Permenkes 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak

Permenkes 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak mencabut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak karena perlu menyesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan program perbaikan gizi masyarakat.

Standar Antropometri Anak digunakan untuk menetapkan acuan dalam penilaian status gizi dan tren pertumbuhan Anak Indonesia, sebagai rujukan untuk mengidentifikasi anak-anak yang berisiko gagal tumbuh tanpa menunggu sampai anak menderita masalah gizi, serta sebagai dasar untuk mendukung kebijakan kesehatan dan dukungan publik terkait dengan pencegahan gangguan pertumbuhan.

Permenkes 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak menyebutkan bahwa Antropometri adalah suatu metode yang digunakan untuk menilai ukuran, proporsi, dan komposisi tubuh manusia. Sedangkan Standar Antropometri Anak adalah kumpulan data tentang ukuran, proporsi, komposisi tubuh sebagai rujukan untuk menilai status gizi dan tren pertumbuhan anak.

Permenkes 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak menegaskan bahwa Anak adalah anak dengan usia 0 (nol) bulan sampai dengan 18 (delapan belas) tahun.

Permenkes 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak ditetapkan Menkes Terawan Agus Putranto di Jakarta pada tanggal 2 Januari 2020. Permenkes 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak diundangkan di Jakarta pada tanggal 8 Januari 2020 oleh Dirjen Peraturan Perundang-Undangan Kemenkumham Widodo Ekatjahjana.

Permenkes 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 7. Agar setiap orang mengetahuinya.

Permenkes 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak

Mencabut

Permenkes 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak mencabut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak.

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 11, Permenkes 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak

Latar Belakang

Pertimbangan penetapan Permenkes 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak adalah:

  1. bahwa untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas perlu didukung dengan pertumbuhan anak secara optimal;
  2. bahwa untuk mencapai pertumbuhan yang optimal pada setiap anak, diperlukan pemantauan dan penilaian status gizi dan tren pertumbuhan anak sesuai standar;
  3. bahwa standar ukuran pertumbuhan anak sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak perlu disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan program perbaikan gizi masyarakat;
  4. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Standar Antropometri Anak;

Dasar Hukum

Dasar hukum Permenkes 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak adalah:

  1. Pasal 17 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
  2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 297, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5606);
  3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
  4. Peraturan Presiden Nomor 35 tahun 2015 tentang Kementerian Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 59);
  5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1508) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 945);

Isi Permenkes tentang Standar Antropometri Anak

Isi Permenkes 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak adalah sebagai berikut (bukan format asli):

PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG STANDAR ANTROPOMETRI ANAK

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

  1. Antropometri adalah suatu metode yang digunakan untuk menilai ukuran, proporsi, dan komposisi tubuh manusia.
  2. Standar Antropometri Anak adalah kumpulan data tentang ukuran, proporsi, komposisi tubuh sebagai rujukan untuk menilai status gizi dan tren pertumbuhan anak.
  3. Anak adalah anak dengan usia 0 (nol) bulan sampai dengan 18 (delapan belas) tahun.

Pasal 2

Standar Antropometri Anak didasarkan pada parameter berat badan dan panjang/tinggi badan yang terdiri atas 4 (empat) indeks, meliputi:

  1. Berat Badan menurut Umur (BB/U);
  2. Panjang/Tinggi Badan menurut Umur (PB/U atau TB/U);
  3. Berat Badan menurut Panjang/Tinggi Badan (BB/PB atau BB/TB); dan
  4. Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).

Pasal 3

Standar Antropometri Anak wajib digunakan sebagai acuan bagi tenaga kesehatan, pengelola program, dan para pemangku kepentingan terkait untuk penilaian:

  1. status gizi anak; dan
  2. tren pertumbuhan anak.

Pasal 4

  1. Penilaian status gizi anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a dilakukan dengan membandingkan hasil pengukuran berat badan dan panjang/tinggi badan dengan Standar Antropometri Anak yang menggunakan:
    1. indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) anak usia 0 (nol) sampai dengan 60 (enam puluh) bulan;
    2. indeks Panjang Badan atau Tinggi Badan menurut Umur (PB/U atau TB/U) anak usia 0 (nol) sampai dengan 60 (enam puluh) bulan;
    3. indeks Berat Badan menurut Panjang Badan atau Tinggi Badan (BB/PB atau BB/TB) anak usia 0 (nol) sampai dengan 60 (enam puluh) bulan;
    4. Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) anak usia 0 (nol) sampai dengan 60 (enam puluh) bulan; dan
    5. Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) anak usia lebih dari 5 (lima) tahun sampai dengan 18 (delapan belas) tahun.
  2. Indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) anak usia 0 (nol) sampai dengan 60 (enam puluh) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a digunakan untuk menentukan kategori:
    1. berat badan sangat kurang (severely underweight);
    2. berat badan kurang (underweight);
    3. berat badan normal; dan
    4. risiko berat badan lebih.
  3. Indeks Panjang Badan atau Tinggi Badan menurut Umur (PB/U atau TB/U) anak usia 0 (nol) sampai dengan 60 (enam puluh) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b digunakan untuk menentukan kategori:
    1. sangat pendek (severely stunted);
    2. pendek (stunted);
    3. normal; dan
    4. tinggi.
  4. Indeks Berat Badan menurut Panjang Badan atau Tinggi Badan (BB/PB atau BB/TB) anak usia 0 (nol) sampai dengan 60 (enam puluh) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c digunakan untuk menentukan kategori:
    1. gizi buruk (severely wasted);
    2. gizi kurang (wasted);
    3. gizi baik (normal);
    4. berisiko gizi lebih (possible risk of overweight);
    5. gizi lebih (overweight); dan
    6. obesitas (obese).
  5. Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) anak usia 0 (nol) sampai dengan 60 (enam puluh) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d digunakan untuk menentukan kategori:
    1. gizi buruk (severely wasted);
    2. gizi kurang (wasted);
    3. gizi baik (normal)
    4. berisiko gizi lebih (possible risk of overweight);
    5. gizi lebih (overweight); dan
    6. obesitas (obese).
  6. Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) anak usia 5 (lima) tahun sampai dengan 18 (delapan belas) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e digunakan untuk menentukan kategori:
    1. gizi buruk (severely thinness);
    2. gizi kurang (thinness);
    3. gizi baik (normal);
    4. gizi lebih (overweight); dan
    5. obesitas (obese).
  7. Penilaian status gizi anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan, upaya kesehatan bersumber daya masyarakat, dan institusi pendidikan, melalui skrining dan survei.

Pasal 5

Dalam hal hasil penilaian status gizi anak ditemukan permasalahan gizi anak, wajib dilakukan tata laksana sesuai kebutuhan.

Pasal 6

  1. Penilaian tren pertumbuhan anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b dilakukan dengan:
    1. membandingkan pertambahan berat badan dan panjang badan atau tinggi badan dengan standar kenaikan berat badan dan pertambahan panjang badan atau tinggi badan; dan
    2. menilai kenaikan indeks massa tubuh yang terjadi di antara periode puncak adipositas (peak adiposity) dan kenaikan massa lemak tubuh (adiposity rebound).
  2. Penilaian tren pertumbuhan anak dengan membandingkan pertambahan berat badan dan panjang badan atau tinggi badan dengan standar kenaikan berat badan dan pertambahan panjang badan atau tinggi badan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a menggunakan:
    1. grafik Berat Badan menurut Umur (BB/U) dan grafik Panjang Badan atau Tinggi Badan menurut Umur (PB/U atau TB/U); dan
    2. tabel kenaikan berat badan (weight increment) dan pertambahan panjang badan atau tinggi badan (length/height increment)
  3. Penilaian tren pertumbuhan anak dengan menilai kenaikan indeks massa tubuh dini yang terjadi di antara periode puncak adipositas (peak adiposity) dan kenaikan massa lemak tubuh (adiposity rebound) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b menggunakan grafik Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) berdasarkan hasil skrining yang menggunakan grafik Berat Badan menurut Umur (BB/U).
  4. Tabel kenaikan berat badan (weight increment) dan pertambahan panjang badan atau tinggi badan (length/height increment) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b digunakan untuk menentukan kategori anak usia 0 (nol) sampai dengan 24 (dua puluh empat) bulan yang mengalami risiko gagal tumbuh (at risk of failure to thrive) atau weight faltering, dan perlambatan pertumbuhan linear yang merupakan risiko terjadinya perawakan pendek (stunted).
  5. Penilaian tren pertumbuhan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan, upaya kesehatan bersumber daya masyarakat, dan institusi pendidikan.

Pasal 7

  1. Penilaian tren pertumbuhan anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b merupakan bagian dari upaya deteksi dini risiko gagal tumbuh, kenaikan massa lemak tubuh dini, dan perawakan pendek.
  2. Jika ditemukan risiko gagal tumbuh, kenaikan massa lemak tubuh dini, dan perawakan pendek, wajib segera dilakukan tata laksana sesuai kebutuhan.

Pasal 8

Pengukuran Antropometri Anak wajib menggunakan alat dan teknik pengukuran sesuai standar.

Pasal 9

Standar Antropometri Anak, tata cara penilaian status gizi anak, dan tata cara penilaian tren pertumbuhan anak tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 10

  1. Pembinaan dan pengawasan terhadap penerapan Standar Antropometri Anak dilakukan oleh menteri kesehatan, kepala dinas kesehatan daerah provinsi, dan kepala dinas kesehatan daerah kabupaten/kota, sesuai dengan tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing.
  2. Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk peningkatan pemantauan dan penilaian status gizi dan tren pertumbuhan anak sesuai Standar Antropometri Anak.
  3. Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui:
    1. advokasi dan sosialisasi;
    2. bimbingan teknis;
    3. peningkatan kapasitas sumber daya; dan/atau
    4. monitoring dan evaluasi.

Pasal 11

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 12

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Lampiran Permenkes 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak

STANDAR ANTROPOMETRI ANAK

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

    Standar Antropometri Anak di Indonesia mengacu pada WHO Child Growth Standards untuk anak usia 0-5 tahun dan The WHO Reference 2007 untuk anak 5 (lima) sampai dengan 18 (delapan belas) tahun. Standar tersebut memperlihatkan bagaimana pertumbuhan anak dapat dicapai apabila memenuhi syarat-syarat tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dari negara manapun akan tumbuh sama bila gizi, kesehatan dan pola asuh yang benar terpenuhi. Melalui berbagai telaahan dan diskusi pakar, Indonesia memutuskan untuk mengadopsi standar ini menjadi standar yang resmi untuk digunakan sebagai standar antropometri penilaian status gizi anak melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Standar ini memiliki banyak manfaat, diantaranya:

    1. sebagai rujukan bagi petugas kesehatan untuk mengidentifikasi anak-anak yang berisiko gagal tumbuh tanpa menunggu sampai anak menderita masalah gizi.
    2. sebagai dasar untuk mendukung kebijakan kesehatan dan dukungan publik terkait dengan pencegahan gangguan pertumbuhan melalui promosi program air susu ibu, makanan pendamping air susu ibu, dan penerapan perilaku hidup sehat.

    Namun demikian dalam penerapan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, ditemukan beberapa permasalahan antara lain tidak sesuai dengan WHO Child Growth Standards dan menimbulkan banyak dilema khususnya bagi para petugas terkait yang menggunakan Keputusan Menteri tersebut.

    Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007, 2013, dan 2018 menunjukkan ketidaksesuaian istilah malnutrisi dalam bahasa Indonesia dengan klasifikasi malnutrisi menurut WHO 2006. Berat badan menurut umur seharusnya diklasifikasikan sebagai berat badan kurang atau sangat kurang. Berat badan menurut panjang/tinggi badan seharusnya diklasifikasikan sebagai gizi kurang dan gizi buruk sebagaimana mengacu pada tata laksana Moderate Acute Malnutrition (MAM) dan tata laksana Severe Acute Malnutrition (SAM) yang diterbitkan oleh WHO. Saat ini istilah wasted atau severely wasted dalam bahasa Indonesia diterjemahkan secara kurang tepat sebagai kurus atau sangat kurus. Oleh sebab itu kategori penentuan status gizi perlu dikembalikan pada istilah yang tepat guna kepentingan tata laksana lebih spesifik, yaitu gizi kurang untuk wasted dan gizi buruk untuk severely wasted.

    Demikian pula untuk kategori gemuk berdasarkan indeks berat badan (BB) menurut panjang badan (PB) atau tinggi badan (TB) di atas Z Score+2 SD, menurut WHO klasifikasinya adalah overweight. Overweight tidak selalu gemuk karena gizi lebih akibat massa otot yang berlebih pun dapat diklasifikasikan sebagai overweight. Oleh sebab itu, istilah yang lebih tepat adalah gizi lebih. Sedangkan untuk istilah sangat gemuk yang digunakan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, lebih tepat menggunakan istilah obesitas.

    Seorang anak dengan berat badan kurang belum tentu mengalami gizi kurang atau gizi buruk jika mengalami pendek (stunted) atau sangat pendek (severely stunted) maka status gizinya dapat cukup bahkan gizi lebih, sehingga penentuan status gizi perlu melihat seluruh indeks yang ada.

    Oleh sebab itu, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, yang menetapkan klasifikasi status gizi perlu direvisi serta ditambahkan penjelasan tentang penilaian status gizi dan tren pertumbuhan serta pentingnya deteksi dini risiko gagal tumbuh (at risk failure to thrive) dan kenaikan massa lemak tubuh dini (early adiposity rebound) dan tata laksana segera.

  2. Tujuan

    Penyusunan Standar Antropometri Anak bertujuan untuk menetapkan acuan dalam penilaian status gizi dan tren pertumbuhan Anak Indonesia.

BAB II
PENILAIAN STATUS GIZI ANAK

Standar Antropometri Anak digunakan untuk menilai atau menentukan status gizi anak. Penilaian status gizi Anak dilakukan dengan membandingkan hasil pengukuran berat badan dan panjang/tinggi badan dengan Standar Antropometri Anak. Klasifikasi penilaian status gizi berdasarkan Indeks Antropometri sesuai dengan kategori status gizi pada WHO Child Growth Standards untuk anak usia 0-5 tahun dan The WHO Reference 2007 untuk anak 5-18 tahun.

Umur yang digunakan pada standar ini merupakan umur yang dihitung dalam bulan penuh, sebagai contoh bila umur anak 2 bulan 29 hari maka dihitung sebagai umur 2 bulan. Indeks Panjang Badan (PB) digunakan pada anak umur 0-24 bulan yang diukur dengan posisi terlentang. Bila anak umur 0-24 bulan diukur dengan posisi berdiri, maka hasil pengukurannya dikoreksi dengan menambahkan 0,7 cm. Sementara untuk indeks Tinggi Badan (TB) digunakan pada anak umur di atas 24 bulan yang diukur dengan posisi berdiri. Bila anak umur di atas 24 bulan diukur dengan posisi terlentang, maka hasil pengukurannya dikoreksi dengan mengurangkan 0,7 cm.

  1. Indeks Standar Antropometri Anak

    Standar Antropometri Anak didasarkan pada parameter berat badan dan panjang/tinggi badan yang terdiri atas 4 (empat) indeks, meliputi:

    1. Indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U)

      Indeks BB/U ini menggambarkan berat badan relatif dibandingkan dengan umur anak. Indeks ini digunakan untuk menilai anak dengan berat badan kurang (underweight) atau sangat kurang (severely underweight), tetapi tidak dapat digunakan untuk mengklasifikasikan anak gemuk atau sangat gemuk. Penting diketahui bahwa seorang anak dengan BB/U rendah, kemungkinan mengalami masalah pertumbuhan, sehingga perlu dikonfirmasi dengan indeks BB/PB atau BB/TB atau IMT/U sebelum diintervensi.

    2. Indeks Panjang Badan menurut Umur atau Tinggi Badan menurut Umur (PB/U atau TB/U)

      Indeks PB/U atau TB/U menggambarkan pertumbuhan panjang atau tinggi badan anak berdasarkan umurnya. Indeks ini dapat mengidentifikasi anak-anak yang pendek (stunted) atau sangat pendek (severely stunted), yang disebabkan oleh gizi kurang dalam waktu lama atau sering sakit.

      Anak-anak yang tergolong tinggi menurut umurnya juga dapat diidentifikasi. Anak-anak dengan tinggi badan di atas normal (tinggi sekali) biasanya disebabkan oleh gangguan endokrin, namun hal ini jarang terjadi di Indonesia.

    3. Indeks Berat Badan menurut Panjang Badan/Tinggi Badan (BB/PB atau BB/TB)

      Indeks BB/PB atau BB/TB ini menggambarkan apakah berat badan anak sesuai terhadap pertumbuhan panjang/tinggi badannya. Indeks ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi anak gizi kurang (wasted), gizi buruk (severely wasted) serta anak yang memiliki risiko gizi lebih (possible risk of overweight). Kondisi gizi buruk biasanya disebabkan oleh penyakit dan kekurangan asupan gizi yang baru saja terjadi (akut) maupun yang telah lama terjadi (kronis).

    4. Indeks Masa Tubuh menurut Umur (IMT/U)

      Indeks IMT/U digunakan untuk menentukan kategori gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, berisiko gizi lebih, gizi lebih dan obesitas. Grafik IMT/U dan grafik BB/PB atau BB/TB cenderung menunjukkan hasil yang sama. Namun indeks IMT/U lebih sensitif untuk penapisan anak gizi lebih dan obesitas. Anak dengan ambang batas IMT/U >+1SD berisiko gizi lebih sehingga perlu ditangani lebih lanjut untuk mencegah terjadinya gizi lebih dan obesitas.

      Interpretasi dengan menggunakan indeks IMT/U untuk identifikasi masalah gizi lebih, kategori berisiko gizi lebih (possible risk of overweight) digunakan dalam penilaian tingkat individu.

      Kategori tersebut tidak termasuk dalam klasifikasi untuk hasil survei dan cakupan program.

  2. Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak

    Indeks

    Kategori Status Gizi

    Ambang Batas

    (Z-Score)

    Berat Badan menurut Umur

    (BB/U) anak usia 0- 60 bulan

    Berat badan sangat kurang (severely

    underweight)

    <-3 SD

    Berat badan kurang

    (underweight)

    - 3 SD sd <- 2 SD

    Berat badan normal

    -2 SD sd +1 SD

    Risiko Berat badan lebih1

    > +1 SD

    Panjang Badan atau Tinggi Badan menurut Umur

    (PB/U atau TB/U) anak usia 0 - 60 bulan

    Sangat pendek (severely

    stunted)

    <-3 SD

    Pendek (stunted)

    - 3 SD sd <- 2 SD

    Normal

    -2 SD sd +3 SD

    Tinggi2

    > +3 SD

    Berat Badan menurut Panjang Badan atau Tinggi Badan

    (BB/PB atau BB/TB) anak usia 0 - 60 bulan

    Gizi buruk (severely

    wasted)

    <-3 SD

    Gizi kurang (wasted)

    - 3 SD sd <- 2 SD

    Gizi baik (normal)

    -2 SD sd +1 SD

    Berisiko gizi lebih

    (possible risk of overweight)

    > + 1 SD sd + 2 SD

    Gizi lebih (overweight)

    > + 2 SD sd + 3 SD

    Obesitas (obese)

    > + 3 SD

     

    Indeks Massa Tubuh menurut Umur

    (IMT/U) anak usia 0 - 60 bulan

    Gizi buruk (severely

    wasted)3

    <-3 SD

    Gizi kurang (wasted)3

    - 3 SD sd <- 2 SD

    Gizi baik (normal)

    -2 SD sd +1 SD

    Berisiko gizi lebih

    (possible risk of overweight)

    > + 1 SD sd + 2 SD

    Gizi lebih (overweight)

    > + 2 SD sd +3 SD

    Obesitas (obese)

    > + 3 SD

    Indeks Massa Tubuh menurut Umur
    (IMT/U) anak usia 5 - 18 tahun

     

     

     

    Gizi buruk (severely

    thinness)

    <-3 SD

    Gizi kurang (thinness)

    - 3 SD sd <- 2 SD

    Gizi baik (normal)

    -2 SD sd +1 SD

    Gizi lebih (overweight)

    + 1 SD sd +2 SD

    Obesitas (obese)

    > + 2 SD

    Keterangan:

    1. Anak yang termasuk pada kategori ini mungkin memiliki masalah pertumbuhan, perlu dikonfirmasi dengan BB/TB atau IMT/U
    2. Anak pada kategori ini termasuk sangat tinggi dan biasanya tidak menjadi masalah kecuali kemungkinan adanya gangguan endokrin seperti tumor yang memproduksi hormon pertumbuhan. Rujuk ke dokter spesialis anak jika diduga mengalami gangguan endokrin (misalnya anak yang sangat tinggi menurut umurnya sedangkan tinggi orang tua normal).
    3. Walaupun interpretasi IMT/U mencantumkan gizi buruk dan gizi kurang, kriteria diagnosis gizi buruk dan gizi kurang menurut pedoman Tatalaksana Anak Gizi Buruk menggunakan Indeks Berat Badan menurut Panjang Badan atau Tinggi Badan (BB/PB atau BB/TB).
  3. Tabel Standar Antropometri dan Grafik Pertumbuhan Anak

    Penentuan status gizi anak merujuk pada tabel Standar Antropometri Anak dan grafik pertumbuhan anak, namun grafik lebih menggambarkan kecenderungan pertumbuhan anak. Baik tabel maupun grafik menggunakan ambang batas yang sama.

    Untuk menentukan status gizi anak, baik menggunakan tabel maupun grafik perlu memperhatikan keempat indeks standar antropometri secara bersamaan sehingga dapat menentukan masalah pertumbuhan, untuk dilakukan tindakan pencegahan dan tata laksana lebih lanjut.

    Tabel Standar Antropometri dan Grafik Pertumbuhan Anak (GPA) terdiri atas indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U), Berat Badan menurut Tinggi Badan BB/TB), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) dan Indeks Masa Tubuh menurut Umur (IMT/U), sebagai berikut:

    1. Tabel Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak
      1. Tabel Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak Umur 0-60 bulan

        Tabel 1. Standar Berat Badan menurut Umur (BB/U) Anak Laki-Laki Umur 0-60 Bulan

        Tabel 2. Standar Panjang Badan menurut Umur (PB/U) Anak Laki-Laki Umur 0 - 24 Bulan

        Tabel 3. Standar Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) Anak Laki-Laki Umur 24-60 Bulan

        Tabel 4. Standar Berat Badan menurut Panjang Badan (BB/PB) Anak Laki-Laki Umur 0-24 Bulan

        Tabel 5. Standar Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) Anak Laki-Laki Umur 24-60 Bulan

        Tabel 6. Standar Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) Anak Laki-Laki Umur 0-24 Bulan

        Tabel 7. Standar Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) Anak Laki-Laki Umur 24-60 Bulan

        Tabel 8. Standar Berat Badan menurut Umur (BB/U) Anak Perempuan Umur 0-60 Bulan

        Tabel 9. Standar Panjang Badan menurut Umur (PB/U) Anak Perempuan Umur 0-24 Bulan

        Tabel 10. Standar Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) Anak perempuan Umur 24-60 Bulan

        Tabel 11. Standar Berat Badan menurut Panjang Badan (BB/PB) Anak Perempuan Umur 0-24 Bulan

        Tabel 12. Standar Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) Anak perempuan umur 24-60 bulan

        Tabel 13. Standar Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) Anak Perempuan Umur 0-24 Bulan

        Tabel 14. Standar Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) Anak perempuan umur 24-60 bulan

      2. Tabel Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak Umur 5- 18 tahun.

        Tabel 15. Standar Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) Anak Laki-Laki Umur 5-18 Tahun

        Tabel 16. Standar Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) Anak perempuan umur 5-18 tahun

    2. Grafik Pertumbuhan Anak
      1. Grafik Anak Umur 0-60 bulan

        Grafik 1. Berat Badan menurut Umur Anak Laki-laki 0-24 Bulan

        Grafik 2. Berat Badan menurut Umur Anak Laki-laki 24-60 Bulan

        Grafik 3. Panjang Badan menurut Umur Anak Laki-laki 0-24 Bulan

        Grafik 4. Tinggi Badan menurut Umur Anak Laki-laki 24-60 Bulan

        Grafik 5. Berat Badan menurut Panjang Badan Anak Laki-laki 0-24 Bulan

        Grafik 6. Berat Badan menurut Tinggi Badan Anak Laki-laki 24-60 Bulan

        Grafik 7. Indeks Massa Tubuh menurut Umur Anak Laki-laki 0-24 Bulan

        Grafik 8. Indeks Massa Tubuh menurut Umur Anak Laki-laki 24-60 Bulan

        Grafik 9. Berat Badan menurut Umur Anak Perempuan 0-24 Bulan

        Grafik 10. Berat Badan menurut Umur Anak Perempuan 24-60 Bulan

        Grafik 11. Panjang Badan menurut Umur Anak Perempuan 0-24 Bulan

        Grafik 12. Tinggi Badan menurut Umur Anak Perempuan 24-60 Bulan

        Grafik 13. Berat Badan menurut Panjang Badan Anak Perempuan 0-24 Bulan

        Grafik 14. Berat Badan menurut Tinggi Badan Anak Perempuan 24-60 Bulan

        Grafik 15. Indeks Massa Tubuh menurut Umur Anak Perempuan 0-24 Bulan

        Grafik 16. Indeks Massa Tubuh menurut Umur Anak Perempuan 24-60 Bulan

      2. Grafik Anak Umur 5-18 tahun

        Grafik 17. Indeks Massa Tubuh menurut Umur Anak Laki-laki 5-18 Tahun

        Grafik 18. Indeks Massa Tubuh menurut Umur Anak Perempuan 5-18 Tahun

BAB III
PENILAIAN TREN PERTUMBUHAN ANAK

Tumbuh normal adalah pertumbuhan yang sesuai grafik pertumbuhan. Tumbuh normal merupakan gambaran kondisi status gizi dan status kesehatan yang optimal. Jika pertumbuhan berat badan dapat dipertahankan normal, maka panjang/tinggi badan dan lingkar kepala juga akan normal. Pertumbuhan bersifat simultan namun kecepatannya berbeda. Pada saat pertumbuhan berat badan mengalami weight faltering, saat itu juga panjang/tinggi badan dan lingkar kepala mengalami deselerasi.

Penilaian pertumbuhan anak harus dilakukan secara berkala. Banyak masalah fisik maupun psikososial yang dapat mempengaruhi pertumbuhan anak. Pertumbuhan yang terganggu dapat merupakan tanda awal adanya masalah gizi dan kesehatan.

Alat utama untuk mengevaluasi pertumbuhan adalah grafik pertumbuhan Berat Badan menurut Umur (BB/U), tabel kenaikan berat badan (weight increment), grafik Panjang/Tinggi Badan menurut Umur (PB/U atau TB/U), tabel pertambahan panjang badan atau tinggi badan (length/height increment), dan grafik Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) dengan mempertimbangkan umur, jenis kelamin, dan hasil pengukuran berat badan dan panjang/tinggi badan yang dilakukan secara akurat.

Penilaian tren pertumbuhan anak dilakukan dengan:

  1. Membandingkan Pertambahan Berat Badan dengan Standar Kenaikan Berat Badan

    Penilaian tren pertumbuhan anak dengan membandingkan pertambahan berat badan dengan standar kenaikan berat badan dilakukan dengan menggunakan grafik Berat Badan menurut Umur (BB/U) dan tabel kenaikan berat badan (weight increment), sebagai berikut:

    1. Penilaian Pertambahan Berat Badan Menggunakan Grafik BB/U

      Tren pertumbuhan anak mengindikasikan apakah seorang anak tumbuh normal atau mempunyai masalah, mempunyai risiko pertumbuhan yang harus dinilai ulang. Anak yang tumbuh normal, mengikuti kecenderungan yang umumnya sejajar dengan garis median dan garis-garis Z-score. Sebagian besar anak akan tumbuh mengikuti salah satu “jalur” pertumbuhan, pada atau diantara garis Z score dan sejajar terhadap median, jalur pertumbuhan mungkin saja dibawah atau diatas angka median.

      Pada waktu mengintepretasikan grafik pertumbuhan perlu diperhatikan situasi yang mungkin menunjukan ada masalah atau risiko, yaitu:

      1. garis pertumbuhan anak memotong salah satu garis Z-score
      2. garis pertumbuhan anak meningkat atau menurun secara tajam
      3. garis pertumbuhan terus mendatar, misalnya: tidak ada kenaikan berat badan
    2. Penilaian Kenaikan Berat Badan Menggunakan Tabel Kenaikan Berat Badan (Weight Increment)

      Penilaian pertumbuhan merupakan suatu proses berkelanjutan yang dinamis dan bukan hanya potret satu titik. Artinya pertambahan berat badan harus selalu dinilai dari waktu ke waktu. Gagal tumbuh atau Failure To Thrive (FTT) atau weight faltering adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan yang tidak adekuat atau ketidakmampuan untuk mempertahankan pertumbuhan, biasanya pada masa kanak-kanak awal gagal tumbuh merupakan tanda awal kekurangan gizi, harus dicari penyebabnya dan ditatalaksana segera dan bukan suatu diagnosis.

      Risiko gagal tumbuh dapat dideteksi melalui penilaian tren pertumbuhan menggunakan garis pertumbuhan serta pertambahan berat badan dari waktu ke waktu (weight velocity) dan tabel kenaikan berat badan (weight increment).

      Berikut tabel kenaikan berat badan yang terdiri dari perubahan berat badan dalam interval tiga, interval empat atau interval enam bulan dibandingkan data populasi dengan usia yang sama.

      Tabel 17. Penambahan Berat Badan Anak laki-laki dan perempuan Usia 0-24 Bulan, Interval 3 Bulan

      Tabel 18. Penambahan Berat Badan Anak laki-laki dan perempuan Usia 0-24 Bulan, Interval 4 Bulan

      Tabel 19. Penambahan Berat Badan Anak laki-laki dan perempuan Usia 0-24 Bulan, Interval 6 Bulan

  2. Membandingkan Pertambahan Panjang Badan atau Tinggi Badan dengan Standar Pertambahan Panjang Badan atau Tinggi Badan

    Penilaian tren pertumbuhan anak dengan membandingkan pertambahan panjang badan atau tinggi badan dengan standar pertambahan panjang badan atau tinggi badan dilakukan dengan menggunakan grafik Panjang/Tinggi Badan menurut Umur (PB/U atau TB/U) dan tabel pertambahan panjang badan atau tinggi badan (length/height increment), sebagai berikut:

    1. Penilaian Pertambahan Panjang/Tinggi Badan Menggunakan Grafik PB/U atau TB/U

      Tren pertumbuhan anak mengindikasikan apakah seorang anak tumbuh normal atau mempunyai risiko pertumbuhan yang harus dinilai ulang. Anak dikatakan tumbuh normal bila grafik panjang/tinggi badan sejajar dengan garis median.

    2. Penilaian Pertambahan Panjang Badan atau Tinggi Badan Menggunakan Tabel Pertambahan panjang Badan atau Tinggi Badan (length/height increment)

      Penilaian pertumbuhan merupakan suatu proses berkelanjutan yang dinamis dan bukan hanya potret satu titik. Artinya pertambahan panjang badan atau tinggi badan harus selalu dinilai dari waktu ke waktu sehingga dapat diidentifikasi segera adanya perlambatan pertumbuhan sebelum terjadi stunting. Perlambatan pertumbuhan, yang merupakan risiko terjadinya perawakan pendek dapat dideteksi melalui penilaian tren pertumbuhan menggunakan garis pertumbuhan dan tabel pertambahan panjang badan atau tinggi badan (length/height increment). Tabel 20 sampai Tabel 23 mencantumkan pertambahan panjang badan atau tinggi badan dengan interval dua, tiga, empat atau enam bulan sesuai jenis kelamin dan usia.

      Tabel 20. Penambahan Tinggi Badan Anak Laki-laki dan Perempuan Usia 0-24 Bulan, Interval 2 Bulan

      Tabel 21. Penambahan Tinggi Badan Anak laki-laki dan perempuan Usia 0-24 Bulan, Interval 3 Bulan

      Tabel 22. Penambahan Tinggi Badan Anak laki-laki dan perempuan Usia 0-24 Bulan, Interval 4 Bulan

      Tabel 23. Penambahan Tinggi Badan Anak laki-laki dan perempuan Usia 0-24 Bulan, Interval 6 Bulan

    3. Menilai Kenaikan Indeks Massa Tubuh Menurut Umur (IMT/U)

      IMT tidak selalu meningkat dengan bertambahnya umur seperti yang terjadi pada berat badan dan tinggi badan. Pada grafik IMT/U terlihat bahwa IMT bayi naik secara tajam, karena terjadi peningkatan berat badan secara cepat relatif terhadap panjang badan pada 6 bulan pertama kehidupan. Kemudian IMT menurun setelah bayi berumur 6 bulan dan tetap stabil pada umur 2 sampai 5 tahun.

      Penilaian kenaikan indeks massa tubuh dini yang terjadi di antara periode puncak adipositas (peak adiposity) dan kenaikan massa lemak tubuh (adiposity rebound) menggunakan grafik Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) berdasarkan hasil skrining yang menggunakan grafik Berat Badan menurut Umur (BB/U).

      Penentuan risiko gizi lebih merupakan upaya deteksi dini yang dilakukan untuk mengidentifikasi kelompok sasaran dalam rangka pencegahan kejadian gizi lebih dan obesitas pada anak serta untuk menghindari atau mengurangi dampak Penyakit Tidak Menular (Non Communicable Diseases) lebih lanjut yang timbul di kemudian hari. Sulitnya tatalaksana obesitas menyebabkan pencegahan menjadi prioritas utama.

BAB IV
DETEKSI DINI DAN TATA LAKSANA

Dalam rangka pencegahan masalah gizi pada anak, harus dilakukan deteksi dini di masyarakat melalui Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) antara lain posyandu, poskesdes, dan institusi pendidikan. Jika ditemukan risiko gagal tumbuh (at risk failure to thrive), kenaikan massa lemak tubuh dini (early adiposity rebound) dan risiko perawakan pendek (short stature) maka wajib segera dilakukan tata laksana sesuai kebutuhan di fasilitas pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Deteksi dini melalui UKBM misalnya posyandu, dimulai dari pemantauan pertumbuhan dengan menggunakan indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U). Hasil penimbangan berat badan di Posyandu, harus diplot pada grafik BB/U dalam Buku KIA atau KMS, bila ditemukan:

  1. Anak dengan kriteria nilai Zscore BB/U di bawah minus dua standar deviasi atau di atas satu standar deviasi (+1 SD) maka perlu dikonfirmasi oleh petugas kesehatan yang berkompeten untuk dilakukan:
    1. penilaian status gizi berdasarkan indeks BB/U, PB/U atau TB/U, BB/PB dan atau BB/TB, IMT/U
    2. penilaian tren IMT/U pada anak dengan BB/U >+1 SD (anak >7-8 bulan)
  2. Anak dengan kriteria nilai Z-score BB/U di antara minus dua standar deviasi sampai dengan kurang dari sama dengan satu standar deviasi ( -2 ≤ BB/U ≤ +1) termasuk anak yang normal, namun perlu dilihat tren pertumbuhannya.
    1. Bila tren mengikuti garis pertumbuhan (Naik), maka anak dapat kembali ke Posyandu untuk dipantau pertumbuhannya pada bulan berikutnya.
    2. Bila anak tidak ditimbang bulan sebelumnya atau tren tidak mengikuti garis pertumbuhan (Tidak Naik), maka anak perlu di dikonfirmasi oleh petugas kesehatan yang berkompeten untuk dilakukan:
      1. penilaian kenaikan berat badan dibandingkan dengan standar weight increment (khusus untuk anak 0-24 bulan)
      2. penilaian status gizi berdasarkan indeks BB/U, PB/U atau TB/U, BB/PB dan atau BB/TB, IMT/U
    Jika di Posyandu terdapat sumber daya untuk melakukan pengukuran panjang badan atau tinggi badan, maka hasil pengukuran harus diplot pada grafik PB/U atau TB/U.
  3. Anak dengan kriteria PB/U atau TB/U berada di antara minus dua standar deviasi sampai dengan 3 standar deviasi ( >+3 SD atau > -2 SD) termasuk anak dengan kategori tinggi badan normal, namun perlu dilihat tren pertumbuhannya.
    1. Bila tren mengikuti garis pertumbuhan (Naik), maka anak dapat kembali ke Posyandu untuk dipantau pertumbuhannya pada bulan berikutnya.
    2. Bila anak tidak diukur bulan sebelumnya atau tren tidak mengikuti garis pertumbuhan (Tidak Naik), maka anak perlu di dikonfirmasi oleh petugas kesehatan yang berkompeten untuk dilakukan:
      1. penilaian kenaikan panjang atau tinggi badan dibandingkan dengan standar length/height increment (khusus untuk anak 0- 24 bulan)
      2. penilaian status gizi berdasarkan indeks BB/U, PB/U atau TB/U, BB/PB dan atau BB/TB, IMT/U
  4. Anak dengan kriteria nilai Zscore PB/U atau TB/U dibawah minus dua standar deviasi atau diatas tiga standar deviasi (+3 SD) perlu dikonfirmasi oleh petugas kesehatan yang berkompeten untuk dilalukan penilaian status gizi berdasarkan indeks BB/U, PB/U atau TB/U, BB/PB dan atau BB/TB, IMT/U.

Penilaian status gizi perlu melihat seluruh indeks antropometri agar dapat diketahui masalah yang sesungguhnya untuk tata laksana segera.

  1. Anak 0-24 bulan dengan kenaikan berat badan kurang dari standar weight increment berisiko mengalami gagal tumbuh. Anak ini wajib ditindaklanjuti dengan evaluasi lengkap melalui Proses Asuhan Gizi dan dilakukan pemeriksaan untuk kemungkinan adanya penyakit penyerta atau dirujuk.
  2. Anak dengan BB/PB atau BB/TB di bawah minus dua atau di bawah minus tiga standar deviasi termasuk gizi kurang atau gizi buruk sehingga wajib mendapatkan intervensi berupa pencegahan dan tatalaksana gizi buruk pada balita atau dirujuk.
  3. Anak dengan IMT/U lebih dari satu standar deviasi (>+1 SD) atau anak usia lebih dari 7-8 bulan dengan tren IMT meningkat berisiko mengalami kenaikan lemak tubuh dini (early adiposity rebound). Anak ini wajib ditindaklanjuti dengan intervensi pencegahan dan tatalaksana gizi lebih pada balita atau dirujuk.
  4. Anak 0-24 bulan dengan kenaikan panjang badan kurang dari standar length increment berisiko mengalami perlambatan pertumbuhan linear. Anak ini wajib ditindaklanjuti dengan evaluasi lengkap melalui Proses Asuhan Gizi dan dilakukan pemeriksaan untuk kemungkinan adanya penyakit penyerta atau dirujuk.
  5. Anak dengan PB/U atau TB/U dibawah minus dua standar deviasi ( +3 SD), artinya anak berperawakan tinggi dan perlu dirujuk ke fasyankes yang lebih tinggi untuk deteksi dini penyebabnya sehingga dapat ditatalaksana segera (misalnya anak yang sangat tinggi menurut umurnya sedangkan tinggi orang tua normal).

BAB V
PENUTUP

Standar Antropometri Anak digunakan untuk menetapkan acuan dalam penilaian status gizi dan tren pertumbuhan Anak Indonesia, sebagai rujukan untuk mengidentifikasi anak-anak yang berisiko gagal tumbuh tanpa menunggu sampai anak menderita masalah gizi, serta sebagai dasar untuk mendukung kebijakan kesehatan dan dukungan publik terkait dengan pencegahan gangguan pertumbuhan.

Dengan ditetapkannya Standar Antropometri Anak, diharapkan dapat memberikan acuan pelaksanaan dan pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan di pusat dan daerah, serta pengguna pada berbagai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan utamanya dalam rangka upaya perbaikan gizi masyarakat.