Avatar jogloabang
Posted by jogloabang on February 26, 2018
SENSI, Pameran Komunitas Tulang Rusuk 2018

Pameran Komunitas TULANG RUSUK - A Group ExhibitionofFemaleArtists - kembali hadir dengan tema besar "SENSI". Pameran SENSI TULANG RUSUK akan menghiasi kota Jogja mulai pada hari Rabu, 28 Februari 2018, Jam 19.30 WIB hingga tanggal 6 Maret 2018, jam 21.00 WIB. Jadi jam buka Pameran SENSI dari Komunitas TULANG RUSUK ini adalah mulai jam 09.00 - 21.00 WIB. SENSI diikuti oleh 30 perupa perempuan.

Pameran Lukisan dari Komunitas TULANG RUSUK berjudul "SENSI" yang akan dibuka oleh Chatarina Laksmi K. Hoyi ini dapat anda hadiri di JOGJA GALLERY, Jalan Pekapalan Nomor 7, Alun-Alun Utara, Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta 55131. Contact Person yang bisa dihubungi adalah Harin: +62 899-5080-068 dan Saniyah: +62 857-2590-0927.

Pameran Tulang Rusuk Sensi

SENSI - Pameran Komunitas Tulang Rusuk

Sekilas Komunitas Tulang Rusuk

Komunitas Tulang Rusuk adalah sekelompok perupa perempuan seni murni, ISI Yogyakarta yang terbentuk pada tahun 2014. Komunitas ini lahir dari kebutuhan mahasiswi seni murni untuk menghidupkan semangat solidaritas perempuan dalam berkesenian.

Pada tahun 2014, sekelompok mahasiswa perempuan Seni Rupa ISI Yogyakarta dengan penuh gairah menggagas sebuah komunitas seni, bernama Tulang Rusuk. Inisiatif berkoloni tersebut mula-mula muncul dari keinginan menjalin solidaritas dan bersinergi dalam berkesenian. Secara spesifik, komunitas ini mewadahi perempuan yang sedang dan atau telah mengenyam pendidikan Seni Murni di FSR ISI Yogyakarta. Tujuannya sederhana, yaitu sebagai ruang berbagi, belajar, dan berkolaborasi, agar perupa perempuan dapat semakin terbuka, produktif dan berdaya. Untuk menandai kehadirannya di tengah publik, Komunitas Tulang Rusuk pertama-tama menggelar pameran komunitas pada tahun 2015, bertajuk Datang Bulan. Aktivitas komunitas tersebut kemudian banyak diisi dengan kegiatan pameran kelompok, seni ruang publik dan edukasi, sertaberpartisipasi dalam kegiatan kesenian di Yogyakarta.

Istilah Tulang Rusuk dipilih sebagai nama kelompok karena keberadaanya yang filosofis. Tulang-tulang rusuk bersatu melengkung untuk membentuk rongga yang berfungsi melindungi organ-organ vital. Demikian halnya dengan komunitas ini, diharapkan mampu bersinergi untuk melidungi esensi dari berkesenian, sehingga eksistensi perupa perempuan sebagai subjek mampu menghidupkan wacana dan riak seni rupa. Sebagai awal mula kegiatan bersama para anggota komunitas, kami telah meggelar pameran seni rupa perdana berjudul," Datang Bulan" - Citra Perempuan Dalam Cipta, Rasa, dan Karsa pada 2014 yang lalu.

Kini tepat 4 tahun setelah komunitas ini terbentuk, kami kembali mengadakan pameran dengan tajuk "Sensi". Kata 'sensi' merupakan sebuah akronim populer dari kata 'sensitif" yang berarti peka scara indrawi atau memiliki kepekaan tertentu terhadap rangsangan, umumnya dipergunakan untuk mendeskripsikan keadaan seorang wanita ketika sedang menstruasi. Sensitivitas para angota Tulang Rusuk diuji dalam menanggapi beragam permasalahan dari luar yang kemudian memberi impuls atau rangsangan terhadap kesadaran masing-masing individu anggota untuk berproses kreatif dan menghasilkan 'reaksi' berupa karya-karya seni yang tidak hanya indah dan bernilai estetis, namun juga berbobot dan bertanggungjawab secara sosial.

SENIMAN

Anjani Imania Citra | Angel Gracia | Annisha Novita Sari | Ayu Desianti | Ayu Rika 
Aurora Santika | Camelia Mitasari Hasibuan | Diana Puspita Putri | Debby Dayanti 
DhiasasihUlupi | Dyah Ayu Santika | Elisa Faustina | Haridarvati | Ifthinan Juanitasari
Ipeh Nur | Imaculata Yosi P. | Jacqueline Jesse B.T. | Ledyana Nanda F. | Lisani Nuron 
Lisa Utami | MeitikaLantiva | Melta Desyka | Mualifatus Saniyah | Oktaviyani | Rara Kuastra
Reza Pratisca Hasibuan | Ryani Silaban | Sri Dewi Asliana | Triana Nurmaria | Vina Puspita

Tentang SENSI

Mendengar istilah sensi, sekilas yang terbesit adalah: cewek banget!. Stereotip gender tersebut rasanya begitu melekat pada perempuan yang secara psikologis dicap lebih emosional dan secara biologis harus mengalami siklus hormon. Tidak jarang kata sensi memiliki konotasi yang negatif, identik dengan kelakuan perempuan yang sulit dimengerti dan gampang tersinggung. Sebagian orang mungkin menilainya sebagai kelemahan. Padahal jika ditelaah, istilah sensi berasal dari kata sensitif, yang artinya cepat menerima rangsangan, alias peka. Hal ini justru bisa menjadi kekuatan seorang perempuan. Dengan kepekaan yang dimiliki, perempuan belajar membaca situasi, memahami dan mencari solusi.

Berangkat dari dua cara memahami tema “Sensi”, pameran ini memperlihatkan sensitivitas perempuan dalam merespon peristiwa dan permasalahan yang terjadi di dalam diri dan sekelilingnya melalui ekspresi visual. Tema-tema yang diangkat terbilang beragam, namun bisa dikelompokkan ke dalam tiga tema besar, antara lain keluarga, sosial budaya, dan identitas/personal. Pertama, tema keluarga membicarakan relasi ideal antara anak dan orang tua, pengorbanan seorang ibu, hingga tantangan pernikahan maupun berkeluarga. Selanjutnya tema-tema sosial budaya, lingkungan dan politik juga menjadi konsentrasi sebagian perupa perempuan. Di antaranya adalah topik-topik tentang fenomena sosial media, tragedi kemanusiaan, pelestarian budaya lokal hingga isu kerusakan alam. Ketiga, tema personal, termasuk di dalamnya membicarakan identitas, adalah tema yang mendominasi kekaryaan seniman dalam pameran ini. Selayaknya sedang mencurahkan isi hati, kelompok tema ini berisikan pengalaman pribadi, afirmasi, serta proses penemuan identitas diri.

Sebagai perempuan yang bebas dan setara, banyak kejutan yang bisa ditemui dalam setiap karya pameris, baik dari segi gagasan, maupun eksplorasi visual. Diadakannya pameran Komunitas Tulang Rusuk ini merupakan langkah yang baik bagi pergerakan perupa perempuan Indonesia, untuk terus berekspresi dan mengasah diri. Sebab dari situlah keberagaman pemikiran seniman muda perempuan bisa diamat-amati, diapresiasi, serta dikritisi.

Tulang Rusuk Pameran Komunitas Sensi

Di bawah ini tulisan Vina Puspita untuk Pameran Tulang Rusuk "SENSİ"

PAMERAN Tulang Rusuk "SENSİ"

dengan penuh gaira menggagas sebuah komunitas seni, bernama Tulang Rusuk. Inisiatif berkoloni tersebut mula-mula muncul dari keinginan menjalin solidaritas dan bersinergi dalam berkesenian. Secara spesifik, komunitas ini mewadahi perempuan yang sedang dan atau telahmengenyam pendidikan Seni Murni di FSR ISI Yogyakarta.

Maksudnya sederhana, yaitu sebagai ruang berbagi, belajar, dan berkolaborasi, sehingga perupa perempuan dapat semakin produktif, terbuka dan berdaya. Sebagai penanda kahadirannya di tengah publik, Komunitas Tulang rusuk menggelar pameran perdana pada tahun 2015, bertajuk Datang Bulan. Aktifitas komunitas tersebut kemudian banyak diisi dengan kegiatan pameran kelompok, seni ruang publik, edukasi dan partisipasi dalam kegiatan kesenian di Yogyakarta.

Pada awal tahun ini, Tulang Rusuk mengadakan pameran komunitas untuk yang kedua kalinya dengan mengusung tema "Sensi", bertempat di Jogja Gallery, Yogyakarta. Pameran seni rupa yang diikuti oleh 29 perupa perempuan ini berlangsung sejak tanggal 28 Februari hingga 6 Maret 2018. Mendengar istilah "sensi", sekilas yang terbesit adalah: cewek banget!. Stereotip gender tersebut rasanya begitu melekat pada perempuan yang secara psikologis dicap lebih emosional dan secara biologis harus mengalami siklus hormonal.

Tidak jarang kata "sensi" memiliki konotasi yang negatif, identik dengan kelakuan perempuan yang sulit dimengerti dan gampang tersinggung. Sebagian orang mungkin menilainya sebagai kelemahan.

Padahal jika ditelaah, istilah "sensi" berasal dari kata sensitif, yang artinya cepat menerima rangsangan; peka. Hal ini justru bisa menjadi kekuatan seorang perempuan. Dengan kepekaan yang dimiliki, perempuan belajar membaca situasi, memahami dan mencari solusi.

Berangkat dari dua cara memahami tema "Sensi", pameran ini memperlihatkan sensitivitas perempuan dalam merespon peristiwa dan permasalahan yang terjadi di dalam diri dan sekelilingnya melalui seni visual. ema-tema yang diangkat terbilang beragam, namun bisa dikelompokkan ke dalam tiga tema besar, antara lain keluarga, sosial budaya, dan identitas/ personal. Pertama, tema keluarga membicarakan relasi ideal antara anak dan orang tua, pengorbanan seorang ibu, hingga tantangan pernikahan maupun berkeluarga.

Berangkat dari dua cara memahami tema "Sensi", pameran ini memperlihatkan sensitivitas perempuan dalam merespon peristiwa dan permasalahan yang terjadi di dalam diri dan sekelilingnya melalui seni visual. Tema-tema yang diangkat terbilang beragam, namun bisa dikelompokkan ke dalam tiga tema besar, antara lain keluarga, sosial budaya, dan identitas/ personal.Pertama, tema keluarga membicarakan relasi ideal antara anak dan orang tua, pengorbanan seorang ibu, hingga tantangan pernikahan maupun berkeluarga. Selanjutnya tema-tema sosial budaya, lingkungan dan politik juga menjadi konsentrasi sebagian perupa perempuan. Di antaranya adalah topik-topik tentang fenomena sosial media, tragedi kemanusiaan, pelestarian budaya lokal dan kerusakan alam. Ketiga, tema personal, termasuk di dalamnya membicarakan identitas, adalah tema yang mendominasi kekaryaan pameris dalam pameran ini. Selayaknya sedang mencurahkan isi hati, kelompok tema ini berisikan pengalaman pribadi, afirmasi, dan proses penemuan identitas diri.

Sebagai perempuan yang bebas dan setara, banyak kejutan yang bisa ditemui dalam setiap karya pameris, baik dari segi gagasan, maupun eksplorasi visual. Diadakannya pameran Komunitas Tulang Rusuk ini merupakan langkah yang baik bagi pergerakan perupa perempuan Indonesia, untuk terus berekspresi dan mengasah diri. Sebab dari situlah keberagaman pemikiran seniman muda perempuan bisa diamat-amati, diapresiasi, serta dikritisi.

Katalog Pameran Komunitas TULANG RUSUK "SENSI" ExhibitionofFemaleArtists

Berikut ANTARA SIASAT dan PeluANG BERSUARA tulisan dari Rain Rosidi:

ANTARA SIASAT dan PeluANG BERSUARA

PAMERAN Kelompok Tulang Rusuk

Ada hubungan tertentu yang biasanya diasumsikan umum antara kata "sensi" dengan siklus bulanan perempuan. Konon setiap datang bulan, perempuan menjadi lebih 'sensitif". Mereka lebih reaktif dan mudah marah. Tema ini terkesan ringan, namun menunjukkan kesadaran kelompok Tulang Rusuk dalam usaha menyandang identitas bersama mereka sebagai perempuan muda. Kelompok Tulang Rusuk setidaknya adalah generasi terbaru kelompok perupa perempuan yang lahir dari rahim ISI Yogyakarta. Mereka berdiri tahun 2014, dengan anggota meliputi mahasiswi dan mantan mahasiswi yang belajar di Jurusan Seni Murni, jurusan yang terdiri dari seni lukis, seni grafis, dan seni patung. Di bangku kuliah ketiga bidang seni itu, dominasi laki-laki jauh melebihi jumlah perempuan.

Siklus datang bulan dalam banyak kebudayaan dianggap negatif dan Sumber kekotoran. Perempuan yang sedang mengalami siklus ini dianggap kotor dan mengurangi akses-aksesnya terhadap hal-hal sakral.

Pengalaman yang terjadi setiap bulan itu dapat berimbas pula dalam diri perempuan, bukan hanya soal-soal yang fisik dan alamiah, tapi juga sosial dan mental. "Sensi" menunjukkan keberterimaan para "Tulang Rusuk" ini terhadap siklus yang alamiah ini, sebagaimana gunung memuntahkan.

'Sensi' juga serupa gertakan, yang wălau ringan dan main-main, namun tetap kukuh dan berbahaya.

Beberapa kelompok perupa mengidentifikasi dirinya sebagai kelompok perupa perempuan. Dalam kasus Tulang Rusuk, seninya. Mereka berkumpul dan membina komunitas khusus perempuan itu karena sebagai minoritas di kampus, mereka lebih cenderung untuk saling berkumpul dan berbagi persoalan. Keintiman di antara mereka, menurun dalam beberapa generasi dan ruang kelas. Dari keintiman itu, lahirlah ide untuk membentuk komunitas yang mereka tujukan untuk membantu proses belajar dan merintis karir profesi.

Minoritas tentu mengalami hambatan. Perempuan di Indonesia belum sepenuhnya lepas dari penindasan dan ketidaksetaraan dengan rekannya (laki-laki). Pada dasarnya medan sosial seni tidak peduli apapun jenis kelaminmu. Namun perupa perempuan atau mahasiswi seni juga tinggal dan hidup bersama masyarakat sosialnya.

Nilai budaya dalam masyarakat tidak sepenuhnya meninggalkan jejak ketidak setaraan gender. Bahkan terkadang nilai-nilai tersebut dimanfaatkan untuk merendahkan derajat perempuan di ranah sosial, politik dan kebudayaan. Pandangan tersebut berseliweran hingga ke hubungan-hubungan personal, yang kadang juga terjadi dalam hubungan antar seniman maupun pendukungnya. Nama kelompok ini (Tulang Rusuk) bisa jadi lahir dari situasi-situasi tersebut. Keberadaan mereka sebagai perempuan, dikukuhkan karena situasi-situasi yang tidak saja personal tapi juga sosial dan politis.

Pada sisi lain, posisi perempuan yang lebih sedikit ketimbang laki-laki justru punya nilai siasat lebih strategis. Keberadaan mereka dapat lebih dikenali. Dengan dikenali, mereka akan dapat mengembangkan karakter karyanya dengan lebih nyaman. Apalagi perempuan dapat mengetengahkan tema-tema yang tidak bisa atau enggan dikerjakan laki-laki.

Keperempuanan adalah tema tersendiri yang problematis sekaligus menantang untuk dijelajahi.

Menyandang diri sebagai kelompok perempuan, bisa pula peluang untuk bersuara lebih lantang. Nilai-nilai yang mengukuhkan ketimpangan antara lelaki dan perempuan dalam masyarakat terkadang memasung suara dari perempuan. Apalagi dalam masyarakat yang lebih memanggungkan peran laki-laki. Dengan berkelompok sebagaimana Tulang Rusuk, suara-suara yang lirih itu dapat lebih keras dikumandangkan. Begitu harapan saya. Demikian dari Rain Rosidi.

Demikian dari Rilis Pameran Komunitas Perempuan Tulang Rusuk, SENSI. Jadi sensi itu bukan hanya BAPER, tapi memiliki makna kata positif lain yang bisa diinterpretasikan baik secara visual melalui tulisan, lukisan bahkan bisa dipamerkan.