Avatar senoaji
Posted by senoaji

Datangnya lepas tengah malam. Entah sindrom apa yang bisa menggiringku duduk termangu dipelataran sebuah joglo. Segelas teh tubruk dingin dan sebatang rokok silih berganti memperkosa bibir ini. Seakan-akan paru-paru dan lambung hebat dalam persoalan menenangkan hati yang kalut. Padahal tidak.

Ahh.. seharusnya Joglo ini tempat yang sempurna. Suasananya yang tenang. Dengan sendu suara kodok, jangkrik dan sesekali cicit codot yang girang menyantap buah pepaya masak dan reffren tokek yang bertalu di sela Brunjungan. Seharusnya tinggal seharusnya. Suasana itu kian mendengung dan menghilang. 

Dari tempat ku duduk ku bisa menggauli gemericik lentik warna bintang. Ngibing, bergoyang menari dengan liuk kibas ekor gemuncah mereka, menjadi penghibur dengan ritme riuh kalap bulan. Nanar saja aku melihat mereka. Sepi nan kosong.

Asap rokok dengan seribu racun penenangnya ku lepaskan bebas bergelayut di jejalin syaraf otak. Sempat terlintas di benak ini sebutir Aspirin, cukuplah mengecoh itu semua. Tapi tidak tubuhku belum butuh larutan kimiawi hanya untuk menetralisir kalut ini. Yang ku butuhkan adalah diam, diam lalu diam. Berdialog dengan semilirnya angin malam. Bercengkrama dengan bedebah kegelapan. Dan membagi semua dengan kekalnya setan-setan gadungan.

"Kamu tak ada di rumah, lalu kamu dimana?"

Pesan itu datang dijamuan perhelatan kekalutanku. Selang beberapa menit, perempuan itu muncul dari gerbang depan. Bergegas aku lepas muka musam ku, aku ganti dengan senyum lebar. Harus aku sembunyikan dari dia, pikirku. Tapi tidak aku tak perlu menyembunyikan apapun. Aku tak perlu bertingkah ngawur dengan seakan-akan meniadakan aku sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Karena kedatangannya sekejap saja menyulap kemusamanku.

"helo!"

Sapa perempuan itu sembari menambatkan sepedanya tak jauh dari tempatku duduk. Sekenanya aku tersenyum. sebisa mungkin aku bersembunyi. Dan sebaik-baiknya aku sapa perempuan yang terbalut sweater hijau dan rok panjang putih sebatas tumit. Perempuan itu duduk disebelahku.

Rambut panjang tergerai lurus dia kuncir ekor kuda. Tatapannya jauh ke depan mungkin menerka-nerka apa yang sedang aku lakukan, apa yang sedang aku lihat dan kenapa aku disini.

"hei kau lihat kerlip lampu itu"
"iya, itu lampu rumah penduduk lereng Merapi, kenapa?"
"indah juga ya, mereka kecil tapi ada di tempat dan waktu yang tepat jadi kelihatan menawan, gelap gak menghilangkan mereka bahkan menjadikan gelap lebih harmonis oleh mereka"
"hmmm.."
"Untung langitnya cerah"

Aku melongok ke atas. Memang cerah. Dan bintang menjamur dimana-mana.

Tak butuh waktu lama. Perempuan itu berhasil merubuhkan benteng kalut. Gelegar tawa melukiskan wajahnya di mukaku. Seperti terprogram secara otomatis obrolan kami meluncur begitu saja. Saling timpal saling sanggah dan terkadang cubit perempuan itu mendarat di lengan. Ahh bintang kenapa kamu tak segera menjelma menjadi ledek lagi. Untuk melengkapi riuh forum kecil ini.

"mmm sepedaan yuk"
"kapan?"
"sekarang"
"sekarang?!"
"Yap, saat ini juga, Lagian ini pukul 2 pagi, udara masih segar, kita kayuh susuri selokan Mataram, terus cari jalan menuju perbatasan, dan kayaknya asik juga nikmati kopi di Pasar Tempel.. Gimana? Kamu ikut? Atau jangan-jangan kamu takut?"
"Tidak, aku tidak takut"
"Lalu kenapa?"
"Aku tak membawa LED Lamp"
"aku ada"
"cuman satu.."

Perempuan itu beranjak dari tempat duduknya. Lalu menghampiri sepedanya dan melepas LED Lamp yang terpasang di handle sepeda itu.

"ambil sepedamu"

Ku bergegas lari ke belakang Joglo dan mengambil sepedaku. Ku kayuh menghampiri perempuan yang sudah siap dengan sepedanya.

"neh kamu pasang di sepedamu"
"lalu kamu? jalanan begitu gelap"
"aku ikuti kemana kamu mengayuh sepedamu, karena sekarang kamu yang pegang kendali cahayanya dan hei! jadikan gelap harmonis dengan lampu kecil itu oke!"