Perubahan Bermula dari Diri Sendiri

sayur

Realitas kehidupan kita di zaman ini sangatlah berbeda dengan generasi pendahulu kita. Demikian pula dengan kompetisi yang dihadapi anak cucu kita nanti, akan berbeda dengan yang kita hadapi hari ini. Esensinya adalah perubahan social.

Selagi dunia berputar, perubahan selalu terjadi. Kita harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman agar tidak menjadi punah. Jadi, dasar strategi kita harus berangkat dari kemampuan beradaptasi. Kita harus fleksibel, adaptif, atau mampu menyesuaikan diri dengan segala kondisi atau situasi pada lingkungan yang baru, atau kita akan terpinggir dan akhirnya punah.

Hukum alam yang telah berlangsung berabad-abad akan menunjukkan bahwa banyak spesies mengalami kepunahan bukan karena mereka lemah, tetapi karena mereka tak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan dimana dia berada.

Kita tahu bahwa kita harus berubah. Pertanyaanya adalah, bagaimana kita mengawali perubahan itu ? Perubahan harus selalu diawali dari diri sendiri. Dan untuk hal tersebut kita harus berani meninjau ulang keyakinan-keyakinan dasar kita, apakah masih relevan dengan konteks zaman kita saat ini atau sudah usang. Perubahan dalam tataran konkret harus dilandasi dengan perubahan cara berfikir. Cara berfikir lama yang sudah tidak relevan harus kita tinggalkan, dan menggantikannya dengan yang baru. Kita harus berani menanggalkan kebiasaan lama, bahkan kondisi hidup yang sudah nyaman. Kita harus berani keluar dari zona kenyamanan dan memasuki sebuah zona yang tidak nyaman tetapi kreatif, inovatif dan dinamis. Kita harus berani menggugat terus menerus cara hidup status quo untuk keluar dari kondisi itu, apakah sudah tepat atau ada yang mesti diperbaiki. Adakah yang perlu kita modifikasi, kita tambah, kita kurangi atau bahkan kita buang sama sekali tentang cara hidup kita, tentang cara berfikir kita, tentang keyakinan-keyakinan kita.

Kita selama ini dibelenggu oleh teori-teori yang seakan-akan sudah benar adanya terus menerus, tidak berani mengkritisinya dan bahkan mengkoreksinya berdasarkan pengalaman hidup yang sudah kita jalani sendiri. Atau, jangan jangan kita berubah sekedar berubah serta tidak pernah membangun gambar perubahan tentang tata kehidupan yang ideal serta tidak pernah mengarahkan strategi hidup/ cara hidup kita untuk perubahan yang kita impikan tersebut. ‘Sing penting urip, sing penting sugih, sing penting ora diseneni nduwuran, sing penting munggah pangkate …….’ adalah cara pandang orang kalah dan tak dapat menyetir perubahan.

Lalu apakah jati diri seorang penyuluh/ kita ? Setiap orang adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Sementara itu Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu sendiri berusaha mengubahnya sendiri. Dengan kekuatan gagasan-gagasan baru yang dibangun dan dikembangkannya perubahan dunia akan terjadi. Jadi, sebenarnya penyuluh/ kita adalah seorang wirausahawan social yang aktif memfasilitasi, mendidik dan mendorong masyarakat untuk tahu bahwa dirinya harus berubah serta memiliki kekuatan untuk mewujudkan perubahan tersebut yang pada dasarnya menyangkut perubahan kekuasaan, menejemen, pemanfaatan dan pemilikan sumberdaya kehidupan masyarakat.