Pencari Nafkah Utama & COVID-19

Pencari Nafkah Utama & COVID-19

COVID-19 makin ganas. Orang dengan nama-nama yang dikenal dan dekat mulai terkena Virus COVID-19. Tetangga mulai melakukan isolasi mandiri. Kasus lonjakan postif mendaki di angka ratusan bahkan lebih dari 500an perhari. Pulau Jawa dan Indonesia sedang menghadapi serangan dahsyat Pandemi COVID-19. Keluarga-keluarga di Jawa diharap sangat patuh Prokes terutama untuk para pencari nafkah utama keluarga.

Terhitung sejak 20 Juni 2021, korban meninggal dunia akibat virus COVID-19 di Indonesia tercatat 54.291 jiwa. Sejumlah golongan tertentu, salah satunya pencari nafkah utama di keluarga memiliki risiko tinggi mengalami kematian akibat virus mematikan ini. WHO pun merilis serangkaian varian baru COVID-19 dengan kode huruf Yunani untuk menghindari stigma terhadap negara munculnya varian baru tersebut.

Protokol Kesehatan menjadi tameng terdepan menghadapi Pandemi COVID-19. Vaksinasi terus digencarkan Pemerintah. Ekonomi menjadi hal yang patut diselamatkan karena mencakup hajat hidup orang banyak, demikian juga kesehatan jasmani masyarakat Indonesia. Kesehatan adalah tameng kehidupan ekonomi dan segalanya. Pencari Nafkah Utama Keluarga harus menghadapinya.

Kesehatan dan ekonomi sekarang menjadi hal yang sangat urgent. Dalam ranah keluarga keselamatan dan kesehatan pencari nafkah menjadi hal utama. Tiang utama keluarga adalah para pencari nafkahnya, demikian pula pada ranah yang lebih luas. Para pejuang kehidupan dalam hal ini para pencari nafkah utama merupakan orang-orang yang harus mampu menjaga dirinya.

Sebelum pencari nafkah meninggal dunia, keuangan serta kebutuhan bulanan akan terpenuhi. Namun, saat dia meninggal dunia, tidak ada jaminan bagi keluarga yang ditinggalkan untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

Agar keluarga tetap mendapatkan standar hidup yang sama sambil mencari jalan keluarnya, asuransi jiwa hadir sebagai proteksi.

Asuransi jiwa tersebut memberikan perlindungan finansial saat pencari nafkah mendapatkan musibah yang tidak diduga.

Uang pertanggungan di asuransi jiwa akan cair dan diterima oleh para penerima manfaat apabila tertanggung kehilangan kemampuan mencari nafkah karena meninggal dunia atau kehilangan fungsi anggota tubuh (cacat tetap total).

Bicara soal uang pertanggungan, seringkali kita bingung seputar “Berapa uang pertanggungan yang seharusnya kita miliki?”

Berikut ini penjelasan Perencana keuangan sekaligus Financial Educator Lifepal, Aulia Akbar, CFP®, AEPP®, terkait metode perhitungan uang pertanggungan.

Apa yang dimaksud Uang Pertanggungan?

Dalam asuransi jiwa ada satu hal yang sangat perlu diperhatikan yaitu UP atau uang Pertanggungan. UP adalah jumlah uang yang harus dibayarkan perusahaan asuransi jika pemegang polis mengajukan klaim atas risiko yang dijamin dalam program asuransi.

Uang pertanggungan setiap asuransi jumlahnya berbeda-beda, biasanya semakin besar premi yang dibayar maka uang pertanggungan yang dapat diterima juga semakin besar.

Pengeluaran dan Rumus Pertanggungan

Dengan mengetahui rata-rata pengeluaran per bulan, Anda bisa dengan mudah menentukan uang pertanggungan yang harus dimiliki.

Rumusnya cukup sederhana:

UP = Pengeluaran bulanan x 12 (disetahunkan) / Bunga/kupon investasi rendah risiko

Contoh:

Pak Martin memiliki pengeluaran bulanan rata-rata sebesar Rp8 juta, maka minimal UP yang dia butuhkan adalah:

Rp8 juta x 12 bulan = Rp96 juta

Bila investasi rendah risiko yang dipilih adalah surat utang negara FR0065 yang jatuh tempo pada 15 Mei 2033, maka tingkat kupon imbal hasil per tahunnya adalah 6,625%.

Jadi, uang pertanggungan asuransi jiwa yang ideal bagi pak Martin adalah: Rp96 juta/6,625% = Rp1,44 miliar.

Pertanyaan pun muncul, seputar apa yang mendasari rumus di atas?

Mari kita asumsikan, Pak Martin meninggal dunia di tahun ini dan keluarganya melakukan klaim atas asuransi jiwa tersebut. UP sebesar Rp1,44 miliar itu cair tanpa dipotong pajak.

Keluarga pak Martin akhirnya menaruh dana tersebut ke instrumen investasi FR0065, maka setiap tahunnya sebesar Rp95,4 Juta (belum dipotong pajak final 15%) sampai tahun 2033 mendatang.

Uang sebesar Rp95 juta tentu saja setara pengeluaran tahunan keluarganya.

Patut diketahui, semakin rendah bunga atau kupon imbal hasil investasinya, maka makin tinggi UP yang dibutuhkan, makin mahal pula premi asuransi jiwa yang dibayarkan.

Kalkulator Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa

Lifepal.co.id telah mengembangkan embeddable Kalkulator Uang Pertanggungan Asuransi Jiwadengan kode iframe yang dapat di-embed tanpa biaya ke laman website media atau blog. Kalkulator Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa dapat dilihat di bawah post ini.

Kalkulator Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa dapat memperhitungkan berapa besaran uang pertanggungan (UP) tanpa harus melakukan perhitungan dengan rumus yang mungkin rumit bagi sebagian orang.

Anda cukup memasukkan sejumlah nilai pada kalkulator tersebut, yakni:

 

  1. 1. Masukkan besaran penghasilan atau pengeluaran bulanan Anda saat ini pada kolom pertama,

  2. Lalu, masukan jumlah tahun Anda berharap uang pertanggungan tersebut dapat meng-cover tanggungan atau keluarga Anda, misal 10 atau 20 tahun atau lebih.

  3. Terakhir, masukan rata-rata inflasi tahunan dalam bentuk persen.

Dalam sekejap, akan muncul angka yang merupakan hasil perhitungan uang pertanggungan (UP) Anda. Ini tentu akan amat membantu pembaca Anda dalam mensimulasikan uang pertanggungan asuransi jiwa mereka.

Demikianlah metode perhitungan UP bagi mereka yang ingin membeli asuransi jiwa. Ketahui rumusnya, bahwa semakin muda Anda membeli asuransi jiwa, makin murah premi asuransi yang harus dibayar, begitu pun sebaliknya. Pencari nafkah utama dan keluarga patut memahami nilai pertanggungan ini selain mengutamakan protokol kesehatan, jaga diri dan lingkungan demi keselamatan bersama.