Avatar suryaden
Posted by suryaden on January 28, 2015
Diskusi Jogja Asat #BelakangHotel di Joglo Jawi

Diskusi dan putar film 'Belakang Hotel' akhirnya terjadi di Warung Joglo Jawi Kotagede. Pendopo Joglo Jawi Kotagede ini dulu pernah digunakan oleh orang-orang pergerakan semasa penjajahan Belanda atau sebelum Kemerdekaan Indonesia untuk mengobrol dan diskusi tentang pergerakan Indonesia, salah satu atau dua yang semalam dituturkan adalah tokoh pergerakan seperti Semaun, Cokroaminoto dan sebagainya.

Jalannya Diskusi dan Putar Film #BelakangHotel didahului dengan pemutaran Film Belakang Hotel selama kurang lebih 50 menit, diteruskan dengan diskusi bersama sutradara dan film maker Belakang Hotel Dhandy Laksono, Pakar tata Ruang Marco Kusumawidjaja, dan Eko Riyadi dari Pusham UII. Diskusi berlangsung ramai dan dihadiri oleh ratusan orang yang peduli dengan Jogja Asat. Acara ini di hosting dan diorganisir oleh Warga Berdaya dan juga AJI - Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta.

Jogja Asat, dalam film #BelakangHotel ini digambarkan dengan terjadinya kekeringan tidak wajar pada sumur-sumur warga di kampung Miliran dan kampung sekitar tugu Yogyakarta karena selama puluhan tahun warga sama sekali tidak pernah mengalami kekeringan di sumurnya. Warga memiliki rasa curiga hal ini terjadi karena masifnya pendirian hotel-hotel besar di Yogyakarta, yang menurut film Belakang Hotel pada mengalami peningkatan jumlah kamar hotel sebesar lebih dari 4000 dalam kurun waktu hanya beberapa tahun. Sementara kebutuhan satu keluarga di Jogja rata-rata hanya membutuhkan 300 liter air per hari, sementara untuk satu kamar hotel memerlukan rata-rata 380 liter per hari. Sehingga dalam film ini disebutkan bagaimana kompetisi untuk mendapatkan air.

Film yang didukung dengan kamera yang melayang diudara menggunakan pesawat kecil semacam drone ini menyoroti keluh kesah warga yang tidak bisa berbuat apa-apa dan harus terima tidak mandi dirumah dan merasakan susah tak terhingga karena air yang biasanya didapatkan dari sumur nyata-nyata asat atau kering tidak bisa ditimba atau disedot dengan pompa air. Warga Miliran merasakan efek hotel dengan pernah diadakannya penutupan sumur atau pengurangan penggunaan sumur hotel di sekitar Miliran yang ramai di protes, dalam film Belakang Hotel disebutkan hotel tersebut bernama 'Fave Hotel', selama dua bulan hotel tersebut tidak mengambil air tanah di Miliran, sumur warga berangsur pulih dan bisa digunakan. Juga betapa marahnya warga dengan pemerintah kota Yogyakarta yang mengijinkan berdirinya hotel-hotel besar dan mereka menyedot air tanah secara sangat massif untuk keperluan industri hotel sementara hotel berada di lingkungan warga yang padat.

Demo dilakukan oleh Dodo Putra Bangsa dengan mandi pasir di depan Hotel Fave Yogyakarta. Seakan hanya demo dan unjuk rasa serta memendam penderitaan yang bisa dilakukan, sebab ketika berhadapan dengan dokumen amdal, warga masyarakat tidak bisa membela diri karena tidak pernah dilibatkan, diberi pengetahuan atau apapun sehingga keterlibatan para ilmuwan atau pakar dari universitas sangat dibutuhkan uluran tangannya untuk mendapatkan solusi yang saling menguntungkan, terbuka dan tidak saling merugikan. Sehingga tidak terjadi Jogja Darurat Air.

Apa yang terjadi di Miliran dan beberapa kampung di Yogyakarta karena munculnya hotel-hotel besar menjadikan resiko kompetisi untuk saling berebut air, baik antar hotel ataupun antar perusahaan yang bisa mengebor sumur sedalam-dalamnya untuk mendapatkan air, sementara warga dan rumahtangga di kota Yogyakarta yang rata-rata masih menggunakan sumur atau pompa air harus menjadi korban dengan tidak menggunakan sumur, kemudian membeli air kepada PDAM yang layanannya kerapkali juga tidak memuaskan warga, dan menambah pengeluaran yang tidak seharusnya karena air yang seharusnya menjadi hak warga menjadi komoditas yang harus dibeli dan keuntungannya tidak kembali kepada kepentingan warga masyarakat.

Streaming audio dilakukan oleh komunitas Jogloabang melalui alamat http://radio.jogloabang.or.id untuk mendengarkan diskusi pada saat dilangsungkannya diskusi 'Jogja Asat' secara Live. Namun bagi yang belum mendengarkan langsung dibawah ini ada link dan player untuk dapat mendengarkan berlangsungnya diskusi yang berlangsung selama 3 jam namun dipotong menjadi 2 jam, kare satu jam adalah nobar film Belakang Hotel. Film Jogja Asat atau Belakang Hotel sendiri belum bisa diakses di internet karena masih akan diputar berkeliling sekaligus dengan curah pendapat atau diiskusi tentang bahayanya kekeringan, hak air dan kompetisi warga dengan perusahaan untuk memanfaatkan air, warga memanfaatkan air sebagaimana perlunya sementara perusahaan menjadikan air sebagai komoditas untuk produknya.

Juga tidak pernah adanya penerangan atau tindakan dari pemerintah untuk selalu dapat menjaga 'ground water' di bawah tanah kita, serta bagaimana menjaganya secara sistematis agar permasalahan kekeringan Jogja darurat air dapat segera di atasi atau dihindari.

Audio: