Permen PPPA Nomor 12 tahun 2019 tentang Pedoman Peran Serta Media Komunitas dalam Pencegahan Kekerasan terhadap Anak

Permen PPPA 12 tahun 2019 tentang Pedoman Media Komunitas dalam Pencegahan Kekerasan terhadap Anak

perempuan harus bisa membela dirinya sendiri (part 2)

Dikirim oleh brendha pada 14 Jun, 2011

lho mbak bre kok judulnya ngembari judulnya kak sur?

Sengaja banget, pool sengajanya. Biar pada ngira tulisan saya agak bermutu sedikit. :))

Eniwe, kenapa sih perempuan mesti bisa membela dirinya sendiri? yaa iyalah, mau emangnya disakiti. Kalo bukan si perempuan ini sendiri siapa dong yang akan membela dirinya. Ga akan bisa perempuan selalu mengandalkan jasa perlindungan dari orang lain even itu orang tua sendiri. bahkan suami pun tidak bisa diandalkan 100% buat menjaga kita nih para perempuan.  Mau nyewa pengacara atau body guard jelas mahal cyiin...

Tapi sebenernya apa sih yang mesti kita bela dari diri perempuan itu? Nggak melulu karena kekerasan dong, meskipun kita ini para perempuan itu disebut kaum yang lemah (katanya). Kalo kata suryaden banyaknya kasus kekerasan kayak pelecehan seksual dan KDRT yang menimpa perempuan, siapa yang disalahkan? Kasian kan kalo sampai kejadian bener sama kita sendiri, adek, kakak, ibu atau teman terdekat kita. *ngetok meja 3x*

Perempuan dianggap menjadi kaum yang lemah mungkin salah satu alasannya karena perempuan banyak menggunakan perasaan dalam kehidupannya.  trus gimana dong mbak bre, biar kita-kita nih bisa membela diri sendiri? Gini ya saya coba nerangin satu-satu :

  1. Membela diri bukan berarti kita mesti bisa pencak silat atau karate yah... yah kalo bisa sih ya syukur, tapi kalo seperti saya yang ga bisa ini. Bukan berarti kita ga bisa jaga diri ya. Supaya kita merasa aman, coba bawa sesuatu yang bisa kita jadikan senjata kalo ada orang yang mau menjahati kita. Misalnya, setruman listrik. Jadi misalnya ada orang yang mau melecehkan kita, setrum aja. :)) itu sekedar contoh, bisa juga dengan lipstik. Jadi kalo ada yang mau jahatin kita, colok aja matanya pake lipstik. Intinya sih sebenernya bukan masalah kita punya atau tidak alat buat membela diri, tapi lebih berhati-hatilah perempuan, dimanapun dan kemanapun. Waspada alias jangan mudah percaya dengan orang.
  2. Perempuan mesti bisa berpikir logis, jangan mudah terlena dengan kata-kata manis. Apalagi gombalan-gombalan seperti : "kamu sakit ya?| kenapa?|Karena kamu baru aja jatuh dari surga|" Atau rayuan-rayuan gombal lainnya yang akhirnya berujung pada kosongnya dompet kita akibat cowok matre. Jangan mudah percaya,
  3. Be smart. Dan supaya bisa smart, artinya mau belajar. mau nanya. mau mencoba. Saya masih dalam proses itu buat bisa smart. Saya masih yakin kalo cewek smart ga akan lebih mudah dibodoh-bodohin orang lain. Orang juga akan mikir 50 kali lagi buat nipu cewek pinter. Kalopun sampe tertipu, artinya dia kurang smart. *halah* :)) mbak bre masih sering ditipu ya?? kan belom smart... *dezigh*
  4. Jangan diam saat kita sedang disakiti. jangan pasrah apalagi menganggap ya sudah wong udah terjadi. Bicaralah. teriakkan kesakitan kita. laporkan polisi kalau perlu. Meskipun itu aib pun, kita punya hak buat membela diri kita sendiri. Perjuangkan apa yang menjadi hak kita, tunjukkan bahwa perempuan bukan kaum yang mudah terintimidasi. 
  5. Kuatkan hati. hati itu ga lemah ya ibu-ibu..tapi awalnya Tegar dan tabah itu dari hati.  Dan of course dong doa. Doa itu awal nya, saya percaya banget semakin dekat kita dengan Tuhan maka otomatis Tuhan akan selalu melindungi kita. Ga percaya?? buktikan sendiri.  :))

Oooo gitu ya mbak bre, trus??

Sekian aja deh, capcay bo'... segitu aja mikirnya setengah mati saya.  Next time kita sambung lagi obrolan penting ga pentingnya. dyadaahhhh... *melambaikan tangan dengan jumawa*

perempuan harus bisa membela dirinya sendiri

Dikirim oleh suryaden pada 18 Mei, 2011

Terdapat banyak sekali laporan maupun peristiwa yang selalu saja tidak berpihak pada perempuan. Satu contoh saja ketika Bos IMF melakukan pelecehan seksual di sebuah hotel beberapa saat yang lalu, bos itu bernama Dominique Strauss-Kahn yang juga kandidat Presiden Perancis untuk pemilu yang akan datang. Anand Khrisna pun didakwa melakukan pelecehan seksual. Ada banyak pendapat tentang menggunakan jasa perempuan untuk menjatuhkan posisi seseorang yang menjadi publik figur, dan itu buta, karena bagaimanapun perempuan juga yang menjadi korbannya.

Sudah menjadi korban masih ditambah dengan prasangka-prasangka yang lain, jelas yang melakukan kekerasan itu lawan jenisnya masih banyak yang mencoba untuk berlindung pada praduga tak bersalah, namanya juga praduga, namun hal itu bisa jadi bom yang menyesakkan dada dan membuka pintu bagi pelaku kejahatan seksual untuk membela diri ditambah dengan citra baik yang dibangunnya meskipun itu penipuan publik dan akhirnya uang pun berbicara untuk menutupi dan menyelesaikan masalah tersebut dan lagi-lagi juga mengorbankan perempuan.

Ini adalah hal yang pelik, namun jika melihat pada ranah martabat, meskipun itu tidak bisa menjadi alasan, perebutan martabat akan mengorbankan apapun asal citra yang dibangunnya kokoh untuk mencapai hal-hal tertentu. Serta lebih celaka lagi ketika terjadi pada ranah KDRT atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga, sebongkah tembok besar menjadi penghalang ketika terjadi kekerasan kepada perempuan dalam rumah tangga karena masyarakat ataupun perempuan pun cenderung menyimpan karena tidak merasa bahwa ada masalah besar dibalik hal tersebut.

Meskipun untuk menyudahi kekerasan terhadap perempuan baik dalam ranah rumah tangga hingga masalah politik dimana kekerasan negara terhadap perempuan (KNTP) hanya akan dipandang sebelah mata karena terlalu banyak dan terlalu malu ketika akan mengungkap hal tersebut dimana akan melibatkan unsur dan figur yang banyak sekali, bahkan mungkin akan mengubah sejarah. Perempuan harus dapat menjadi aktor dan leader untuk memecahkan masalah ini, dan melibatkan pihak laki-laki untuk memberikan hal-hal positif jika kekerasan terhadap perempuan bisa dihapuskan.

Banyak sekali ranah permasalahan yang harus diselesaikan, tidak hanya agama, pendidikan maupun politik namun faktor ekonomi, sosial budaya hingga media yang tidak sensitif dalam mencegah terjadinya kekerasan negara atau apapun kepada perempuan, namun kunci adalah pada diri kita sendiri, sudahkah kita menyadari adanya kekerasan terhadap perempuan dan mengajak perempuan untuk bisa membela dirinya sendiri dari berbagai ancaman yang merugikan perempuan, masyarakat bahkan bangsa. Siapa lagi kalu bukan kita?.

Berlangganan kekerasan