Permendikbud 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah

Penulisan tokoh sejarah memiliki pedoman yaitu Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kemdikbud menerbitkan Permendikbud 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah dengan tujuan untuk memberikan acuan dalam penulisan tokoh sejarah. Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah berkaitan erat dengan arah pembangunan nasional Indonesia dan upaya mendukung gerakan revolusi mental. Revolusi mental pembangunan bangsa Indonesia, tidak hanya mengejar kemajuan lahiriah saja, akan tetapi juga mengejar kepuasan batiniah, dengan melakukan pembinaan keselarasan dan keseimbangan antara kemajuan dalam bidang keilmuan dan kemajuan dalam bidang perilaku.

Permendikbud 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah memiliki harpaan agar masyarakat dapat belajar dari kisah para tokoh. Kisah-kisah para tokoh itu dapat menjadi teladan dan inspirasi bagi masyarakat khususnya generasi muda. Sejarah menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda melalui pengungkapan model-model tokoh sejarah dari berbagai bidang. Sehingga akan menumbuhkan semangat dan sikap patriotisme, serta meningkatkan mutu kehidupan yang bernilai tinggi berdasarkan Pancasila dan meningkatkan harga diri bangsa.

Permendikbud 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah ditetapkan Mendikbud Muhadjir Effendy pada tanggal 23 Desember 2016 di Jakarta. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah diundangkan oleh Dirjen PP Kemenkumham RI Widodo Ekatjahjana pada tanggal 30 Desember 2016 di Jakarta.

Permendikbud 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah ditempatkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 2017, agar setiap orang mengetahuinya. Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah berada dalam Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah.

Permendikbud 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah

Latar Belakang

Pertimbangan Permendikbud 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah adalah:

  1. sebagai acuan dalam penulisan tokoh sejarah, perlu membuat pedoman penulisan tokoh sejarah;

  2. berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah;

Dasar Hukum

Dasar hukum Permendikbud 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah adalah:

  1. Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2015 tentang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 15);

  2. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 2008 tentang Buku;

  3. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1072);

  4. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2016 tentang Buku yang Digunakan oleh Satuan Pendidikan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 351);

Ringkasan Permendikbud Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah

Hal-hal yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah adalah:

  1. Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah digunakan sebagai acuan dalam penulisan tokoh sejarah.

  1. Tujuan penyusunan Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah yaitu:

    1. memberi acuan dalam penulisan tokoh sejarah,

    2. mendorong individu, perkumpulan, maupun organisasi profesi di seluruh Indonesia untuk lebih aktif dalam meningkatkan penulisan buku tokoh sejarah,

    3. meningkatkan kapasitas individu, perkumpulan, maupun organisasi profesi di Indonesia dalam penulisan buku tokoh sejarah, dan

    4. mewujudkan buku-buku tokoh sejarah yang dapat memberi wawasan dan inspirasi kepada masyarakat khususnya generasi muda.

  1. Sasaran Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah yaitu:

    1. penulis sejarah,

    2. guru,

    3. pelajar/mahasiswa, dan

    4. masyarakat luas.

  1. Metode penelitian tokoh sejarah:

    1. Pemilihan topik,

    2. Pengumpulan sumber (primer dan sekunder),

    3. Verifikasi atau Kritik Sumber,

    4. Interpretasi, dan

    5. Penulisan (otobiografi, biografi, biografi kolektif, sejarah kejiwaan).

  1. Sistematika penulisan:

    1. Bagian Pendahuluan (Latar Belakang, Permasalahan, rumusan masalah, Tujuan, dan Manfaat),

    2. Bagian Isi

    3. Bagian Akhir,

    4. Daftar Referensi, dan

    5. Lampiran.

Isi Permendikbud tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah

Berikut adalah isi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah, bukan format asli.

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TENTANG PEDOMAN PENULISAN TOKOH SEJARAH

Pasal 1

Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah digunakan sebagai acuan dalam penulisan tokoh sejarah.

Pasal 2

Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 3

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Demikianlah isi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah, yang ditetapkan Mendikbud Muhadjir Effendy pada tanggal 23 Desember 2016.

Isi Lampiran Permendikbud tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah

Berikut adalah isi Lampiran Permendikbud 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah, bukan format asli:

SALINAN LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
NOMOR 72 TAHUN 2016
TENTANG
PEDOMAN PENULISAN TOKOH SEJARAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah ini terkait dengan arah pembangunan nasional Indonesia, dilaksanakan dalam rangka turut mendukung gerakan revolusi mental. Dalam melakukan revolusi mental pembangunan bangsa Indonesia, tidak hanya mengejar kemajuan lahiriah saja, akan tetapi juga mengejar kepuasan batiniah, dengan melakukan pembinaan keselarasan dan keseimbangan antara kemajuan dalam bidang keilmuan dan kemajuan dalam bidang perilaku.

Melalui penulisan tokoh sejarah, masyarakat dapat belajar dari kisah para tokoh. Kisah-kisah para tokoh itu dapat menjadi teladan dan inspirasi bagi masyarakat khususnya generasi muda. Dengan harapan akan menumbuhkan semangat dan sikap patriotisme, serta meningkatkan mutu kehidupan yang bernilai tinggi berdasarkan Pancasila dan meningkatkan harga diri bangsa.

Sejarah menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda melalui pengungkapan model-model tokoh sejarah dari berbagai bidang. Nilai- nilai yang terkandung dalam sejarah masih relevan menjadi perbendaharaan suri-teladan, cinta tanah air, berdedikasi tinggi dalam pengabdian, tanggung jawab sosial, kewajiban serta keterlibatan penuh dalam hal-ihwal bangsa dan tanah air, mengutamakan kepentingan umum, tak kenal jerih payah dalam usaha untuk berprestasi dan lain sebagainya.

Dalam pembangunan bangsa salah satu fungsi utama pendidikan adalah pengembangan kesadaran nasional sebagai sumber daya mental dalam proses pembangunan kepribadian nasional. Kepribadian serta identitas nasional bertumpu pada pengalaman kolektif bangsa, yaitu pada sejarahnya. Orang tidak akan memahami hal ihwal bangsanya tanpa mempelajari sejarah.

Penulisan tokoh sejarah memang sudah sejak lama dilakukan, baik oleh sejarawan maupun masyarakat secara luas. Inventarisasi dan dokumentasi penulisan tokoh sejarah menjadi sangat penting. Hal ini tidak saja melibatkan pemerintah dan sejarawan, akan tetapi campur tangan masyarakat secara luas juga diperlukan.

Dengan dikeluarkannya UU No.23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, urusan kebudayaan dan termasuk sejarah menjadi tanggung jawab khusus bagi daerah masing-masing. Penulisan sejarah daerah tersebut tidak hanya ditulis oleh sejarawan, tetapi juga oleh komunitas dan jurnalis.

Untuk menggiatkan kembali penulisan tokoh-tokoh sejarah, perlu adanya sebuah pedoman penulisan yang dapat digunakan sebagai acuan oleh masyarakat luas. Untuk itu Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyusun Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah.

B. Dasar Hukum

Pelaksanaan program penyusunan Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah ini berdasarkan:

  1. Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2015 tentang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

  2. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Buku.

  3. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

  4. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2016 tentang Buku yang Digunakan oleh Satuan Pendidikan.

C. Tujuan

Tujuan penyusunan Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah adalah:

  1. Memberi acuan dalam penulisan tokoh sejarah

  2. Mendorong individu, perkumpulan, maupun organisasi profesi di seluruh Indonesia untuk lebih aktif dalam meningkatkan penulisan buku tokoh sejarah;

  3. Meningkatkan kapasitas individu, perkumpulan, maupun organisasi profesi di Indonesia dalam penulisan buku tokoh sejarah;

  4. Mewujudkan buku-buku tokoh sejarah yang dapat memberi wawasan dan inspirasi kepada masyarakat khususnya generasi muda.

D. Prinsip Dasar

Prinsip dasar Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah adalah:

  1. Nasionalisme. Penyusunan buku Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah dilakukan sebagai upaya memperkuat rasa nasionalisme dan kebangsaan serta memperkokoh karakter bangsa di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

  2. Objektif. Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah disusun secara objektif dan berpegang pada kaidah-kaidah penulisan sejarah secara ilmiah.

  3. Inspiratif. Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah disusun untuk menumbuhkan minat dalam menulis biografi Tokoh Sejarah-tokoh Indonesia yang bernilai inspiratif.

  4. Faktual. Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dalam penulisan tokoh sejarah.

E. Ruang Lingkup

Ruang lingkup Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah adalah:

  1. Pendahuluan;

  2. Pengertian Sejarah dan Tokoh Sejarah;

  3. Metode Penelitian Tokoh Sejarah;

  4. Sistematika Penulisan;

  5. Penutup.

F. Sasaran

Sasaran Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah adalah:

  1. penulis sejarah;

  2. guru;

  3. pelajar/mahasiswa;

  4. masyarakat luas.

G. Pengertian Umum

  1. Sejarah adalah rekonstruksi masa lalu umat manusia.

  2. Biografi adalah catatan tentang hidup seseorang.

  3. Otobiografi adalah catatan tentang hidup yang ditulis oleh dirinya sendiri atau

  4. Biografi kolektif adalah penelitian tentang sekelompok orang yang mempunyai karakteristik latar belakang yang sama dengan mempelajari kehidupan mereka.

  5. Tokoh sejarah adalah orang yang telah berperan dalam sebuah peristiwa penting di masa lampau baik melalui ide, gagasan, maupun tindakan, dalam tingkat lokal maupun nasional, peristiwa tersebut berimplikasi terhadap masyarakat luas, dan peranan si tokoh berdampak, baik pada masanya maupun pada masa-masa berikutnya.

  6. Sumber sejarah adalah kumpulan benda kebudayaan baik yang bersifat fisik, bersifat tulisan, bersifat lisan, maupun audiovisual untuk membuktikan sejarah.

  7. Sumber sejarah primer adalah kesaksian seorang saksi dengan mata kepala sendiri atau menyaksikan peristiwa secara langsung, atau dengan alat mekanis, dan dokumen-dokumen, naskah, arsip, surat kabar, (sumber primer mencakup sumber sejarah tertulis, lisan, audiovisual, yang sezaman dengan peristiwa)

  8. Sumber sejarah sekunder adalah kesaksian dari siapapun yang bukan merupakan saksi langsung, yakni dari pandangan orang yang tidak hadir pada peristiwa yang dikisahkannya, dan buku-buku, surat kabar yang tidak sezaman, (sumber sekunder mencakup sumber sejarah tertulis, lisan, audiovisual, yang tidak sezaman dengan peristiwa)

  9. Sumber tertulis adalah sumber sejarah yang diperoleh melalui peninggalan-peninggalan tertulis, catatan peristiwa yang terjadi di masa lampau, misalnya prasasti, dokumen/arsip, naskah/manuskrip, piagam, babad, surat kabar dan catatan harian.

  10. Sumber lisan adalah sumber sejarah yang diperoleh melalui wawancara atau melalui penuturan orang-orang yang pernah hidup pada masa yang sedang diteliti.

  11. Sumber audio-visual adalah merupakan sumber sejarah yang berbentuk rekaman yang bergambar.

  12. Metode Sejarah adalah proses menguji dan menganalisis kesaksian sejarah untuk menemukan data autentik dan dapat dipercaya, serta usaha sintesis atas data itu untuk menjadi kisah sejarah yang dapat dipercaya.

  13. Kritik intern adalah aktivitas kritik yang diberikan terhadap aspek dalam isi sumber sejarah.

  14. Kritik ekstern adalah kritik yang diberikan terhadap aspek luar dari sumber sejarah dengan cara melakukan verifikasi atau pengujian terhadap aspek-aspek luar atau fisik dari sumber sejarah.

  15. Arsip adalah kumpulan dokumen yang disimpan secara teratur, terencana, karena mempunyai nilai sesuatu kegunaan, agar setiap kali diperlukan dapat cepat ditemukan kembali, contoh: lembaran negara, besluit, staatblad, laporan kenegaraan, surat-surat perjanjian, dan sebagainya.

  16. Dokumen adalah setiap proses pembuktian yang didasarkan atas jenis sumber apapun, baik yang bersifat tulisan, lisan, gambaran, atau arkeologis.

BAB II
PENGERTIAN SEJARAH DAN TOKOH SEJARAH

A. Pengertian Sejarah

Istilah sejarah berasal dari bahasa Arab “syajarah” yang artinya pohon. Jadi istilah sejarah dapat diartikan sebagai silsilah atau asal-usul atau daftar keturunan. Silsilah itu jika digambarkan secara skematis maka akan seperti pohon dengan cabang-cabang serta ranting-rantingnya.

Istilah sejarah memiliki dua makna, pertama adalah sejarah sebagai peristiwa pada masa lampau, dan kedua sejarah sebagai kisah dari peristiwa-peristiwa tersebut. Peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lampau yang sampai kepada kita adalah sejarah sebagai kisah itu. Karena pada hakekatnya sejarah dalam arti pertama sudah tidak ada lagi dan tidak mungkin untuk kita menyaksikannya.

Menulis tentang seorang tokoh dalam sejarah berarti mengangkat tokoh tersebut ke dalam sejarah sebagai kisah. Dalam menulis sejarah tentang tokoh, semestinya menghadirkan sang tokoh yang ditulis dalam kapasitasnya sebagai seorang manusia yang sesungguhnya, apa adanya. Penulisan sang tokoh yang apa adanya ini tidak akan melampaui ”wewenang sang tokoh sebagai seorang manusia”. Sebaliknya, penulisan tokoh yang tidak berbicara apa adanya hanya akan menunjukkan ”manusia yang bukan manusia”.

B. Pengertian Tokoh Sejarah

Secara umum, tokoh dapat diartikan sebagai orang yang terkemuka, kenamaan, dan berpengaruh dalam masyarakat luas. Namun tidak seperti definisi umumnya, tokoh dalam hal ini adalah tokoh yang berperan dalam sejarah memiliki spesifikasi yang lebih mendalam. Tokoh sejarah adalah orang yang telah berperan dalam sebuah peristiwa penting di masa lampau baik melalui ide, gagasan, maupun tindakan, dalam tingkat lokal maupun nasional, peristiwa tersebut berimplikasi terhadap masyarakat luas, dan peranan si tokoh berdampak, baik pada masanya maupun pada masa-masa berikutnya.

Perlu dibedakan antara tokoh sejarah dan tokoh masyarakat. Jika tokoh sejarah adalah tokoh yang memiliki peranan penting pada peristiwa penting di masa lampau, dan peranan si tokoh sejarah berdampak, baik pada masanya maupun pada masa-masa berikutnya dan memiliki nilai inspiratif, tidak demikian dengan tokoh masyarakat. Tokoh masyarakat mungkin memiliki peranan penting di masyarakat, tetapi peranan tokoh masyarakat hanya berdampak selama si tokoh masih dapat berperan atau selama si tokoh masih hidup. Peranan si tokoh masyarakat akan hilang seiring dengan sudah tidak berperannya si tokoh ditengah-tegah masyarakatnya atau si tokoh meninggal dunia. Tokoh masyarakat tidak memiliki peranan penting pada peristiwa penting di masa lampau, dan peranan si tokoh masyarakat hanya berdampak pada masa hidupnya, tetapi tidak berdampak pada masa-masa berikutnya. Jadi tokoh sejarah pasti tokoh masyarakat, tetapi tokoh masyarakat belum tentu menjadi tokoh sejarah.

Tokoh-tokoh sejarah biasanya mencakup berbagai kalangan seperti, elit politik, tokoh pejuang, tokoh keadilan, tokoh pendidikan, tokoh ekonomi, tokoh militer, maupun orang biasa. Namun lebih jauh, seseorang ditokohkan bukan saja karena peranannya secara fisik, namun menyangkut berbagai aspek.

C. Kategori Tokoh Sejarah

Seseorang dapat dikatakan sebagai tokoh sejarah apabila memiliki kategori:

  1. Memiliki peranan penting dalam bentuk ide, gagasan, tindakan, dan karya-karyanya dalam sebuah peristiwa maupun beberapa peristiwa penting di masa lampau;

  2. Peranan si tokoh berdampak kepada masyarakat luas baik lokal maupun nasional;

  3. Keterangan tentang si tokoh beserta dengan peranannya dapat diketahui dan ditelusuri melalui sumber-sumber tinggalan; dan

  4. Gagasan, ide, dan tindakan si tokoh dapat menginspirasi dan memberikan pembelajaran kepada generasi penerus untuk meneruskan perjuangan atau melakukan hal-hal yang positif untuk kemajuan bersama.

BAB III
METODE PENELITIAN TOKOH SEJARAH

Dalam penelitian dan penulisan sejarah memiliki prosedur kerja tersendiri. Prosedur kerja dalam penelitian dan penulisan sejarah disebut metode sejarah. Metode sejarah adalah prosedur kerja peneliti sejarah untuk menuliskan kisah masa lampau berdasarkan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh masa lampau itu.

Metode sejarah digunakan sebagai metode penelitian untuk menjawab enam pertanyaan, yang merupakan elemen dasar penulisan sejarah, yaitu what (apa), when (kapan), where (dimana), who (siapa), why (mengapa), dan how (bagaimana). Metode sejarah dibagi atas empat kegiatan, yaitu:

  1. Pemilihan Topik

    Seringkali seorang penulis bingung dalam pemilihan topik, bukan karena topik yang dapat dipilih terlalu sedikit, tetapi karena banyaknya topik yang belum ditulis. Pemilihan topik sebaiknya berdasarkan kedekatan emosioanal dan kedekatan intelektual. Dua syarat itu sangat penting karena orang hanya akan bekerja dengan baik kalau dia senang dan dapat. Dalam pemilihan mengenai tokoh yang akan ditulis, penulis hendaknya mempertimbangkan beberapa hal, pertama ketertarikan penulis untuk mengetahui segala tindakan, ide, dan gagasan si tokoh, mungkin bisa di latar belakangi karena tindakan-tindakan si tokoh akan dapat memberi inspirasi bagi generasi selanjutnya sehingga perlu ditulis. Kedua, ketersediaan sumber, mengingat jika seorang tokoh layak di tulis tetapi sumber- sumber yang menunjang sulit di dapatkan, bisa karena sumber- sumbernya hanya ada di luar negeri dan penulis tidak memiliki akses kesana, tentu ini akan menyulitkan.

  1. Pengumpulan Sumber

    Pengumpulan sumber adalah tahapan atau kegiatan menemukan dan menghimpun sumber, informasi, jejak masa lampau. Sumber-sumber sejarah juga beraneka ragam. Usaha untuk menemukan sumber- sumber bagi penelitian sejarah yang hendak kita lakukan, akan sangat sukar jika kita tidak mengadakan klasifikasi atau penggolongan dari sekian banyak sumber sejarah itu.

    Sumber sejarah diklasifikasikan berdasarkan sifat dan berdasarkan bentuk. Berdasarkan sifat, sumber sejarah dibagi menjadi:

    1. Sumber Primer

      Sumber primer adalah kesaksian seorang saksi yang menyaksikan peristiwa secara langsung, atau dengan alat audio maupun visual, serta dokumen-dokumen/arsip, naskah/manuskrip, surat kabar. Sumber primer merupakan sumber sejarah tertulis, lisan, audiovisual yang sezaman dengan peristiwa. Oleh sebab itu, sumber primer harus dihasilkan oleh orang yang hidup sezaman dengan peristiwa yang dikisahkannya.

    2. Sumber Sekunder

      Sumber sekunder adalah kesaksian dari siapapun yang bukan merupakan saksi langsung, yakni dari pandangan orang yang tidak hadir pada peristiwa yang dikisahkannya, serta buku-buku, surat kabar yang tidak sezaman. Sumber sekunder merupakan sumber sejarah tertulis, lisan, audiovisual, yang tidak sezaman dengan peristiwa. Sumber-sumber sekunder contohnya adalah buku, tesis, disertasi, majalah, surat kabar, yang tidak sezaman. Sumber sekunder juga dapat diperoleh melalui wawancara seperti mewawancarai penulis atau wartawan yang pernah menulis dan melakukan wawancara tentang sebuah peristiwa atau seorang tokoh.

      Berdasarkan bentuk, sumber sejarah dibagi atas tiga macam:

      1. Sumber tertulis (dokumen-dokumen);

      2. Sumber lisan (misalnya hasil wawancara); dan

      3. Sumber audiovisual (rekaman suara dan gambar).

      Untuk keperluan penelitian tentang tokoh sejarah, kita dapat memulai dengan menggali tiga macam sumber seperti yang tersebut diatas. Sumber tertulis (misalnya akta kelahiran, ijazah, surat-surat, buku harian, dan sebagainya), sumber lisan (yang utama adalah hasil wawancara), sumber audiovisual (misalnya rekaman pidato maupun rekaman video).

      Setelah mengklasifikasikan sumber, kita harus mengetahui dimana kita dapat menemukan sumber-sumber tersebut. Sumber-sumber tertulis umumnya tersimpan pada kantor-kantor arsip. Ada juga sumber-sumber tersebut masih dimiliki secara pribadi baik oleh si tokoh sendiri maupun oleh keluarganya dan orang-orang terdekat lainnya. Sumber lisan dapat kita peroleh dengan wawancara orang-orang terdekat si tokoh seperti istri, anak, sahabat, dan sebagainya. Sumber-sumber benda umunya terdapat pada museum-museum, tetapi tidak menutup kemungkinan juga tersimpan di kantor arsip atau masih dimiliki secara pribadi.

  1. Verifikasi atau Kritik Sumber

    Verifikasi atau biasa disebut kritik sumber adalah cara penulis mencermati keabsahan sebuah data sejarah. Setelah sumber-sumber ditemukan, maka sumber-sumber itu harus diuji dengan kritik. Kritik ini ada dua macam, yakni kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal ini menyangkut dokumen-dokumennya. Kita teliti apakah dokumen itu memang yang kita kehendaki atau tidak, apakah palsu atau asli, apakah utuh ataukah sudah diubah bagian-bagiannya. Jika kita sudah puas mengenai suatu dokumen, artinya kita sudah yakin bahwa memang dokumen itulah yang kita kehendaki, baru kita menilai isinya, dan menilai isinya ini dilakukan dengan kritik internal.

    1. Kritik Eksternal

      Kritik Eksternal adalah kritik yang diberikan terhadap aspek luar dari sumber sejarah dengan cara melakukan verifikasi atau pengujian terhadap aspek-aspek luar, yaitu fisik dari sumber sejarah. Kritik eksternal meliputi: kapan sumber itu dibuat, dimana sumber itu dibuat dan ditemukan, siapa yang membuat, dan dari bahan apa sumber itu dibuat. Dalam kritik eksternal diperlukan otensitisitas untuk menguji keaslian sumber itu sendiri. Untuk itulah diperlukan pertanyaan-pertanyaan seperti diatas.

      1. Otentisitas

        Mengutip pendapat William Leo Lucey, Helius Sjamsudin mengatakan bahwa sumber otentik adalah sumber sejarah asli yang merupakan produk dari orang yang dianggap sebagai pemiliknya (atau dari periode yang sama dengan peristiwanya jika tidak diketahui pengarangnya). Antara kata asli (genuine) dan otentik (authentic) tidak selalu sinonim karena sumber asli di sini adalah sumber yang tidak palsu. Sebagai contoh seorang jurnalis yang menulis artikel tentang suatu peristiwa kerusuhan yang tidak disaksikannya sendiri, tulisan tersebut dapat dikatakan asli tetapi tidak otentik.

      2. Integritas

        Yang dimaksud dengan integritas yaitu terpeliharanya keotentikan sumber sejarah selama masa transmisi dari saksi mata aslinya sampai kepada peneliti, sehingga akan diketahui apakah sumber tersebut mengalami perubahan atau tidak. Menurut William Leo Lucey, suatu sumber mempunyai otentisitas jika sumber yang asli dapat terperlihara tanpa ada penambahan atau pengurangan, meskipun ditransmisikan dari masa ke masa. Jika itu semua benar-benar diketahui maka dapat dikatakan bahwa fakta dari kesaksian telah ditegakkan. Untuk mengetahui integritas dari sumber tersebut, seorang peneliti dapat mengetahuinya dengan membandingkan manuskrip asli dengan salinannya. Caranya, seorang membaca naskah asli dan peneliti mengikuti naskah salinan. Dengan cara inilah seorang peneliti dapat mengetahui penambahan atau penghilangan dari sumber sejarah, baik itu tanda baca maupun kata-kata yang terdapat dalam sumber tersebut.

    2. Kritik Internal

      Kritik internal mulai bekerja setelah kritik eksternal selesai menentukan, bahwa dokumen yang kita hadapi memang dokumen yang kita cari. Kritik internal harus membuktikan bahwa kesaksikan yang diberikan oleh suatu sumber memang dapat dipercaya. Buktinya diperoleh dengan cara:

      1. Penilaian intrinsik terhadap sumber-sumber; dan

      2. Membanding-bandingkan kesaksian dari berbagai sumber.

      Proses pertama yaitu penilaian intrinsik, dimulai dengan menyoroti pengarang dari sumber itu. Sebab bagaimanapun juga, dialah yang memberkan informasi mengenai masa lampau yang ingin kita ketahui. Pastilah kita harus mempunyai kepastian bahwa kesaksiannya dapat kita percaya. Untuk mengetahui hal itu kita harus menanyakan empat pertanyaan:

      1. Apakah ia mampu memberikan kesaksian (kemampuan itu antara lain berdasarkan kehadirannya pada waktu dan tempat terjadinya peristiwa, kemapuan itu bergantung juga kepada keahliannya, karena keterangan seorang pesuruh mengenai jalannya sebuah rapat gubernur tentu patut kita sangsikan nilainya).

      2. Apakah ia mau memberikan kesaksian yang benar (ini menyangkut kepentingan si pengarang terhadap persitiwa itu. Kita harus mengetahui apakah ia mempunyai alasan untuk menutup-nutupi sesuatu peristiwa atau untuk melebih-lebihkannya).

        Proses kedua dari kritik internal yaitu membanding-bandingkan kesaksian berbagai sumber. Dilakukan dengan menjejerkan kesaksian, dari saksi-saksi yang tidak berhubungan satu sama lain. Prosedur semacam ini juga dilakukan dalam pengadilan- pengadilan.

      3. Apakah sesuatu yang disampaikan itu akurat kebenarannya.
      4. Adanya kredibiltas mengenai isi laporan yang disampaikan.
    3. Interpretasi

      Interpretasi merupakan tahapan atau kegiatan menafsirkan fakta- fakta serta menetapkan makna dan menghubungkan fakta-fakta yang diperoleh. Terdapat dua macam interpretasi, yakni analisisyang berarti menguraikan dan sintesis yang berarti menyatukan. Melalui tahapan interpretasi ini lah, kemampuan intelektual seorang peneliti sejarah diuji. Peneliti dituntut untuk dapat berimajinasi membayangkan bagaimana peristiwa pada masa lalu itu terjadi. Namun, bukan berarti imajinasi yang bebas seperti seorang sastrawan, imajinasi seorang peneliti sejarah dibatasi oleh fakta-fakta sejarah yang ada.

    4. Penulisan

      Pada tahap ini adalah merekonstruksi fakta-fakta yang diperoleh ke dalam bentuk tulisan. Tahap inilah seluruh fakta yang diperoleh sang peneliti sejarah dituangkan. Dalam penulisan sejarah, aspek kronologi sangat penting, misalnya, sejarawan ingin membagi tulisan dari yang besar ke yang kecil, dari yang luas ke yang sempit atau dari yang konkrit ke yang abstrak.

      Suatu tulisan tentang tokoh yang baik harus dapat membuat lukisan yang meyakinkan tentang tokohnya. Bahwa tokoh itu hidup, berbicara, bergerak, dan menikmati hal-hal tertentu dalam hidupnya. Penulis harus dapat mengemukakan bukan hanya apa yang telah dilakukan oleh tokohnya, tetapi juga bagaimana tokoh itu, dan mengapa ia demikian.

      Selanjutnya, penulisan tokoh yang baik harus menjelaskan hubungan tokoh yang bersangkutan dengan kisah sejarah zamannya. Peranan dan hubungan dengan peristiwa di zamannya. Selain itu, kisah kehidupan seseorang bagaimanapun harus mencerminkan zamannya. Kisah itu harus mencerminkan “jawaban” tokoh yang bersangkutan terhadap “tantangan” zamannya.

      Dalam menulis tentang tokoh, tidak boleh dilupakan juga bahwa uraian usaha atau kegiatan perjuangan si tokoh tidak boleh diabaikan hubungannya dengan masyarakat atau bangsanya yang menjadikannya sebagai tokoh.

      Ada beberapa jenis penulisan tokoh sejarah. Jenis-jenis itu adalah:

      1. Otobiografi

        Otobiografi adalah biografi yang ditulis sendiri. Dengan otobiografi yang dilahirkan dari tangan pertama, diharapkan bahwa sejarah dapat dipahami dengan lebih baik. Salah satu contoh yang baik dari otobiografi adalah buku Saifuddin Zuhri yang berjudul “Guruku Orang-Orang dari Pesantren”. Akan tetapi, sebuah otobiografi selain mempunyai kekuatan juga mengandung kelemahan. Kekuatan otobiografi terletak dalam keterpaduan yang utuh sehingga pembaca tahu bagaimana penulis memahami diri, lingkungan sosial budaya, dan zamannya.

        Adapun kelemahan otobiografi adalah pandangan yang partial terhadap sejarah zamannya, karena orang tidak mungkin mengalami sejarah secara keseluruhan. Otobiografi juga bisa ditulis oleh orang lain, tetapi itu tidak mengurangi nilainya sebagai otobiografi.

        Salah satu buku yang dapat dijadikan pijakan dalam menulis otobiografi adalah otobiografi Deliar Noer “Aku Bagian Umat Aku Bagian Bangsa”. Di dalam bukunya, dia memaparkan perjalanan hidupnya dari masa kecil hingga seperti sekarang, beserta pengalaman-pengalaman hidup yang membentuk kepribadian dan membuka cakrawala pengetahuannya. Buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan, sehingga dapat memudahkan pembaca untuk “menyelami” kehidupan Deliar Noer.

      2. Biografi

        Biografi atau kisah tentang hidup seseorang, meskipun sangat mikro tetapi menjadi bagian dalam mosaik sejarah yang lebih besar. Dengan biografi dapat dipahami para pelaku sejarah, zaman yang melatarbelakangi biografi, dan lingkungan sosial politiknya. Akan tetapi, sebuah biografi sebenarnya tidak hanya menulis tentang hero yang menentukan jalannya sejarah, bisa juga cukup partisipan atau bahkan the unknown.

        Contoh biografi yang baik adalah biografi A.R. Baswedan berjudul “Membangun Bangsa Merajut Keindonesiaan” karya Suratmin dan Didi Kwartanada. Dalam biografi ini menceritakan riwayat hidup A.R. Baswedan dengan penuh catatan pertanggungjawaban sumber, daftar tulisan-tulisan A.R Baswedan di surat kabar serta sumber-sumber lisan.

        Biografi harus dibedakan dengan novel biografis. Misalnya novel biografis Sukarno yang ditulis oleh Ramadhan K.H., berjudul “Kuantar ke Gerbang”, mengantar kita untuk memahami keadaan kota Bandung pada sekitar tahun 1920-an, mahasiswa, dan perjuangan kemerdekan. Sebagaimana biografi adalah sejarah, novel biografis adalah novel sejarah. Sebagai novel sejarah ia harus memiliki otensitas sejarah, dan warna kesejarahan. Meskipun demikian, kita tidak dapat menggunakannya sebagai sumber sejarah, karena novel biografis adalah hasil sastra yang merupakan produk imajinasi, dan tidak dimaksudkan sebagai sejarah yang faktual.

      3. Biografi Kolektif

        Biografi kolektif adalah penelitian yang mempelajari kehidupan tentang sekelompok orang yang mempunyai karakteristik latar belakang yang sama. Latar belakang yang sama itu berarti zaman (rentang waktu, abad, tahun), persamaan nasib, kedudukan ekonomi, persamaan pekerjaan, persamaan pemikiran, dan persamaan peristiwa. Selain persamaan itu sendiri, pasti juga ditemukan perbedaan, kontras, bahkan pertentangan.

        Salah satu contoh buku biografi kolektif adalah buku karangan Deliar Noer “Membicarakan Tokoh-Tokoh Bangsa”. Buku ini membedah riwayat hidup tokoh-tokoh Indonesia sejak zaman Hindia Belanda, khususnya selama empat puluh tahun abad ke-20, hingga Indonesia merdeka sampai masa kini. Tujuannya adalah untuk melihat kepemimpinan bangsa guna pelajaran di masa depan.

      4. Sejarah Kejiwaan

        Sejarah kejiwaan adalah peleburan antara psikoanalisis dan sejarah. Tokoh yang paling menonjol dalam sejarah kejiwaan adalah Erik H. Erikson. Buku-bukunya seperti “Ghandi’s Truth”, “Young Man Luther”, dapat menjadi acuan bagi penulisan sejarah kejiwaan. Sejarah kejiwaan belum menjadi model di Indonesia. Padahal sarana untuk menulis itu tersedia. Misalnya untuk menjawab mengapa Sukarno menjadi seorang revolusioner, kiranya buku “Sukarno: An autobiography as Told to Cindy Adams” akan banyak memberi jawaban. Penggunaan otobiografi untuk biografi kejiwaan sudah dilakukan oleh Erikson. Erikson memakai otobiografi Mahatma Gandhi untuk menulis asal-usul dari keyakinan-keyakinannya.

BAB IV
SISTEMATIKA PENULISAN

A. Sistematika Penulisan Sejarah

Penulisan sejarah secara garis besar terdisi dari tiga bagian utama, yaitu bagian pendahuluan, isi, dan penutup.

  1. Bagian Pendahuluan

    Bagian paling awal dari setiap penulisan sejarah maupun disiplin ilmu lain adalah pendahuluan. Isi dari pendahuluan biasanya meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, permasalahan, tujuan, manfaat penelitian.

    1. Latar Belakang

      Berisikan alasan mengapa sebuah topik/tokoh dipilih. Latar belakang masalah juga menjelaskan kedudukan masalah yang hendak diteliti.

    2. Permasalahan

      Berisikan hal-hal yang harus diungkap dalam sebuah penelitian. Permasalahan juga memuat kesenjangan realitas yang terjadi antara teori dan fakta.

    3. Rumusan Masalah

      Berisikan daftar pertanyaan penelitian yang menjadi objek kajian.

    4. Tujuan

      Berisikan hal yang hendak dicapai dalam sebuah penelitian.

    5. Manfaat

      Berisikan sumbangan yang dapat diberikan dari hasil penelitian.

    Bagian pendahuluan ini tidak harus ditulis secara kaku dalam artian harus berbentuk poin-poin, namun boleh dipaparkan secara deskriptif dengan tidak mengurangi esensi dari bagian pendahuluan.

  1. Bagian Isi

    Dalam bab-bab inilah seorang penulis menunjukkan kebolehan dalam melakukan penelitian dan penyajian tulisan. Profesionalisme penulis akan nampak dalam pertanggungjawaban penulisan. Tanggung jawab itu nampak dalam catatan dan lampiran. Setiap fakta yang ditulis harus disertai dengan data yang mendukung.

    Jumlah bab dalam penyajian hasil penelitian disesuaikan dengan kebutuhan, bisa dua bab, atau lebih.

    Dalam bab-bab hasil penelitian dibahas tentang riwayat hidup si tokoh dari masa kecil, keluarga, hingga si tokoh mencapai puncaknya. Kemudian dipaparkan juga mengenai pemikiran, gagasan, termasuk dipaparkan juga mengenai karya-karya dan capaian-capaian si tokoh.

  1. Bagian Akhir

    Bagian ini berisikan uraian kesimpulan yang merupakan penegasan pembahasan dan jawaban dari permasalahan. Pada bagian ini juga dapat berisikan saran yang merupakan anjuran bagi penelitian- penelitian mendatang khususnya yang akan membahas topik yang sama.

  1. Daftar Referensi

    Bagian ini merupakan kumpulan dari sumber-sumber acuan yang digunakan dalam penulisan, baik sumber tertulis (artefak, buku, surat kabar, majalah, kartu tanda penduduk, ijazah, akta kelahiran dan sebagainya), sumber lisan berupa hasil wawancara, maupun sumber audio-visual berupa rekaman bergambar.

  1. Lampiran

    Bagian ini berisikan gambar ilustrasi, foto, transkip wawancara dan sebagainya sebagai bahan pendukung tulisan. Urutan lampiran disesuaikan dengan urutan dalam pembahasan.

B. Manfaat Penulisan Tokoh Sejarah

Ada beberapa manfaat menulis tokoh sejarah, yaitu:

  1. Penulisan tokoh sejarah dapat membangun simpati pembaca terhadap tokoh tersebut sehingga dapat menimbulkan kesenangan pada pembaca, dan membangkitkan aspirasi yang luhur;

  2. Penulisan tokoh sejarah dapat ”menghumanisasi” sejarah yang sering berupa kisah atau analisa dari tema-tema yang angker seperti yang terdapat dalam sejarah politik, sejarah ekonomi, sejarah sosial, sejarah militer, dan lainnya; dan

  3. Banyak orang segan mempelajari sejarah karena tema-tema yang angker tersebut, bagi mereka penulisan tokoh sejarah dapat dianggap sebagai pembuka jalan kearah kecintaan terhadap sejarah.

C. Permasalahan Penulisan Tokoh Sejarah

Selain manfaat, dalam menulis tokoh sejarah juga akan menghadapi beberapa permasalahan. Permasalahan-permasalahan itu tidak jauh berbeda dengan permasalahan yang dihadapi dalam penelitian sejarah biasa.

Pertama, adalah langkanya dokumen-dokumen yang tertulis. Masih umum dalam masyarakat Indonesia, belum memiliki kesadaran akan pentingnya sebuah dokumen. Jika sudah seperti itu, bahan-bahan lisan akan sangat menolong (hasil wawancara).

Kedua, narasumber-narasumber yang diwawancarai sudah tua, ingatannya sudah mundur atau bahkan pikun. Sehingga banyak ingatan-ingatan narasumber yang sudah kabur. Ini adalah gejala yang umum dan merupakan gejala ilmiah.

Ketiga, banyak bahan yang disimpan dirumah tidak secara sistematis. Memang menyimpan dokumen di rumah merupakan suatu kebiasaan di Indonesia. Padahal menyimpan dokumen-dokumen penting di rumah ada kemungkinan kebakaran, kebanjiran, pencurian, dan sebagainya. Sebaiknya dokumen-dokumen penting seperti itu disimpan di tempat yang aman, artinya dokumen-dokumen yang penting sebaiknya diserahkan kepada suatu badan penyimpanan arsip yang memenuhi persyaratan-persyaratan keamanan dokumentasi.

Keempat, banyak sumber-sumber sejarah Indonesia ada diluar negeri. Terutama di negara-negara yang mempunyai kaitan dengan Indonesia pada masa lampau, yaitu Belanda, Jepang, dan Inggris.

BAB V
PENUTUP

Pedoman penulisan Tokoh Sejarah ini ditujukan untuk para penulis sejarah, guru, pelajar dan mahasiswa, serta masyarakat luas. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan dukungan dan dorongan terhadap masyarakat dalam upaya meningkatkan penulisan sejarah, khusunya tentang Tokoh Sejarah-tokoh dalam upaya menumbuhkan rasa nasionalisme dan bangga terhadap sejarah bangsa.

Dengan adanya pedoman ini, kiranya dapat menjadi panduan semua pihak dalam penulisan Tokoh Sejarah. Harapannya buku ini dapat turut serta menumbuhkembangkan iklim penulisan buku-buku sejarah yang dilakukan oleh masyarakat. Sebagai buku pedoman, buku ini hanya memuat hal-hal yang mendasar, itu berarti bahwa tidak tertutup kemungkinan, dalam pelaksanaanya para peneliti, penulis dan masyarakat luas yang akan melakukan penelitian sejarah dapat mengembangkan dan mengayakannya sesuai dengan hasil interaksinya di lapangan.

Selanjutnya adlaah contoh-contoh yang dapat dilihat pada preview di bawah.

Demikianlah isi Permendikbud 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah, semoga bermanfaat.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 72 tahun 2016
tentang
Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah