Avatar jogloabang
Posted by jogloabang on March 04, 2018
Gerakan Perempuan Indonesia dalam Belenggu Historiografi Indonesia-Androsentris

Analisis tentang sejarah perempuan Indonesia cukup menarik. Sebagaimana kita ketahui bahwa penulisan sejarah maupun analisisnya cenderung masih menggunakan pendekatan lama, bahkan sebelum kemerdekaan yaitu pendekatan analisa kolonial. Tentu saja ini menggugah banyak pemikiran kritis tentang penulisan sejarah untuk membuat penulisan yang adil dan memiliki perspektif membangun. Membangun Indonesia tidak hanya dengan infrastruktur dan kurikulum, namun penulisan sejarah yang kaya dengan perspektif untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bukan tidak mungkin adalah hal yang sangat penting. Agar kita semua tidak mudah terombang-ambing dan putus akar kesejarahannya.

Berikut di bawah ini adalah tulisan Ruth Indiah Rahayu yang berjudul Gerakan Perempuan Indonesia dalam Belenggu Historiografi Indonesia-Androsentris. Tulisan ini pernah pada sesi “Sejarah Gerakan Perempuan Indonesia”, Pelatihan Dasar Gender, Seksualitas dan Maskulinitas, di GG. House, Gadog, Kabupaten Bogor, 20 - 23 Maret 2014. Ruth Indiah Rahayu sendiri adalah peneliti untuk fokus isu politik perempuan, perburuhan, dan reproduksi sosial, berdomisili di Jakarta. Mari kita simak.

Gerakan Perempuan Indonesia dalam Belenggu Historiografi Indonesia-Androsentris

Oleh : Ruth Indiah Rahayu

Problem Historiografi Gerakan Perempuan

Tulisan mengenai gerakan perempuan di Indonesia masih sangat terbatas. Bukan saja terbatas pada bilangan perempuan yang berminat untuk menulis sejarah tersebut, tetapi karena sejarah Indonesia selalu ditulis oleh (sejarawan) laki-laki maka hasilkan ceritera yang memberi eksistensi negeri ini seperti (hanya dihuni) laki-laki. Ceritera sejarah yang berpusat pada laki-laki ini disebut androsentris dan selama ini telah kita anggap sebagai kebenaran adanya sejarah manusia, khususnya manusia yang menghuni ruang bernama Indonesia. Realitas ini diakui oleh Bambang Purwanto (2006) bahwa ternyata ”...baik secara sadar atau tidak, realitas historis perempuan telah diabaikan sebagai bagian dari proses sejarah Indonesia”. Hingga tak mengherankan jika penulisan sejarah gerakan perempuan di Indonesia tertinggal jauh dari perkembangan historiografi Indonesia.

Problem itu menjadi tantangan bagi saya untuk mengupas gerakan perempuan di Indonesia bukan sebagai sebuah kronologi yang memuat deret nama organisasi perempuan berdasarkan periodesasi sejarah Indonesia. Sumber yang kita baca, baik berupa teks maupun lisan, dan reinterpretasi para penulis terhadap sumber-sumber tersebut menentukan seperti apa kita memberi makna atas masa lalu mengenai gerakan perempuan Indonesia. Sekali pun makna perempuan terhadap sejarahnya bukanlah sebuah reinterpretasi tunggal. Dari sinilah saya menawarkan pendekatan untuk menulis dan membaca gerakan perempuan di Indonesia berdasarkan pembedaan sebagai women in histrory (perempuan di dalam sejarah), women's history (sejarah perempuan) atau the history of women (sejarah tentang perempuan).

Women in History

Sejarah Indonesia-androsentris menempatkan perempuan dalam peran sebagai tokoh yang dipahlawankan. Tendensi itu mengemuka sebelum Revolusi Nasional yang oleh Frederick & Soeroto (1982) digolongkan menurut dua kategori peran.

Pertama, perempuan yang berperan sebagai panglima militer yang melawan, memusuhi dan menentang penjajahan Belanda. Perempuan ini, contohnya, adalah Tjut Nya' Dien, Tjut Mutia, Nyi Ageng Serang, Christina Martha Tiahahu. Meskipun panglima militer perempuan ini pada akhirnya ditangkap, dibuang, dipenjara seumur hidup dan dipandang sebagai pemberontak tetapi sungguh kebiasaannya yang menyimpang dari tradisi (laki-laki) itu menarik perhatian penulis sejarah Belanda.

Adapun peran perempuan golongan kedua yang menarik hati penulis sejarah Belanda adalah yang memiliki pemikiran dan kegiatan yang sejalan dengan politik etis Belanda pada akhir abad 20 dan awal abad 21 untuk memberi kesempatan perempuan pribumi memperoleh pendidikan 'modern'. Para perempuan perintis dan penyelenggara pendidikan ini adalah Kartini, Dewi Sartika, Maria Walandau Maramis, Nyi Hadjar Dewantoro, Rahmah El Yunusiyah, dll.

Penulisan perempuan dalam sejarah seperti itu masih dipergunakan oleh kurikulum sejarah nasional untuk menggambarkan adanya perempuan yang anti kolonial. Paradoksnya, menurut Frederick & Soeroto, itu berarti kita harus mengakui bahwa dalam penulisan perempuan dalam sejarah Indonesia pada dasarnya masih menggunakan perspektif kolonial. Unit analisis “perempuan” yang dipergunakan oleh penulis Belanda tersebut adalah seorang tokoh yang dilahirkan dari keluarga berdarah biru dan yang kemudian menanggalkan kenikmatan status kekuasaannya untuk berjuang melawan kolonial. Sedangkan fantasi kolonial terhadap para perempuan yang diherokan itu merupakan seksualitas pribumi Hindia Belanda yang digambarkan jelita, gagah tetapi lembut dan menawan.

Paradoks penulisan perempuan dalam sejarah Indonesia itu merupakan hasil rekonstruksi sejarah tentang Indonesia masa lalu setelah Indonesia merdeka yang terjebak oleh pemikiran dekolonisasi historiografi yang diartikan sempit, serba memuja kejayaan masa lalu (glorifikasi) dengan pemeran utama para hero yang tentu saja elitis. Perspektif ini pada gilirannya mengacaukan perspektif waktu dan geografis yang disebut Indonesia. Saya termasuk yang cukup lama meyakini bahwa Christina Martha Tiahahu ataupun Tjut Nya' Dien adalah pelaku “gerakan perempuan Indonesia”. Pandangan ini berubah ketika saya membaca lebih seksama bahwa kata “Indonesia” barulah dilontarkan sebagai wacana politik pergerakan intelektual awal abad 20. Hingga di masa kedua perempuan ini melawan kolonial, “Indonesia” sebagai konsep bangsa dan negara realitasnya belum ada. Hal lain, bahwa gerakan perempuan (berupa organisasi, kegiatan dan isu perempuan) barulah dikenal oleh perempuan pribumi pada awal abad 20, Jadi etika Tjut Nya' Dien maupun Chrisitina Martha Tiahahu berperan sebagaii panglima militer dalam perang melawan Belanda belumlah dapat dikategorikan sebagai gerakan perempuan.

Keyakinan saya terhadap perempuan dalam sejarah Indonesia yang ditampilkan dari pusat kekuasaan dan berdarah biru pun runtuh. Setelah saya melakukan perjalanan ke daerah-daerah dan mendengar tutur (ceritera) lokal tentang perempuan jelata yang membangun gerakan perempuan. Contohnya di Biak ada semacam gerakan mesianis para perempuan desa sekitar masa pendudukan Jepang, gerakan para perempuan di Tondano (Minahasa) angkat senjata melawan pada masa perang melawan Belanda, gerakan buruh perempuan pada masa pra-pendudukan Jepang di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan pasti masih hidup ceritera lainnya.

Dengan gambaran itu, “perempuan dalam sejarah” (women in history) Indonesia telah direduksi oleh kepentingan (kekuasaan) membangun identitas politik dan nasionalisme yang sejatinya masih post-kolonial.

Women's History

Di depan telah disinggung problem androsentrisme dalam sejarah Indonesia telah menghilangkan eksistensi perempuan. Herannya, kritik androsentrisme ini tidak dinyatakan oleh sejarawan perempuan akademik tetapi diungkapkan oleh sejarawan laki-laki seperti Bambang Purwanto, Asvi Warman Adam dan Kuntowijoyo. Ketiganya ini menawarkan penulisan sejarah Indonesia yang androgyn, yang secara adil menempatkan perempuan dan laki-laki eksis dalam kejadian dan peristiwa sejarah. Tetapi Kuntowijoyo menolak penulisan sejarah yang gynosentris, yakni yang berpusat pada perempuan.

Berbeda dengan gerakan yang dilakukan sejarawan laki-laki di Indonesia itu, di kalangan akademik Amerika dan Eropa terdapat gerakan yang dilakukan oleh feminist historian untuk membangun konstruksi teoritis penelitian dan penulisan sejarah yang berpusat pada perempuan (gynosentris). Scott (1988) merekosntruksi berbagai esai feminist historian tentang eksplorasi metodologis feminist history yang berimplikasi lahirkan “sejarah baru”. Ia mengutip pandangan sejawatnya yang menyatakan:

”..that the writing women into history neccessarily involves redefining and enlarging traditional notions of historical significance, to encompass personal, subjective experience as well as public and political activities. It is not too much to suggest that however hesitant the actual beginnings, such a methodology implies not only a new history of women, but also a new history”.

Pada esai tulisan Scott (1996) yang lain, ia menawarkan '”gender” sebagai kategori analitik peneltian sejarah agar dapat mengungkap tabir ketidakadilan dalam berbagai relasi perempuan dengan modal, militer, kehancuran ekologi, dan sebagainya. Ia dan sejawatnya memilih istilah feminsit history ketimbang women's history. karena hendak menggali akar ketidakadilan yang tersembunyi dalam sejarah sosial yang lebih komprehensil, detil dan majemuk.

Meski saya sependapat untuk menggunakan istilah feminist history, tetapi itu hanya lebih mudah disebutkan di tingkatan akademik atau intelektual. Istilah itu akan mungkin tidak populer digunakan sebagai bahasa keseharian masyarakat. Tetapi pada prinsipnya, harus ada kemauan untuk menulis historiografi Indonesia yang tak sekedar memberi ruang adanya perempuan. Karena substansi problemnya terletak pada metodologi, maka usaha untuk membongkar androsentrisme dalam historiografi Indonesia adalah juga melalui sebuah metodologi.

Saya mengambil contoh sejarah pergerakan nasional akan terasa berbeda jika kita baca menurut versi gerakan perempuan. Cora Vreede de-Stuers (1960) mengambil kurun 1900 untuk memasukkan gerakan perempuan ke dalam sejarah Indonesia, karena pada masa itu kesadaran perempuan untuk memerdekakan diri dari belenggu patriarki keluarga dan penjajahan mulai bangkit. Kebangkitan nasional versi gerakan perempuan dalam hal ini dimulai dengan gerakan yang memerdekakan perempuan dari buta huruf, perkawinan dini dan poligini (praktek pernikahan laki-laki dengan lebih dari seorang pasangan perempuan). Oleh karena kegiatan organisasi perempuan lebih cenderung bersifat sosial, maka penulisan sejarah pergerakan nasional yang androsentris menafikannya. Pergerakan nasional dalam perspektif laki-laki adalah kegiatan politik, sehingga kegiatan gerakan perempuan yang sosial tidak dapat dimasukkan ke dalamnya.

Contoh lain tentang pendidikan. Meskipun gerakan perempuan memulai kegiatannya dengan pembebasan buta huruf melalui pendirian sekolah-sekolah bagi perempuan sejak 1900an, tetapi yang diakui sejarah Indonesia sebagai “bapak pendidikan” adalah Ki Hadjar Dewantoro. Sepertinya pendidikan yang menjadi awal dari bangkitnya gerakan perempuan untuk merdeka itu bukan sesuatu yang politik.. Memerangi perkawinan dini dan poligini itu bukan politik. Sesuatu yang sosial dan domestik itu bukan politik. Padahal yang sosidal dan domestik yang dikerjakan oleh gerakan perempuan itu untuk pembebasan berganda: perempuan dari adat dan kolonial.

Contoh itu menegaskan bahwa pemaknaan terhadap kegiatan, kejadian dan peristiwa sangat berperan menentukan seleksi historis. Tulisan para perempuan tentang gerakan perempuan seperti yang telah dikerjakan Cora Vreede de-Stuers, Saskia Eleonora Wieringa (1995), Susan Blackburn (2004), Elizabeth Martyn (2005(, Sukanti Suryocondro (1984), adalah sebuah usaha untuk memaknai sesuatu yang telah dikerjakan aktivis perempuan di masa lalu sebagai “sejarah perempuan” di Indonesia. Termasuk penulisan biografi aktivis perempuan di masa lalu yang saat ini mulai banyak dikerjakan oleh individu atau kolektif lembaga.

Jika merujuk pada gambaran yang telah diurai itu, maka gerakan perempuan dalam perspektif women's history, mempunyai kedudukan “yang politik sebagai subyek” yang menciptakan peristiwa besar seperti Revolusi Nasional 17 Sgustus 1945.

The History of Women

The history of women banyak ditulis oleh feminist historian yang tertarik untuk mengungkap dewi-dewi (goddess) pada abad jauh sebelum pertengahan. Kekuasaan dewi-dewi atas manusia dan alam seperti sungai, hutan, pertanian, kecantikan, kebijakan, dsbnya, menyiratkan adanya kekuasaan perempuan dalam hal kejadian penciptaan atau sebagai sumber yang mengawali terjadinya eksisten- eksisten kehidupan di bumi.

Indonesia cukup kaya dengan ceritera tentang dewi, dahyang, peri, yakni tentang perempuan yang menciptakan lahirnya sebuah alam, manusia dan kebudayaan. Saya menjumpai berbagai tutur adat atau rakyat mengenai asal usul identitas sebuah komunitas berpola ceritera sama: selalu berasal dari perempuan. Contohnya, orang di Pulau Seram mengakui asal-usul mereka dari seorang Ina (ibu) yang bermukim di gunung Nunusaku, dan kemudian melahirkan empat anak laki-laki yang kemudian menjadi Pulau Haruku, Pulau Saparua, Pulau Nusa Laut dan Pulau Ambon. Di Nias terdapat ceritera bahwa penguasa teknologi api bernama Sapaputi adalah perempuan, dan kemudian keahliannya itu dicuri dengan tipu muslihat oleh Marao (laki-laki) yang selama itu tergantung padanya. Di Jawa Tengah, hidup ceritera tentang Dewi Nawangwulan, bidadari yang dikawin oleh Joko Tarub yang mempunyai teknologi menanak sebulir padi menjadi sekuali nasi.

Penulisan para perempuan sebagai empu, yang menciptakan kehidupan atau asal-usul manusia, yang menciptakan teknologi untuk keberlangsungan hidup manusia dan alam (kebudayaan) adalah merupakan “sejarah tentang perempuan”. Penulis sejarah tentang perempuan di Indonesia barangkali belum ada yang benar-benar menyadarinya sebagai sejarah Indonesia. Realitasnya sejarah Indonesia belum mau mengakuinya sebagai sejarah, karena adanya perdebatan mengenai mite dan legenda rakyat yang disampaikan secara lisan (tutur) bisa dianggap sebagai sumber sejarah yang sahih atau tidak. Wilayah studi ini lebih produktif di lingkup antropologi, yang sayangnya dipandang oleh sejarawan Indonesia tidak memiliki dimensi politik, irasional dan sulit dipertanggungjawabkan secara metodologi sejarah.

Gerakan perempuan menurut hemat saya dapat dikaji sebagai the history of women, sebab darinya suatu nilai yang baru diciptakan, dilahirkan dan diwujudkan sebagai sebuah praktek sosial yang berprospek perubahan (pembebasan perempuan). Kegiatan organisasi perempuan untuk membangun rumah bersalin, menyelenggarakan pendidikan bagi ibu dan taman kanak-kanak, membangun koperasi simpan pinjam, adalah usaha membangun sarana reproduksi sosial demi keberlangsungan dan regenerasi anggota keluarganya.

Contoh yang menarik ketika akhir dekade 1950an terjadi krisis ekonomi, sebuah organsiasi perempuan (Gerwani) melakukan gerakan “Seribu Satu Macam” untuk menanam sayur di pot-pot halaman rumahnya, menyelenggarakan bazar pakaian murah yang diperoleh dari pakaian anggota dari strata sosial yang atas dijual murah kepada anggota atau umum yang strata sosialnya lebih miskin. Prinsip gerakan ini adalah menekan pengeluaran uang tunai untuk belanja kebutuhan reproduktif atau bahkan yang konsumtif. Pola serupa dilakukan oleh gerakan Suara Ibu Peduli ketika menjawab krisis dalam bentuk kenaikan harga susu dengan kegiatan penjualan susu murah kepada perempuan miskin. Pun belum banyak yang menyadari ketika gerakan perempuan/ibu membuka dapur umum dan memberi nasi bungkus kepada gerakan mahasiswa 1998 dapat dimaknai sebagai “ibu yang memberi makan anak-anaknya”. Secara politik, dalam analogi perang misalnya, gerakan nasi bungkus itu dapat dimaknai sebagai institusi sumber logistik bagi tentara yang sedang berperang.

Jadi “sejarah tentang perempuan” (the history of women) lebih dekat dekat kehidupannya sebagai pencipta dan pelestari kehidupan yang memliki daya survival yang khas demi kelangsungan kehidupan itu sendiri.

Penutup

Setelah menguraikan problem historiografi gerakan perempuan Indonesia,, setidaknya sejak saat sekarang saya mengajak pembaca gunakan tiga pendekatan women in history, women's history dan the history of women untuk membaca sejarah. Indonesia ataupun sejarah dunia. Membaca sejarah adalah memberi makna subyektif terhadap masa lalu, dan dengan itu kita telah berupaya untuk membangun gerakan pembebasan pikiran kita dari belenggu kekuasaan yang androsentris. Dalam makna ini saya bertutur tentang gerakan perempuan tidak secara kronologis masa demi masa seperti menceriterakan barang antik tua yang dipajang di museum, melainkan memberikan penekanan pada bagaimana cara membaca sejarah sebagai bagian dari kegiatan pembebasan sehari-hari agar perempuan eksis sebagai identitas dan entitas yang selalu berpikir kritis.

Lenteng Agung, 28 Mei 2009

Kepustakaan

Blackburn, Susan, (2004), Women and the State in Modern Indonesia, Cambridge University Press, dan telah diterbitkan dalam edisi terjemahan oleh Kalyanamitra (2009)

Frederick, Willian & Soeri Soeroto, (1982), Pemahaman Sejarah Indonesia, LP3ES, Jakarta.

Martyn, Elizabeth, (2005), The Women's Movement in Post-colonial Indonesia: Gender and nation in a new democracy, RouledgeCurzon, London

Purwanto, Bambang, (2006), Gagalnya Historiografi Indonesiasentris , penerbit Ombak, Yogyakarta

Ruth Indiah Rahayu, (2007), Konsstruksi Historiografi Feminisme Indonesia dari tutur Perempuan, esai untuk Simposium Historiografi Nasional.

Scott, Joan Wallach, (1988), Gender and The Politics History, Columbia University Press

................................, (1996), Gender: A Useful Category of Historical Analysis, dalam Feminism and History, Oxford University Press, New York

Wieringa, Eleanor Saskia, (1996), The Politization Gender Realation in Indonesia: The Indonesia Women's Movemnet and Gerwani until The New Order State, edisi terjemahan diterbitkan Kalyanamitra, Jakarta.