Avatar jogloabang
Posted by jogloabang on February 16, 2018
Permentan Kopi Luwak No. 37/Permentan/KB.120/6/2015, Biologi Luwak dan Perilaku Luwak

Tentang Luwak ada dalam Lampiran Permentan No. 37/Permentan/KB.120/6/2015 tentang Cara Produksi Kopi Luwak melalui Pemeliharaan Luwak yang Memenuhi Prinsip Kesejahteraan Hewan. . Kesejahteraan Luwak sebagai aktor utama produksi adalah aspek yang sangat penting, disamping pohon kopinya sendiri. Mutualisme diantara kopi dan luwak harus terjaga dan diperhatikan dengan serius. Dalam BAB II Lampiran Permentan Luwak No. 37/Permentan/KB.120/6/2015, Biologi Luwak dan Perilaku Luwak menjadi bahasan tersendiri.

Berikut adalah BAB II Lampiran Permentan No. 37/Permentan/KB.120/6/2015 tentang Cara Produksi Kopi Luwak melalui Pemeliharaan Luwak yang Memenuhi Prinsip Kesejahteraan Hewan yang membahas Biologi Luwak dan Perilaku Luwak.

Biologi Luwak dan Perilaku Luwak

Biologi Luwak

Luwak merupakan nama lokal dari jenis musang yang terdapat di Indonesia, sehingga sering disebut sebagai musang Luwak, Luwak atau common palm civet. Musang Luwak yang memiliki nama latin Paradoxurus hermaphroditus, termasuk dalam ordo Carnivora, famili Viveridae, subfamili Paradoxurinae dan genus Paradoxurus. Selain musang Luwak, terdapat empat jenis musang lainnya yang termasuk dalam subfamili Paradoxurinae, yaitu:

  1. Binturong (Arctictis binturong);
  2. Musang akar (Arctogalidia trivirgata);
  3. Musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii); dan
  4. Musang galing/bulan (Paguma larvata).

Kelima jenis musang ini cukup dikenal di Indonesia dan memiliki daerah sebaran yang luas, kecuali Macrogalidia musschenbroekii yang hanya ditemukan di Sulawesi. Namun, di antara kelima jenis musang tersebut yang paling banyak dijumpai dan dikenal masyarakat adalah musang Luwak. Hewan ini memiliki daerah sebaran yang luas di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Di Indonesia, beberapa pulau seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Bawean dan Siberut (Mentawai) merupakan daerah sebaran alami musang Luwak. Sedangkan keberadaannya di Papua, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan Sulawesi merupakan hasil bawaan/pengenalan (introducing) oleh manusia. Hewan ini banyak dijumpai pada beberapa tipe habitat, seperti hutan primer dan sekunder, kebun dan bahkan di sekitar pemukiman manusia.

Jenis-jenis musang tersebut di habitat alamiahnya memiliki ukuran tubuh kecil, kira-kira sebesar kucing, kecuali binturong. Musang Luwak memiliki bobot tubuh berkisar 1,3 kg sampai 5 kg, panjang tubuh sekitar 54 cm dan panjang ekor hampir sepanjang tubuhnya, yaitu sekitar 48 cm. Namun, musang yang dipelihara sebagai hewan kesayangan (pet animal) berat badannya dapat mencapai 15 kg. Tubuhnya ditutupi bulu rambut yang kasar berwarna abu-abu kecokelatan dengan bintik atau belang hitam. Bulu rambut pada wajah terutama di sekitar mata dan hidung berwarna putih seperti topeng dengan garis hitam di antara kedua mata, serta warna hitam pada moncong, telinga, kaki bagian bawah, ujung ekor, dan tiga baris garis hitam pada daerah punggung. Sedangkan pada spesies tertentu memiliki bulu putih di atas mata dan ujung ekor. Hewan jantan maupun betina memiliki kelenjar bau yang terdapat di sekitar anus (perineal gland) dan mengeluarkan aroma khas seperti bau pandan, sehingga sering pula disebut musang pandan. Kelenjar bau lebih berkembang pada Luwak jantan, yang digunakan selain untuk berkomunikasi dengan komunitasnya, memberi sinyal kepada hewan betina dan menandai daerah teritori. Di habitat alamiahnya Luwak dapat hidup 15 sampai 22 tahun, sedangkan yang dipelihara di kandang bisa sampai 25 tahun.

Binturong merupakan jenis musang yang memiliki ukuran tubuh paling besar. Berat tubuhnya sekitar 6 - 14 kg, bahkan dapat mencapai 20 kg, dengan panjang tubuh 60 – 95 cm dan ekor 50 – 90 cm. Binturong memiliki rambut panjang dan kasar, berwarna hitam seluruhnya atau kecoklatan dengan taburan rambut keputih-putihan atau kemerahan. Hewan ini banyak diburu untuk diperdagangkan, sehingga sekarang termasuk hewan yang dilindungi menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan termasuk dalam daftar vulnerable IUCN. Oleh karenanya pemanfaatan hewan ini memerlukan izin dari Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan.

Adapun musang luwak, musang akar dan musang bulan termasuk dalam daftar least= concern IUCN dan appendix III CITES, karena populasinya di alam dianggap masih cukup banyak dan belum terancam kepunahan, sehingga masih boleh diperdagangkan dengan kuota dan izin. Di beberapa daerah produsen kopi, terdapat dua jenis musang luwak yang sering digunakan untuk memproduksi biji kopi luwak, yaitu jenis musang bulan dan musang pandan. Kedua jenis musang inilah yang digunakan untuk memproduksi kopi Luwak, karena kesukaannya memakan buah kopi yang masak merah, berwarna merah dan masih segar.

Selain itu, musang juga telah banyak dipelihara sebagai pet animal seperti halnya kucing dan anjing. Di Indonesia, saat ini mulai berkembang komunitas pecinta musang (Musang Lovers) yang tersebar di beberapa kota. Sebagai hewan peliharaan, musang Luwak lebih banyak tinggal di kandang dan berinteraksi dengan manusia. Oleh karenanya pemanfaatan hewan ini untuk memproduksi kopi Luwak dengan cara dipelihara, baik secara intensif, semi intensif, maupun semi ekstensif, dapat dilakukan namun dengan memperhatikan prinsip Kesejahteraan Hewan (animal welfare). Hal ini secara tidak langsung juga dapat menjaga Kelestarian Lingkungan, karena musang Luwak yang dipelihara dan diberi kesempatan bereproduksi, dapat mengurangi eksploitasi atau penangkapan hewan ini terus menerus dari habitat alamiahnya.

Perilaku Luwak

Seperti pada umumnya jenis musang, Luwak termasuk hewan soliter yang aktif di malam hari (nokturnal) dan menyukai hidup di atas pohon (arboreal). Pada siang hari Luwak tidur di lubang- lubang pohon, atau di ruang-ruang gelap di bawah atap rumah. Luwak jantan memiliki daerah jelajah yang luas sampai 17 km2, sedangkan betina hanya 2 km2. Karena sifatnya yang soliter, Luwak jantan dan betina hanya berkumpul pada musim kawin, kecuali betina yang sedang mengasuh anaknya.

Perilaku reproduksi musang belum banyak diketahui, terlebih karena sifatnya yang soliter dan nokturnal. Namun, karena musang Luwak sudah banyak dipelihara, maka informasi reproduksinya lebih banyak diketahui. Pada umumnya Luwak dapat bereproduksi sepanjang tahun, dengan siklus estrus sekitar 80 hari. Setelah masa kebuntingan selama dua bulan, luwak biasanya melahirkan anak dua sampai lima ekor, ketika banyak persediaan makanan. Bayi yang dilahirkan berukuran kecil hanya sekitar 80 gram dengan kondisi mata masih tertutup dan akan terbuka pada umur 11 hari. Anak dipelihara di lubang-lubang pohon atau celah-celah dinding/batu untuk keamanan sampai masa penyapihan pada umur dua bulan. Selanjutnya anak Luwak akan mengalami pertumbuhan yang cepat dan mengalami dewasa kelamin setelah berumur satu tahun.

Meskipun secara klasifikasi musang termasuk hewan karnivora (pemakan daging), namun di habitat alaminya hewan ini lebih menyukai buah-buahan, sehingga cenderung disebut frugivora (pemakan buah-buahan) atau dikategorikan sebagai hewan omnivora atau pemakan segala. Jenis pakan yang disukai khususnya adalah buah-buahan yang ranum dan rasanya manis, seperti mangga, rambutan, pepaya, pisang dan buah aren. Selain itu beberapa jenis musang, terutama Luwak juga menyukai buah kopi. Salah satu kelebihan Luwak dalam mengkonsumsi buah kopi yakni kemampuannya memilih biji kopi masak merah dan segar dengan menggunakan daya penciumannya yang berkembang sangat baik. Dalam kaitan tersebut, secara ekologi Luwak juga memiliki peran sebagai hewan penyebar biji. Selain itu sebagai tambahan jenis pakannya, Luwak juga memakan mamalia kecil seperti tikus, tupai, unggas, telur, reptil, serangga, cacing, dan keong.

Luwak memiliki organ saluran pencernaan yang sederhana dengan lambung tunggal dan usus relatif pendek. Lambung Luwak menghasilkan asam klorida (HCl) dalam jumlah besar, karena jumlah sel penghasilnya banyak. Kopi yang dimakan oleh Luwak akan mengalami proses pencernaan yang relatif singkat, sehingga hanya kulit buahnya yang tercerna sedangkan bijinya akan dikeluarkan bersama feses. Karena luwak hanya memilih buah kopi masak merah, merah dan segar, maka Kopi Luwak yang dihasilkan merupakan kopi terbaik. Biji Kopi Luwak memiliki tekstur yang keras, tetapi lebih rapuh. Hal ini diduga akibat proses pencernaan yang melibatkan enzim-enzim protease di dalam cairan lambung (gastric juice) yang mengubah struktur mikro biji kopi akibat pemecahan protein dan menurunkan kadar caffein di dalamnya.

Pada dasarnya Kopi Luwak yang dihasilkan dari musang luwak yang dipelihara sesuai prinsip animal welfare, lebih dapat dijaga kualitasnya dibandingkan yang dihasilkan dari musang luwak liar. Hal ini disebabkan karena hewan yang dipelihara secara rutin diperiksa kesehatannya, pakan yang diberikan dapat dikontrol, serta kopi yang dikeluarkan bersama feses langsung diambil dan diproses (mulai dari pencucian sampai pengemasan) dalam kondisi masih segar. Sehingga dari segi Keamanan Pangan bagi konsumen lebih terjaga. Sedangkan Keamanan Pangan sulit dilakukan pada yang diperoleh secara liar.

Demikian isi Lampiran Permentan No. 37/Permentan/KB.120/6/2015 tentang Cara Produksi Kopi Luwak melalui Pemeliharaan Luwak yang Memenuhi Prinsip Kesejahteraan Hewan. Permentan No. 37/Permentan/KB.120/6/2015 tentang Cara Produksi Kopi Luwak melalui Pemeliharaan Luwak yang Memenuhi Prinsip Kesejahteraan Hewan beserta Lampirannya dapat dilihat dan diunduh di bagian bawah tulisan ini.

Permentan No. 37/Permentan/KB.120/6/2015 tentang Cara Produksi Kopi Luwak melalui Pemeliharaan Luwak yang Memenuhi Prinsip Kesejahteraan Hewan

Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 909 tentang Kementan, Kopi Luwak, Prinsip Kesejahteraan Hewan dan Cara Produksi