, gejala dan bahaya, bagaimana penangangannya, vaksinasi dan informasi terkini terkait COVID-19.

Pertanyaan pertama dalam buku saku tanya jawab Nataru 2021/2022 ini adalah Apakah masyarakat dapat merayakan Tahun Baru 2022? dimana dalam buku ini dijawab bahwa Perayaan sedapat mungkin dilakukan di rumah bersama anggota keluarga maupun di lingkungan masing-masing yang tidak berpotensi menimbulkan kerumunan.

Larangan-larangan selama perayaan Tahun Baru 2022 adalah Penyelenggaraan acara perayaan baik terbuka maupun tertutup yang berpotensi menimbulkan kerumunan, Pawai dan arak-arakan Tahun Baru, dan Event perayaan Nataru di Pusat Perbelanjaan, kecuali pameran UMKM.

Selama Nataru masyarakat boleh bepergian ke pusat perbelanjaan dengan syarat Penggunaan aplikasi PeduliLindungi secara ketat kepada setiap orang kecuali usia di bawah 18 tahun dengan catatan hanya kategori hijau yang diperkenankan masuk; Memastikan kondisi kesehatan sebelum memutuskan untuk bepergian dan berkegiatan; Jam operasional 09.00 - 22.00 WIB; Pembatasan kapasitas 50% dari kapasitas total pusat perbelanjaan dan mall; Bioskop dapat dibuka dengan pembatasan maksimal 50% kapasitas total, dan; Kegiatan makan dan minum dilakukan dengan pembatasan 50% kapasitas total.

Bagaimana dengan tempat wisata, karena berwisata adalah sarana refreshing yang ditunggu-tunggu untuk merayakakan tahun baru 2022? Ternyata diperbolehkan.

Jadi masyarakat diperolehkan melakukan wisata selama Nataru dengan syarat Penggunaan aplikasi PeduliLindungi secara ketat kepada setiap orang kecuali usia di bawah 18 tahun dengan catatan hanya kategori hijau yang diperkenankan masuk; Memastikan kondisi kesehatan sebelum memutuskan untuk bepergian dan berkegiatan; Pembatasan kegiatan seni budaya dan tradisi baik keagamaan maupun non keagamaan yang biasa dilakukan sebelum pandemi COVID-19 ; Tidak ada kerumunan yang menyebabkan tidak bisa jaga jarak; Pembatasan jumlah wisatawan sampai dengan 50% dari kapasitas total; Pengaturan ganjil-genap untuk kunjungan tempat-tempat wisata prioritas.

Bagaimanakah beribadah Natal 2021 selama Pandemi ini? Perayaan Natal 2021 diperbolehkan dengan ketentuan bahwa Gereja membentuk Satuan Tugas Protokol Kesehatan Penanganan COVID-19 yang berkoordinasi dengan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Daerah; Hendaknya dilakukan secara sederhana dan tidak berlebihan; Diselenggarakan secara hybrid, yaitu secara berjamaah di gereja maksimal 50% kapasitas total gereja dan secara daring dengan tata ibadah yang telah disiapkan pengurus gereja; Pengecekan suhu (bila suhu>37,3° C tidak diperkenankan masuk) termasuk melarang masuk jemaah yang mengalami batuk, pilek, atau sesak.

Pengurus dan pengelola Gereja dalam melakukan perayaan natal diharuskan untuk Menyiapkan petugas untuk mengawasi penerapan protokol kesehatan di area gereja; Menggunakan aplikasi PeduliLindungi di pintu masuk dan keluar gereja dengan catatan hanya yang berkategori hijau dan kuning yang boleh masuk; Mengatur jumlah jemaat/ umat/ pengguna gereja dalam waktu bersamaan untuk menghindari kerumunan; Menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus di lantai/ kursi minimal satu meter; Menyiapkan alat pendukung prokes, pengecekan suhu, fasilitas cuci tangan, dan petugas pengawasan prokes; Mengoptimalkan sirkulasi udara dan sinar matahari masuk rumah ibadah; Melakukan desinfeksi dan pembersihan area gereja secara berkala.

Syarat melakukan perjalanan di dalam negeri pada masa Nataru (24 Desember 2021 s.d. 2 Januari 2022), adalah:

  1. Pelaku perjalanan jarak jauh dengan seluruh moda transportasi (darat, laut, maupun udara) wajib menunjukkan kartu vaksin dosis lengkap dan hasil negatif antigen dengan maksimal waktu pengambilan sampel 1 x 24 jam.

  2. Syarat tersebut dikecualikan bagi perjalanan rutin dengan moda transportasi darat dalam satu wilayah aglomerasi dan moda transportasi perintis di wilayah perbatasan dan 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).

  3. Pelaku perjalanan dalam negeri di bawah 12 tahun diwajibkan menunjukkan negatif PCR dengan maksimal waktu pengambilan sampel 3 x 24 jam dan dikecualikan syarat kartu vaksin.

  4. Pelaku perjalanan usia dewasa (di atas 17 tahun) yang tidak vaksin dosis lengkap karena alasan medis ataupun belum mendapatkan vaksin dosis lengkap akan dibatasi mobilitasnya.

Apa saja syarat dan ketentuan perjalanan kendaraan logistik dan transportasi barang lainnya yang melakukan perjalanan dalam negeri selama fase Nataru 2021?

  1. Untuk wilayah Pulau Jawa dan Pulau Bali berlaku ketentuan sebagai berikut:

    1. Kartu vaksin dosis lengkap + rapid test antigen dengan maksimal waktu pengambilan sampel 14 x 24 jam.

    2. Kartu vaksin dosis pertama + rapid test dengan maksimal waktu pengambilan sampel antigen 7 x 24 jam.

    3. Rapid test antigen dengan maksimal waktu pengambilan sampel 1 x 24 jam apabila belum mendapatkan vaksinasi.

  2. Untuk wilayah luar Pulau Jawa dan Pulau Bali, wajib menunjukan surat keterangan hasil negatif rapid test antigen yang sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 1 x 24 jam sebelum keberangkatan serta dikecualikan dari ketentuan menunjukan kartu vaksin.

WNI yang berada di luar negeri dan ingin pulang ke Indonesia pada saat Nataru 2021 ini harus menyiapkan kartu vaksinasi dosis lengkap dan hasil PCR dengan maksimal waktu pengambilan sampel 3 x 24 jam. Karantina yang disiapkan ada 2 yaitu Karantina 14 hari, bila berasal dari negara/ wilayah yang ditutup sementara untuk masuk Indonesia karena terbukti adanya penularan varian baru COVID-19 jenis Omicron dan; Karantina 10 hari, bagi seluruh perjalanan internasional dari negara lainnya.

Karantina bagi WNI yang pulang ke Indonesia ditanggung oleh pemerintah untuk WNI yang merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI), Pelajar/ Mahasiswa yang telah menamatkan studinya di luar negeri, atau Pegawai Pemerintah yang kembali dari dinas luar negeri. Apabila dalam pemeriksaan RT PCR selama karantina ditemukan hasil positif, WNI akan diberikan perawatan di rumah sakit dengan biaya ditanggung oleh pemerintah.

WNA yang tidak boleh masuk ke Indonesia adalah WNA yang memiliki riwayat selama 14 hari dari negara/ wilayah yang telah terkonfirmasi adanya penularan COVID-19 jenis Omicron (Misalnya Afrika Selatan, Botswana, dan Hongkong) dan negara/ wilayah yang secara geografis berdekatan dengan negara tersebut (Misalnya Angola, Zambia, Zimbabwe, Malawi, Mozambique, Namibia, Eswatini, dan Lesotho).

Pentingnya buku tanya jawab ini salah satunya adalah untuk mencegah lonjakan kembali atau gelombang ketiga COVID-19 di Indonesia. Jadi apakah lonjakan kasus gelombang ketiga COVID-19 dapat terjadi setelah libur panjang Nataru 2021?.

Lonjakan kasus gelombang ketiga COVID-19 mungkin saja terjadi mengingat:

  1. Perkembangan kasus COVID-19 di beberapa negara mengalami peningkatan.

  2. Kedisiplinan masyarakat terhadap kerumunan dan menjalankan protokol kesehatan.

  3. Potensi peningkatan mobilitas masyarakat selama Nataru 2021.

  4. Perkembangan mutasi virus COVID-19, khususnya varian Omicron yang sudah ditemukan di Indonesia.

  5. Cakupan vaksinasi dosis lengkap masyarakat yang belum merata.

  6. Peningkatan kasus yang signifikan pada tiga agenda libur panjang sebelumnya, yaitu, Libur Idul Fitri 2020, Libur kolektif Maulid Nabi dan Natal 2020, dan Libur Idul Fitri 2021.

Pentinya pencegahan Gelombang ketiga adalah terkendalinya kasus COVID-19 di Indonesia saat ini sangat diharapkan agar terhindar dari lonjakan kasus gelombang ketiga. Hal ini dapat mengakhiri pandemi dan Indonesia dapat memasuki tahapan endemi COVID-19. Endemi merupakan keadaan dimana penyebaran virus terbatas pada daerah tertentu dalam jumlah dan frekuensi yang rendah sehingga mereka yang tertular akan mendapatkan penanganan yang maksimal. Untuk itu diharapkan momen Nataru mendatang menjadi pembuktian Indonesia kepada dunia. Bahwa Indonesia mampu dengan baik mengantisipasi lonjakan kasus walau memasuki periode libur panjang.

PPKM masih diperlukan sebab Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) telah berkontribusi terhadap penurunan kasus harian COVID-19 yang signifikan di Indonesia.

Pertimbangkan untuk melakukan perjalanan Internasional karena Kasus COVID-19 di beberapa negara Eropa, Afrika dan Amerika saat ini melonjak tajam mencapai rekor tertinggi seiring dengan menyebarnya varian Omicron yang memiliki daya tular lima kali lipat dari varian Delta. Indonesia adalah salah satu negara paling aman dari COVID-19. Jika kita keluar negeri, maka kita akan keluar dari zona aman menuju zona berbahaya. Jika kembali, nanti akan berpotensi membawa Omicron ke Indonesia dan pastinya akan merusak situasi yang sudah kondusif ini. Penting sekali bagi kita untuk saling menjaga orang-orang terdekat agar tidak tertular COVID-19, terlebih dengan adanya varian Omicron saat ini.

Pertanyaan mendasar:

Apa itu COVID-19?

Corona virus penyakit menular yang disebabkan oleh coronavirus jenis baru yaitu SARS- CoV-2. Saat ini COVID-19 sudah menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Apa saja gejala orang yang menderita penyakit COVID-19?

Demam/ riwayat demam, batuk, nyeri tenggorokan, pilek, sesak nafas, diare, lemas, sakit kepala, nyeri otot, pilek/ hidung tersumbat, mual, muntah, hilangnya kemampuan indra penciuman dan/atau hilangnya kemampuan indra perasa.

Kenapa virus COVID-19 dapat bermutasi?

Tingkat infeksi yang tinggi berpeluang meningkatkan terjadinya lebih banyak mutasi, karena mutasi merupakan upaya virus untuk bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan kondisi target sasarannya, yaitu manusia.

Cegah mutasi virus dengan menghambat penularannya. Disiplin terapkan protokol kesehatan dan segera vaksinasi.

Bagaimana virus COVID-19 menyebar?

Virus COVID-19 menyebar melalui droplet atau percikan ludah yang masuk langsung ke tubuh melalui mata, hidung, dan mulut, atau jika tangan menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh wajah (mata, hidung, mulut).

Bagaimana mengetahui seseorang terkena COVID-19 secara pasti?

Orang yang memiliki gejala COVID-19 akan diambil sampel swab/ usap melalui hidung dan tenggorokannya. Sampel tersebut selanjutnya akan diperiksa dengan deteksi molekuler (seperti RT- PCR) atau Rapid Diagnostic Test Antigen (RDT-Ag)

Mengapa orang yang tidak punya gejala atau keluhan COVID-19 perlu dites menggunakan pemeriksaan COVID-19?

Saat ini, pemeriksaan COVID-19 menggunakan Tes Usap Rapid Antigen dan PCR. Manfaat pemeriksaan ini adalah untuk menemukan yang positif COVID-19 agar bisa segera diisolasi ketat sehingga penularan terhenti.

Apa yang harus dilakukan seseorang bila memiliki riwayat kontak dengan orang terkonfirmasi COVID-19?

  1. Lapor kepada petugas Kesehatan setempat.

  2. Lakukan pemeriksaan awal (entry test) dengan RT-PCR ataupun RDT-Ag.

    1. Bila hasilnya positif, maka lakukan isolasi sesuai instruksi petugas Kesehatan.

    2. Bila hasilnya negatif, maka lakukan karantina selama 5 hari.

      Setelah 5 hari, lakukan pemeriksaan keluar (exit test) dengan RT-PCR ataupun RDT-Ag.

      1. Bila hasilnya positif, maka lakukan isolasi sesuai instruksi petugas Kesehatan

      2. Bila hasilnya negatif, maka orang tersebut dinyatakan bebas tertular COVID-19.

Apakah perbedaan karantina dan isolasi?

Karantina merupakan kegiatan memisahkan seseorang yang belum pasti COVID-19 baik kontak erat atau riwayat bepergian (luar negeri) dari lingkungannya. Sedangkan isolasi merupakan kegiatan memisahkan orang terkonfirmasi COVID-19 dari lingkungannya.

Pemantauan karantina dan isolasi dilakukan tracer dan petugas kesehatan

Mengapa harus melakukan isolasi/ karantina?

Untuk menjaga supaya orang-orang di sekitar kita tidak tertular dan memudahkan tracer dan petugas kesehatan untuk memantau kesehatan orang yang dikarantina/isolasi,

Apabila saya terkonfirmasi COVID-19, berapa lama waktu isolasi yang dibutuhkan?

Apabila anda tidak bergejala, lakukan isolasi selama 10 hari sejak waktu pemeriksaan anda terkonfirmasi positif.

Apabila anda bergejala, lakukan isolasi selama minimal 10 hari sejak muncul gejala ditambah sekurang-kurangnya 3 hari bebas gejala.

Isolasi harus dilakukan dengan pemantauan dari petugas kesehatan setempat

Apabila saya sudah menyelesaikan masa isolasi saya, apakah saya harus melakukan pemeriksaan COVID-19 untuk memastikan bahwa saya sembuh dan hasilnya sudah negatif?

Tidak perlu, karena virus tidak hidup ditubuh manusia lebih dari 10 hari sejak gejala pertama muncul.

Hasilnya bisa saja negatif, masih positif, atau bahkan hingga 3 bulan kemudian masih positif. Sebab, apa yang terdeteksi oleh tes swab PCR tersebut hanyalah menandakan sisa bangkai atau virus yang sudah tidak aktif dan tidak menularkan.

Namun, pada pasien bergejala berat atau kritis mungkin masih dapat dipertimbangkan pemeriksaan PCR ulang sesuai petunjuk tenaga kesehatan setempat.

Selesainya masa isolasi harus mengikuti petunjuk tenaga kesehatan setempat.

Apakah kita bisa sembuh dari COVID-19?

Ya. Orang yang sakit COVID-19 bisa sembuh jika dirawat sesuai dengan anjuran dokter dan petugas kesehatan lainnya, seperti menerapkan protokol kesehatan, melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat, makan makanan bergizi, istirahat yang cukup, disiplin dalam melaksanakan isolasi.

Apakah sakit COVID-19 berbahaya?

Ya, virus COVID-19 ini berbahaya dan menyebar dengan cepat. Jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan sakit parah dan bahkan kematian, terutama pada kelompok orang rentan seperti orang lanjut usia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta seperti penyakit jantung, penyakit darah tinggi, penyakit paru, penyakit kencing manis, dan lain-lain.

Angka kesembuhan kasus COVID-19 di Indonesia diatas 95%, kenapa kita masih harus tetap waspada dengan COVID-19?

Betul, tingkat kesembuhan kasus COVID-19 di Indonesia saat ini mencapai 96,5%.Namun perlu diingat adanya 3,38% atau 143,936 kasus kematian yang terjadi karena COVID-19.

Berdasarkan data yang ada, pasien positif COVID-19 dengan usia ≥ 60 tahun memiliki risiko tertinggi kematian (13,40%) terutama pada laki-laki, disusul kedua tertinggi dengan pasien berusia 46- 59 tahun dengan risiko kematian 5,53%.

Mari sama-sama tingkatkan kewaspadaan, putus rantai penularan COVID-19, dan segerakan vaksinasi seluruh anggota keluarga agar mereka yang kita sayangi terlindungi secara optimal.

Apa yang perlu kita lakukan agar tidak tertular COVID-19?

Patuhi protokol kesehatan antara lain memakai masker kain 3 lapis atau masker medis, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas, menerapkan etika batuk, menjaga kesehatan dengan makan yang bergizi seimbang, istirahat cukup, kelola stres, tidak merokok dan olahraga teratur.

Mengapa setelah divaksin kita pasti masih bisa tertular COVID-19?

Karena vaksin tidak 100% membuat kita kebal terhadap COVID-19. Namun, akan mengurangi dampak yang ditimbulkan jika kita tertular COVID-19. Maka dari itu, vaksinasi harus tetap diikuti dengan kepatuhan protokol kesehatan.

Dimana saya bisa mencari perkembangan terkini informasi terkait COVID-19?

Informasi lengkap perkembangan kebijakan Nataru 2021 dapat diakses melalui media sosial resmi penanganan COVID-19 di berbagai kanal dengan nama lawancovid19_id atau laman resmi www.covid19.go.id.

Demikianlah gambaran isi Buku Tanya Jawab COVID-19, Natal 2021 dan Perayaan Tahun Baru 2022. Selengkapnya baca di PDF di bawah ini.

LampiranUkuran
COVID-19 dan Nataru (1.39 MB)1.39 MB