Avatar jogloabang
Posted by jogloabang on December 30, 2016
Rijsttafest

Rijsttafest, sebuah festival untuk mengabarkan hasil survei temuan Ciris - Para Syndicate - Syarikat Indonesia tentang bagaimana persepsi hubungan Indonesia Belanda di mata generasi muda. Rijsttafest ini berlangsung di Semarang pada 22 -23 Nopember 2016 di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang. Cukup ramai dikunjungi dengan memeriahkan Taman Srigunting di depan gedung Oudetrap dengan hiasan Payung dan Foto-foto masa lalu kota lama Semarang.

Adapun hasil surveinya adalah seperti di bawah ini:

Ingatan Kolektif, Sejarah, dan Persepsi Hubungan Indonesia dan Belanda: Menuju Rekonsiliasi Masa Lalu dan Membangun Sejarah Masa Depan"

CIRiS - PARA Syndicate - Syarikat Indonesia bekerja sama dengan Kedutaan Besar Belanda di Indonesia melakukan penelitian survei untuk mengetahui persepsi generasi muda terdidik Indonesia tentang sejarah dan ingatan kolektif mengenai hubungan Indonesia-Belanda: masa lalu, sekarang, dan masa depan. Batasan generasi muda terdidik Indonesia adalah generasi yang lahir antara tahun 1980-2000 atau generasi Y (millennial).

Survei dilakukan terhadap 1.605 responden berlatar belakang siswa sekolah menengah atas (SMA)/sederajat yang duduk di kelas II dan III, dan mahasiswa lulusan strata satu/ sederajat, berusia antara 15-30 tahun. Dengan teknik multi stage random sampling, sebaran responden ditentukan secara acak di 64 SMA/sederajat dan 43 universitas/sederajat di 14 provinsi dan 29 kabupaten/kota di Indonesia, yaitu Indonesia Barat (Sumatera), Jawa-Bali, dan Indonesia Tengah-Timur (Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua). Survei ini menggunakan confidence level 95,0 persen dan margin of errors 2,5 persen.

Jarak Sosial. Jika dibandingkan dengan negara kolonial lain yang pernah datang ke Indonesia, Belanda dikategorikan negara kolonial yang kurang disukai. Jepang (33,3%), Inggris (23,7%), dan Prancis (22,9%) adalah tiga negara kolonial yang disukai. Sementara Belanda (9,0%) bersama Spanyol (8,5%), dan Portugis (2,6%) sebagai tiga negara kolonial yang kurang disukai.Meski demikian, generasi Y Indonesiatidak memiliki dendam sosial terhadap Belanda. Hal ini terlihat dari jarak sosial yang terbilang tidak jauh, tapi tidak juga bisa dikatakan dekat, antara generasi ini dengan Belanda. Secara terbuka, dari 50 negara yang paling ingin dikunjungi, Belanda masuk dalam 10 besar.

Jarak Historis. Jarak ini merupakan jarak antara generasi Y Indonesia dengan masa lalu tanah airnya. Temuan survei memperlihatkan generasi ini dekat dengan sejarah bangsanya. Generasiini mengetahui dan meyakini masa lalu negerinya pernah dijajah Belanda. Generasi Y mampu mengidentifikasi dan menolak kolonialisme yang merugikan bangsanya. Sebaliknya, ada apresiasi bagi politik etis yang memberikan ruang bagi pribumi, setidaknya pendidikan pribumi. Lebih dari 57,0 persen responden mengapresiasi politik etis karena dianggap memberikan sedikit ruang bagi pribumi, terutama di sektor edukasi, kendati watak kolonialismenya tetap kental. Meskipun generasi muda ini tidak menyukai kolonialisme Belanda di tanah airnya tetapi mereka tidak memiliki dendam sosial terhadap Belanda. Walaupun demikian, generasi ini mengenal dan dekat dengan masa lalu bangsanya serta memahami sejarah panjang nan kelam dari penjajahan Belanda di Indonesia.

Ingatan Kolektif dan Sejarah. Berdasarkan temuan survei, narasi tentang Belanda sebagai negara kolonial sangat kuat dan dominan. Dari narasi ingatan kolektif sebesar 59,7 persen, ada sekitar 45,2 persen menarasikan Belanda sebagai negara kolonial, 24,9 persen sebagai negara kincir angin, 10,9 persen sebagai negara pemberi beasiswa, dan sisanya sebagai negara sepak bola dan lain-lain. Sementara narasi yang bersumber pada sejarah sejumlah 40,3 persen, terdapat 52,8 persen menyatakan Belanda sebagai negara penjajah, 24,0 persen sebagai negara kincir angin, 8,9 persen sebagai negara pemberi beasiswa, dan selebihnya sebagai negara sepak boladan lain-lain. Narasi ini kian kuat dengan jawaban responden yang membenarkan Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun berbasis ingatan kolektif 52,8 persen dan sejarah 51,8 persen. Narasi dominan lain adalah narasi perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dengan Soekarno sebagai simbolnya. Menurut 60,2 persen narasi ingatan kolektif, sebesar 31,9 persen responden menilai Soekarno sebagai narasi utama perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Kartini berada di bawahnya dengan jarak yang lebar, 12,0 persen. Sedangkan menurut 39,8 persen narasi sejarah formal, Soekarno diletakkan sebagai simbol perlawanan terhadap Belanda sebesar 35,9 persen dan Kartini 12,4 persen.

Persepsi. Secara keseluruhan, narasi kognitif terhadap Belanda didominasi pemaknaan negatif (57,0%), meliputi kolonialisme (48,4%), VOC (7,8%), dan tanam paksa (0,8%). Sedangkan pemaknaan positif hanya sebesar 40,3 persen mencakup kincir angin (24,1%), scholarship (10,4%), dan football (5,8%). Peristiwa-peristiwa semasa penjajahan Belanda, seperti monopoli pengambilan dan perdagangan rempah-rempah (88,2%), adu domba (90,9%), kerja paksa (87,5%), dan pencaplokan Irian Barat (88,0%) tidak disukai dan dianggap sebagai penegasian terhadap ke-Indonesia-an. Kendati begitu, narasi-narasi ini tidak dilandasi dendam terhadap Belanda. Kerja sama kedua negara yang telah terbangun sampai saat ini dihargai sebagai kerja sama dua negara merdeka dan berdaulat. Sejumlah kerja sama dimaksud misalnya di bidang kelautan (76,3%), pendidikan dan kebudayaan (94,0%), pengairan (78,8%), pertahanan keamanan (79,6%), olah raga (77,0%). Walaupun harus diakui, kolonialisme Belanda di masa lalu oleh generasi Y ini tidak terlupakan.

Masa Depan Indonesia-Belanda. Generasi muda terdidik Indonesia cukup terbuka untuk membangun hubungan Indonesia-Belanda yang lebih baik di masa depan. Antusiasme ini diperlihatkan temuan survei sebesar 86,3 persen menyetujuinya. Generasi ini mengapresiasi jika Belanda berani membangun hubungan yang lebih setara. Hal ini ditunjukkan 77,3 persen responden yang mengapresiasi rencana kunjungan balasan Perdana Menteri Belanda ke Indonesia setelah beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo mengunjungi Belanda. Hubungan Indonesia-Belanda ke depan harus dilandaskan hubungan dua negara yang setara, merdeka, dan berdaulat dengan berpijak pada masa lalu. Sejarah masa lalu hubungan Indonesia-Belanda merupakan identitas dan narasi yang tidak bisa diabaikan dalam membangun masa depan yang lebih baik dari kedua negara ini.

Berikut infografisnya, yang dipresentasikan di RijsttaFest.