Vaksin atau Tidak?

vaksin atau tidak

Vaksin atau tidak?, tentu ini bukan pertanyaan bijak. Vaksin bagaimanapun didapatkan dari hasil riset dan uji coba dengan protokol medis dan akademik yang ketat. Hal rumit dan mahal tersebut pasti bukan konsumsi untuk umum. Sebagai orang awam pastilah mempercayakannya kepada para ahli yang dimiliki negara.

Pandemi COVID-19 yang panjang dan menerjang semua lini kehidupan jelas bukan perkara sepele. Keuangan baik pribadi maupun milik khalayak banyak seperti negara dapat diprediksi terpengaruh besar dengan masalah Pandemi COVID-19. Vaksin adalah harapan, sepanjang pengalaman munculnya vaksin sebagai penghenti atau penghalang meluasnya wabah menular. Vaksin atau tidak? masih merupakan pertanyaan yang mengganjal?.

Menteri Kesehatan memang pernah bicara target vaksinasi untuk jutaan orang dalam periode tertentu. Usaha dan niat baik berdasarkan pengalaman kolektif bahwa untuk mencegah wabah penyakit menular adalah dengan cara vaksinasi. Mahal iya, namun ini adalah kepentingan bangsa, negara dan semua warganya. Vaksin atau tidak? apakah perlu membicarakan ideologi, nasionalisme dan semangat bela negara? Pertanyaan semakin tak memiliki warna yang cerah.

Hal ekonomi menjadi bidang yang paling parah terkena imbas Pandemi COVID-19. Pertanyaan penting selain "vaksin atau tidak?" tentu adalah apakah kita sudah memiliki perencanaan keuangan terkait apakah ikut vaksin?, apakah tidak ikut vaksin?, apakah setelah divaksin ada efeknya?, bagaimana jika tidak divaksin apakah ada efek buruknya?. Berbagai pertanyaan penting selalu menggema di setiap insan tentang hal ini. Persiapan dan orientasi keselamatan dan kesehatan merupakan hal yang tak boleh lepas dari pikiran dan hati kita.

Vaksinasi Covid-19 tahap tiga secara gratis saat ini telah menyasar masyarakat di atas usia 18 tahun. Namun, pelaksanaannya saat ini masih di wilayah DKI Jakarta dan bagi mereka yang sering beraktivitas di DKI Jakarta.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, vaksinasi bagi masyarakat usia 18 tahun ke atas untuk sementara dilakukan hanya di Provinsi DKI Jakarta dengan melibatkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Vertikal Kementerian Kesehatan (Kemenkes) seperti di antaranya Puskesmas, rumah sakit dan Kantor Kesehatan Pelabuhan di DKI Jakarta. Sementara di luar DKI Jakarta, akan dilaksanakan pada Juli 2021.

Demi menurunkan risiko terpapar virus mematikan ini, tentunya langkah pemerintah menggelar vaksinasi gratis bagi masyarakat usia 18 tahun bisa menjadi kesempatan baik bagi kita untuk meningkatkan herd immunity.

Meski demikian, risiko akan terpapar virus Covid-19 juga masih ada. Selain itu, terdapat efek samping dari vaksin yang bisa saja membuat kondisi tubuh kita menjadi lemah lantaran imunitas tubuh masing-masing orang berbeda.

Perencana keuangan sekaligus Financial Educator Lifepal.co.id, Aulia Akbar CFP® menjelaskan, meski proses vaksinasi gratis, masih ada beberapa hal dalam keuangan yang harus kita persiapkan terkait hal tersebut.

Dana darurat

Bukan tidak mungkin, mereka yang sudah menjalani vaksinasi akan terpapar virus ini untuk yang kedua kali dan menulari orang yang tinggal satu atap dengannya.

Tes Covid-19 mulai dari tes PCR dan rapid test antigen menjadi sebuah kebutuhan darurat yang harus dipenuhi dalam kondisi pandemi seperti saat ini.

Pasalnya, jika ada satu orang yang tinggal bersama Anda terpapar Covid-19, maka seluruh anggota keluarga harus menjalani tes Covid-19. Itulah sebabnya, Anda membutuhkan dana darurat.

Selain tes Covid-19, dana darurat akan sangat membantu Anda yang harus menjalani isolasi mandiri untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan seperti bahan makanan, suplemen, alat sanitasi, dan lainnya.

Bagi segelintir orang, layanan penyemprotan disinfektan profesional hunian juga dibutuhkan setelah orang serumah yang terpapar dinyatakan sudah negatif.

Besaran dana darurat tidak bisa disamakan untuk setiap orang. Intinya, sediakanlah dana darurat, yaitu setara enam kali pengeluaran bulanan Anda.

Asuransi kesehatan

Banyak informasi pula yang menyebutkan bahwa orang lanjut usia atau yang memiliki komorbid (penyakit bawaan) berpotensi mengalami efek negatif dari vaksin tersebut.

Bukan tidak mungkin, efek samping tersebut membuat kita jatuh sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Demi memitigasi risiko finansial karena masalah ini, kita pun membutuhkan asuransi kesehatan.

Asuransi kesehatan juga bisa mengcover biaya tes Covid-19 jika ada rujukan dari pihak rumah sakit atau dokter yang bersangkutan.

Asuransi jiwa

Sejumlah orang dalam golongan tertentu memiliki risiko tinggi mengalami kematian setelah terpapar COVID-19. Sebut saja seperti mereka yang memiliki penyakit kritis bawaan.

Bila orang-orang tersebut adalah pencari nafkah utama di keluarga, maka penting sekali untuk memastikan bahwa mereka memiliki asuransi jiwa.

Uang pertanggungan di asuransi jiwa akan cair dan diterima oleh para penerima manfaat apabila, tertanggung kehilangan kemampuan mencari nafkah karena meninggal dunia atau kehilangan fungsi anggota tubuh (cacat tetap total).

Protokol Kesehatan

Guna mencegah risiko terpapar virus Covid-19, vaksinasi saja tentu tidak cukup. Harus ada komitmen yang kuat dari diri kita untuk selalu menaati protokol kesehatan.

Gunakanlah masker, jaga jarak, dan jagalah kebersihan demi meminimalisir penyebaran virus ini.

Jadi mau vaksin atau tidak? keselamatan jiwa dan kesehatan adalah barang mahal. Perlu diantisipasi dengan persiapan yang matang dalam berbagai hal, baik kesiapan jiwa, pikiran maupun segala kesiapan finansial yang dapat dilihat dengan mata. Vaksin atau tidak? bukan pertanyaan penting bukan?.