PHK karena Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 akan berakhir kapan? mungkin tidak ada yang mau menjelaskan. Sementara perkembangan semakin tidak tentu. Awalnya hanya bencana nasional non-alam, kemudian diteruskan dengan PSBB, kemudian PPKM, terus PPKM Mikro, dan sekarang menjadi PPKM Darurat. Berapa banyak usaha masyarakat yang sudah mengalami kerugian, tak terkecuali para karyawan yang di PHK karena Pandemi COVID-19.

PHK karena Pandemi COVID-19 adalah hal yang sulit dihindarkan, maka harus ada persiapan agar tidak terjadi permasalahan yang berlarut. Segera banting stir ke usaha mandiri, apapun mungkin bisa dilakukan, namun permasalahannya adalah apakah menguntungkan atau tidak.

Hal berat memang, sementara para financial planner dengan berbusa-busa mengatakan keuangan pribadi dan keluarga harus diselamatkan. Namun sampai kapan dan bagaimana caranya?

Usaha mandiri atau usaha harian pun saat sekarang disaat yang lain merasakan PHK karena Pandemi COVID-19, harus menghadapi permasalahan berat yaitu PPKM Darurat. Usaha harus dibatasi pergerakannya, sementara ekonomi keluarga dan pangan harus didapatkan dari mengais rejeki dalam usaha mandiri yang hasilnya pun sangat sulit untuk direncanakan.

Korban COVID-19 semakin bertambah, tentu saja tidak ada yang ingin semakin bertambah banyak. Off 20 hari untuk PPKM Darurat pun sangat berat, apalagi jika bos ingin karyawan tetap bekerja di kantor yang notabene bertentangan dengan Peraturan PPKM Darurat, namun bahayanya jika tidak mengikuti perintah bos, nanti bisa di PHK. Pilihan yang sangat sulit.

Keputusan Pemerintah RI menarik rem darurat lewat PPKM Darurat seiring dengan meningkatnya kasus COVID-19 memunculkan kekhawatiran tersendiri di kalangan pengusaha.

Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) cukup khawatir bahwa kebijakan ini bisa memunculkan gelombang besar PHK yang sulit dihindari.

Hal serupa pun diutarakan oleh Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja dalam pernyataannya di Detik, 1 Juli 2021.

Perencana keuangan sekaligus Financial Educator Lifepal, Aulia Akbar, CFP®, AEPP®, menyebutkan bahwa, pandemi COVID-19 memang menciptakan ketidakpastian ekonomi yang bisa memberikan tekanan serius ke sejumlah industri.

Maka, bukan tidak mungkin sejumlah pengusaha akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada para karyawannya dengan alasan efisiensi.

Tidak ada yang mau kehilangan penghasilan dan pekerjaan di masa sulit ini. Namun ,bila kondisi itu harus dialami diri kita, maka beberapa hal di bawah ini patut dilakukan.

Kenali jumlah aset dan kewajiban kita

Lakukan pencatatan ulang terhadap segala jenis aset yang kita miliki, mulai dari aset riil (dalam bentuk fisik), dan aset keuangan (tabungan, uang pesangon, reksa dana, saham, dan lainnya). Catat pula berapa jumlah total utang Anda yang belum terbayar.

Lunasi utang-utang tersebut untuk mengurangi beban pengeluaran Anda setiap bulan. Namun, pastikan bahwa Anda masih memiliki uang di rekening yang bisa meng-cover kebutuhan pokok Anda untuk enam bulan ke depan.

Bila total utang tersebut sangat besar dan nilainya melebihi aset Anda, dan Anda sendiri keberatan dalam mencicil utang tersebut, lakukanlah negosiasi dengan pihak pemberi kredit untuk meminta keringanan.

Perhatikan gaya hidup Anda

Tidak ada salahnya untuk puasa belanja barang-barang yang kurang dibutuhkan atau mengeluarkan uang untuk aktivitas self reward.

Di saat Anda kehilangan penghasilan, fokuskanlah pengeluaran untuk hal-hal yang Anda “butuhkan” dan wajib dibayar (cicilan utang, dan tagihan-tagihan rumah).

Waspadai pengeluaran-pengeluaran tidak tetap

Pengeluaran seperti tagihan listrik, air, BBM, maupun pulsa, tergolong sebagai pengeluaran yang sifatnya tidak tetap. Ada kalanya meningkat atau sebaliknya.

Sangat penting untuk mengontrol pengeluaran-pengeluaran seperti di atas, mengingat kita lebih sering di rumah di kala pandemi, sangat mungkin terjadi kenaikan tagihan listrik maupun air yang tak terduga.

Jaminan kesehatan tetap harus ada

Jaminan kesehatan adalah bagian dari kebutuhan yang juga harus dipenuhi, lebih tepatnya adalah kebutuhan manajemen risiko.

Mengingat biaya berobat yang tidak murah, dan akan terus mengalami kenaikan setiap tahunnya, maka milikilah setidaknya BPJS Kesehatan jika premi asuransi kesehatan dinilai terlalu mahal bagi Anda untuk saat ini.

Jangan biarkan tabungan Anda terkuras atau hilang karena menjalani pengobatan. Ingatlah bahwa saat Anda terkena PHK, ketersediaan tabungan menjadi hal yang harus diperhatikan.

Di atas adalah saran-saran ideal dari para financial planner. Upaya-upaya positif memang harus dikedepankan, jangan sampai terkena PHK. Siapkan berusaha mandiri, lirik kanan lirik kiri untuk melihat peluang. Berusaha memang tidak enteng, namun harus dicoba dan segera dieksekusi sesederhana mungkin. Semoga kita semua tetap diberkahi rejeki yang cukup.