Permenkes 22 tahun 2016 tentang Pedoman Optimasi Fungsi Otak Anak SD-MI

Pedoman mengoptimalkan fungsi-fungsi pada otak anak ada dalam Permenkes 22 tahun 2016. Permenkes 22 tahun 2016 tentang Pedoman Optimasi Fungsi Otak Anak SD-MI bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan pemangku kepentingan akan pentingnya fungsi otak dalam menunjang pembelajaran yang efektif pada anak usia sekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Permenkes 22 tahun 2016 tentang Pedoman Optimasi Fungsi Otak Pada Pembelajaran Anak Usia Sekolah Di Tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) berfikir bahwa anak usia sekolah adalah investasi bangsa, karena pada usia inilah pertama kali anak diperkenalkan dengan dunia pendidikan formal dimana anak dituntut mampu menerapkan kemampuan intelektualnya dalam memecahkan berbagai masalah sehingga dapat menjadi generasi penerus. Kualitas bangsa di masa depan sangat ditentukan oleh kualitas anak-anak pada masa ini, yang ditentukan oleh kualitas dan kuantitas pendidikan (sekolah). Kualitas dan kuantitas pendidikan yang baik dan benar pada anak usia sekolah merupakan tanggung jawab kita bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

Orangtua dan guru adalah sosok pendamping saat anak melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Peranan mereka sangat dominan dan menentukan kualitas hidup anak di kemudian hari, sehingga sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui dan memahami tumbuh kembang serta cara mengoptimalkan potensi anak usia sekolah. Peningkatan perhatian terhadap tumbuh kembang dan optimasi potensi pada anak usia sekolah tersebut, diharapkan dapat menjadikan anak usia sekolah Indonesia yang sehat, cerdas, kreatif, berprestasi, dan bermoral.

Setiap anak memiliki kemampuan belajar yang berbeda. Gardner (2004), mengemukakan bahwa ada tiga hal penting dalam tipe belajar yang mendasari perkembangan kecerdasan anak yaitu (1) kemampuan untuk menangkap informasi, (2) kemampuan memahami informasi, dan (3) kemampuan untuk menyimpan informasi dalam memori. Modalitas belajar tersebut terdiri dari visual, auditorik, dan kinestetik. Hal ini dapat menjelaskan mengapa ada anak yang mudah belajar membaca (visual), adapula yang senang belajar dengan mempraktikan langsung materi pembelajaran yang sedang dipelajari (kinestetik), dan ada pula anak lain yang mudah belajar dengan mendengarkan ceramah atau rekaman (auditorik).

Sperry (1950), menyatakan bahwa kematangan anak dalam belajar juga dipengaruhi lateralisasi fungsi penalaran pada belahan hemisfer kiri dan kanan. Hemisfer kiri lebih berkembang kemampuan penalaran konvergen yaitu penalaran induksi yang berorientasi dalam berpikir konkrit untuk memahami persoalan detail. Sedangkan hemisfer kanan berkembang kemampuan penalaran divergen yaitu penalaran deduksi yang berorientasi dalam berpikir abstrak untuk memahami persoalan holistik. Hal ini diperkuat oleh temuan Zeki yang menyatakan hal yang sama (Zeki, 2001).

Otak terletak di dalam batok kepala dan melanjut menjadi saraf tulang belakang (medulla spinalis). Berat otak kurang lebih 1400 gram atau kira-kira 2 % dari berat badan. Tidak ada hubungan langsung antara berat otak dan besarnya kepala dengan tingkat kecerdasan. Otak bertambah besar, namun tetap berada dalam tengkorak sehingga semakin lama akan semakin berlekuk-lekuk. Semakin dalam lekukan pertanda semakin banyak informasi yang disimpan, dan semakin cerdaslah pemiliknya.

Permenkes 22 tahun 2016 tentang Pedoman Optimasi Fungsi Otak Anak SD-MI digunakan sebagai acuan bagi tenaga kesehatan pengelola Unit Kesehatan Sekolah, pengelola program, guru, orang tua, dan lintas sektor, serta pemangku kepentingan lainnya dalam pelaksanaan asesmen pembelajaran berbasis otak di tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Ruang lingkup Permenkes 22 tahun 2016 tentang Pedoman Optimasi Fungsi Otak Pada Pembelajaran Anak Usia Sekolah Di Tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) meliputi upaya dalam mengoptimalkan fungsi otak untuk menunjang kondisi anak usia sekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) dalam proses pembelajaran yang efektif dan efisien untuk meraih prestasi.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 22 tahun 2016 tentang Pedoman Optimasi Fungsi Otak pada Pembelajaran Anak Usia Sekolah di Tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) ditetapkan Menkes Nila Farid Moeloek pada 9 Mei 2016 di Jakarta.

Optimasi Fungsi Otak pada pembelajaran anak usia sekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) diimplementasikan dengan pengembangan pembelajaran berbasis otak berdasarkan strategi utama meliputi menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir anak; menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan; menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi anak (active learning); menciptakan media pendidikan/pembelajaran yang dapat digunakan untuk menstimulasi optimasi fungsi otak belahan kanan dan kiri; dan menciptakan sistem asesmen yang dapat mengakomodasi evaluasi perkembangan anak usia sekolah yang terwujud dalam optimasi fungsi otak anak.

Pengembangan pembelajaran berbasis otak dilaksanakan melalui penerapan model pembelajaran terpadu dalam bentuk pembelajaran tematik berbasis fungsi otak. Pembelajaran tematik berbasis fungsi otak dikembangkan dengan langkah menganalisis fokus perkembangan anak usia sekolah (6—9 tahun (kelas 1-3 Sekolah Dasar (SD)) dan 10-12 tahun (kelas 4-6 Sekolah Dasar (SD))); mengembangkan tema untuk pembelajaran tematik; mengembangkan Rancangan Program Pembelajaran (RPP); melaksanakan Rancangan Program Pembelajaran (RPP); penilaian pencapaian hasil belajar; dan umpan balik penilaian hasil belajar.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 22 tahun 2016 tentang Pedoman Optimasi Fungsi Otak pada Pembelajaran Anak Usia Sekolah di Tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) diundangkan Dirjen PP Kemenkumham Widodo Ekatjahjana di Jakarta pda tanggal 6 Juni 2016.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 22 tahun 2016 tentang Pedoman Optimasi Fungsi Otak pada Pembelajaran Anak Usia Sekolah di Tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) ditempatkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tahun 2016 Nomor 829. Agar setiap orang mengetahuinya.

Permenkes 22 tahun 2016 tentang Pedoman Optimasi Fungsi Otak Anak SD-MI

Latar Belakang

Pertimbangan dalam Permenkes 22 tahun 2016 tentang Pedoman Optimasi Fungsi Otak Anak SD-MI adalah:

  1. bahwa untuk menjadikan anak usia sekolah Indonesia yang sehat, cerdas, kreatif, berprestasi, dan bermoral perlu meningkatkan kualitas tumbuh kembang dan optimasi potensi pada anak usia sekolah;

  2. bahwa untuk meningkatkan dan mengoptimalkan fungsi otak dalam pembelajaran anak di Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) perlu disusun pedoman optimasinya;

  3. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Optimasi Fungsi Otak Pada Pembelajaran Anak Usia Sekolah Di Tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI);

Dasar Hukum

Dasar hukum Permenkes 22 tahun 2016 tentang Pedoman Optimasi Fungsi Otak Anak SD-MI adalah:

  1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1979 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3143);

  2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 297, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5606);

  3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);

  4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

  5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

  6. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5670);

  7. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4769);

  8. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 193);

  9. Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri Nomor 1/U/SKB/2003, Nomor 1067/Menkes/VII/2003, Nomor MA/230 A/2003, Nomor 26 Tahun 2003 tentang Pembinaan Dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah;

  10. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 810);

  11. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 972);

  12. Peraturan Menteri Agama Nomor 90 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Madrasah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 1382);

  13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1508);

Isi Permenkes 22 tahun 2016

Berikut adalah isi Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 22 tahun 2016 tentang Pedoman Optimasi Fungsi Otak pada Pembelajaran Anak Usia Sekolah di Tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI), bukan format asli:

PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PEDOMAN OPTIMASI FUNGSI OTAK PADA PEMBELAJARAN ANAK USIA SEKOLAH DI TINGKAT SEKOLAH DASAR (SD)/MADRASAH IBTIDAIYAH (MI).

Pasal 1

  1. Pengaturan Pedoman Optimasi Fungsi Otak Pada Pembelajaran Anak Usia Sekolah Di Tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan pemangku kepentingan akan pentingnya fungsi otak dalam menunjang pembelajaran yang efektif pada anak usia sekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI).

  2. Pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai acuan bagi tenaga kesehatan pengelola Unit Kesehatan Sekolah, pengelola program, guru, orang tua, dan lintas sektor, serta pemangku kepentingan lainnya dalam pelaksanaan asesmen pembelajaran berbasis otak di tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Pasal 2

Ruang lingkup Pedoman Optimasi Fungsi Otak Pada Pembelajaran Anak Usia Sekolah Di Tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) meliputi upaya dalam mengoptimalkan fungsi otak untuk menunjang kondisi anak usia sekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) dalam proses pembelajaran yang efektif dan efisien untuk meraih prestasi.

Pasal 3

Optimasi Fungsi Otak pada pembelajaran anak usia sekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) diimplementasikan dengan pengembangan pembelajaran berbasis otak berdasarkan strategi utama sebagai berikut:

  1. menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir anak;

  2. menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan;

  3. menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi anak (active learning);

  4. menciptakan media pendidikan/pembelajaran yang dapat digunakan untuk menstimulasi optimasi fungsi otak belahan kanan dan kiri; dan

  5. menciptakan sistem asesmen yang dapat mengakomodasi evaluasi perkembangan anak usia sekolah yang terwujud dalam optimasi fungsi otak anak.

Pasal 4

  1. Pengembangan pembelajaran berbasis otak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dilaksanakan melalui penerapan model pembelajaran terpadu dalam bentuk pembelajaran tematik berbasis fungsi otak.

  2. Pembelajaran tematik berbasis fungsi otak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembangkan dengan langkah sebagai berikut:

    1. menganalisis fokus perkembangan anak usia sekolah (6-9 tahun (kelas 1-3 Sekolah Dasar (SD)) dan 10-12 tahun (kelas 4-6 Sekolah Dasar (SD)));

    2. mengembangkan tema untuk pembelajaran tematik;

    3. mengembangkan Rancangan Program Pembelajaran (RPP);

    4. melaksanakan Rancangan Program Pembelajaran (RPP);

    5. penilaian pencapaian hasil belajar; dan

    6. umpan balik penilaian hasil belajar.

Pasal 5

Ketentuan lebih lanjut mengenai Pedoman Optimasi Fungsi Otak Pada Pembelajaran Anak Usia Sekolah Di Tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 6

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Demikian bunyi Permenkes 22 tahun 2016 tentang Pedoman Optimasi Fungsi Otak Anak SD-MI.