Avatar suryaden
Posted by suryaden

Festival Budaya Dieng akan digelar pada 29 - 30 Juni 2013. Event tahunan ini diselengggarakan berawal dari kebutuhan masyarakat. Masyarakat Dieng memiliki budaya tradisi untuk mencukur anak dengan rambut gimbal setahun sekali dengan tanggal yang hanya bisa ditentukan oleh pemangku adat. Pemangku adat setempat berkomunikasi dengan alam Dieng untuk mendapatkan hari yang pas sehingga event besar dan sakral Dieng Culture Festival (DCF) bisa berjalan dengan lancar tanpa adanya nilai-nilai kesakralan yang terbuang.

Persiapan Dieng Culture Festival 2013 sebagaimana biasanya sudah dilakukan terutama untuk prosesi kebudayaan yang kental dengan tradisi-tradisi khas kejawen. A - Z sudah pasti hafal dan tidak akan dilanggar oleh pemangku adat. Persiapan tehnis lainnya di lakukan oleh Komunitas Sadar Wisata Pendowo, Dieng Kulon dan Pemerintah Daerah yang mulai peduli serta ingin acara ini tidak disepelekan.

Festival Budaya Dieng memang bukan sekedar pelaksanaan tradisi budaya. Mengapa demikian, karena bocah-bocah berambut gimbal titisan Kyai Kolodote akan selalu ada selama permohonan Kyai Kolodote tentang kemakmuran belum tercapai. Kita hanya bisa mengetahui hal ini dari bentuk rambut gimbal yang nyata namun apa dibalik itu, hanya anak berambut gimbalah yang memahaminya secara bathiniyah. Mau tidak mau, sadar tidak sadar mereka pasti memiliki komunikasi dengan kyai legendaris yang moksa di Gunung Kendil. Dan tentu berangkat dari hal ini, Dieng Culture Festival adalah bukan hanya sekedar festival, seperti festival seni yang tak memiliki ruh, namun hanya bermotif uang, intrik politik antar seniman dan penghasilan semata. Jelas bukan itu.

Dibalik Dieng Culture Festival adalah fenomena mistis yang luar biasa. Fenomena mistis yang tetap hidup dan berdasarkan lontaran janji Kyai Kolodote, penghuni Dieng pertama, tempat dimana dewa-dewa bersemayam. Bertutup tabir keindahan dan kemolekan alam Dieng yang memiliki Sikunir, Plateau telaga warna dan kawah-kawah sangar yang bisa mengeluarkan asap beracun, alias tidak tahan dihirup oleh paru-paru manusia.

Kejawen pada umumnya dan Dieng termasuk di dalamnya. Fenomena budaya Kejawen dan Budaya Dieng yang fenomenal sulit terpisahkan ketika rambut-rambut anak gimbal kemudian dilarung di kali dan di telaga yang airnya mengarah ke utara untuk dipersembahkan kepada Kanjeng Ratu Lor dan sungai yang mengalir ke selatan via Kali Serayu menuju haribaan Kanjeng Ratu Kidul. Jawa yang arif akan selalu menghormati keberadaan keempat Ratu yaitu Lor, Wetan, Kidul dan Kulon bukan sebagai simbol namun apa adanya seberapa hancurnya kebudayaan dan keyakinan Kejawen oleh dunia luar. Keberadaan empat entitas tersebut akan selalu ada dan dihormati, terkecuali kejawen pinggiran yang tak memiliki akar budaya dan kedalaman.

Fenomena Festival Budaya Dieng salah satunya adalah pembuktian Kejawen tentang keberadaan manusia-manusia yang bisa menuju alam kamoksan dan secara nalar dilakukan usaha-usaha untuk berkomunikasi dengan mereka. Orang-orang tersebut biasanya dikenal dalam bahasa jawa sebagai Priyayi Gung Binatoro, bukan karena pangkat, genetik, atau pensifatan feodalisme, namun karena kemampuan olah kanuragan dan kebatinan yang melebihi rata-rata serta tentu saja memiliki nilai elegan, karena tidak peduli siapa yang mau menghormatinya dan sudah dianggap kepastian meskipun alam sekarang pikiran kemanusiaan sudah dihantui dan bertuhan dengan materi secara ideologis maupun penghayatan.

Sebagaimana nilai-nilai Pancasila yang diyakini didapatkan dari perenungan seorang Soekarno, namun tetap saja dibahas dengan filter intelektual konteks saat ini yang masih saja berkiblat pada sosialisme ataupun kapitalisme. Sebagaimana hal tersebutlah kita memfilter pemikiran kejawen dengan konteks yang ngetop pada saat ini, bahkan Islam pun kadang harus difilter dengan kacamata-kacamata pemikiran, ideologi dan konteks non islam. Begitulah keyakinan oportunis akan memperlakukan pemikiran-pemikiran dan temuan masa silam, sehingga bukan benang merah yang didapatkan, namun benang serabut keruwetan. Ingatkah anda dengan pepatah kebebasan dan oportunis untuk menghalalkan segala cara "seribu jalan menuju Roma".

Fenomena dibalik Dieng Culture Festival, tentu saja memiliki kesamaan dengan banyak yang terjadi di tempat lain. Fenomena-fenomena tentang penghormatan terhadap manusia yang memiliki kemampuan lebih karena pencapaian olah lahir bathinnya maupun penerimaan untuk secara rela melakukan ruwatan untuk membebaskan anak menuju kebaikan yang diyakini, meski terbebas dari kebaikan yang satu menuju kebaikan yang lainnya. Wallahualam.