Avatar jogloabang
Posted by jogloabang on July 13, 2019
Permenpar 5/2017 tentang Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran

Kementrian Pariwisata menerbitkan Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran. Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran ini dituangkan dalam sebuah Peraturan Menteri. Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran. Peraturan Menteri Pariwisata tentang Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran ditandatangani oleh Menpar Arief Yahya pada tanggal 9 Mei 2017 dan diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 684 pada tanggal 12 Mei 2017 oleh Widodo Ekatjahjana, Dirjen Peraturan Perundang-Undangan Kemenkumham RI di Jakarta.

Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran tercantum dalam Lampiran Permenpar 5/2017 tentang Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran.

Permenpar 5/2017 tentang Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran

Latar Belakang

Pertimbangan yang menjadi latar belakang diterbitkannya regulasi Permenpar 5/2017 tentang Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran adalah:

  1. bahwa industri pertemuan, perjalanan insentif, konvensi, dan pameran merupakan salah satu motor penggerak pengembangan destinasi pariwisata yang penting dan dapat berdampak untuk meningkatkan pendapatan, menambah kesempatan kerja dan masuknya investasi;
  2. bahwa untuk mewujudkan destinasi pertemuan, perjalanan insentif, konvensi dan pameran yang berdaya saing, diperlukan adanya pedoman yang berlaku secara nasional dengan memperhatikan ciri khas atau karakteristik;
  3. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pariwisata tentang Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran;

Dasar Hukum

Landasan yuridis yang menjadi dasar hukum diterbitkannya regulasi Permenpar 5/2017 tentang Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran adalah:

  1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4966);
  2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
  3. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5262);
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2012 tentang Sertifikasi Kompetensi dan Sertifikasi Usaha di Bidang Pariwisata (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5311);
  5. Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2015 tentang Kementerian Pariwisata (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 20);
  6. Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 28 Tahun 2014 tentang Standar Usaha Jasa Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 1109);
  7. Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 6 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pariwisata (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 545);
  8. Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 2 Tahun 2017 tentang Pedoman Tempat Penyelenggaraan Kegiatan (Venue) Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 213);

Isi Kebijakan

Berikut adalah isi regulasi Permenpar 5/2017 tentang Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran:


Pasal 1

Destinasi penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konvensi dan pameran dilaksanakan sesuai dengan pedoman sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.


Pasal 2

Pedoman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 digunakan sebagai acuan bagi pemerintah, pemerintah daerah, biro konvensi dan pameran, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mengembangkan destinasi penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konvensi, dan pameran yang berdaya saing.


Pasal 3

  1. Menteri menetapkan destinasi penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konvensi dan pameran berdasarkan rekomendasi dari Tim Ahli.
  2. Tim Ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri berdasarkan usulan dari Deputi yang membidangi pengembangan destinasi pariwisata.


Pasal 4

  1. Penetapan destinasi penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konvensi dan pameran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dilakukan melalui proses penilaian.
  2. Proses penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan petunjuk teknis yang ditetapkan oleh Deputi yang membidangi pengembangan destinasi pariwisata.


Pasal 5

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 9 Mei 2017

MENTERI PARIWISATA
REPUBLIK INDONESIA,

ttd

ARIEF YAHYA

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 12 Mei 2017

DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ttd

WIDODO EKATJAHJANA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2017 NOMOR 684

Lampiran

Berikut adalah Lampiran Peratuan Menteri Pariwisata Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran


PEDOMAN DESTINASI PENYELENGGARAAN PERTEMUAN,
PERJALANAN INSENTIF, KONVENSI DAN PAMERAN


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konvensi, dan pameran (meeting, incentive, convention, and exhibition) yang dalam hal ini selanjutnya disebut MICE merupakan salah satu industri penggerak bagi pengembangan destinasi pariwisata yang berdaya saing. Industri MICE memberikan dampak dalam meningkatkan pendapatan, memperluas lapangan dan kesempatan kerja serta mendorong masuknya investasi. Di samping manfaat ekonomi, industri MICE juga menyediakan kesempatan untuk berbagi pengetahuan, menambah jaringan kerja (network) dan penggerak utama pengembangan intelektual dan kerjasama regional.

MICE merupakan wisata bisnis yang berbeda dengan wisata leisure yang lebih mengutamakan “quality tourist” yang cenderung tinggal lebih lama dan memiliki pengeluaran harian 7 (tujuh) kali lipat lebih besar daripada wisatawan biasa (leisure). Di era globalisasi sekarang ini, persaingan bisnis MICE telah bergeser dari persaingan antar perusahaan menjadi persaingan antar destinasi.

MICE merupakan kegiatan yang melibatkan berbagai sektor industri seperti sektor transportasi, perjalanan, rekreasi, akomodasi, makanan dan minuman, tempat penyelenggaraan acara, teknologi informasi, perdagangan, keuangan, sehingga MICE dapat digambarkan sebagai industrI multiplier effect yang dapat menggerakkan roda perekonomian pada daerah tujuan wisata atau destinasi. Indonesia adalah negara yang memiliki banyak pilihan destinasi yang potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi MICE yang berdaya saing. Destinasi MICE merupakan aset bagi pembangunan dan pengembangan destinasi pariwisata dimana era globalisasi memberikan dampak bahwa persaingan bisnis MICE telah bergeser dari persaingan antar perusahaan menjadi persaingan antar destinasi. Namun demikian, belum semua daerah dapat memahami tentang destinasi MICE, sehingga setiap destinasi mudah menyatakan daerahnya sebagai destinasi MICE.

Seiring dengan pertumbuhan persaingan tersebut, maka sangat penting bagi destinasi mengenali potensi destinasi masing-masing dengan memahami kriteria dan indikator apa saja yang menjadi pertimbangan pemilihan sebuah destinasi menjadi tempat penyelenggaraan event MICE. Berdasarkan pembagian urusan pemerintahan bidang pariwisata sebagaimana diatur di dalam Lampiran Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, dinyatakan bahwa setiap daerah baik daerah provinsi maupun kabupaten/kota berwenang melakukan pengelolaan destinasi pariwisata. Hal tersebut sejalan dengan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan yang menyebutkan bahwa Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah mengatur dan mengelola urusan kepariwisataan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dengan menempatkan pada tataran pemahaman tersebut, salah satu rencana pembangunan kepariwisataan diterjemahkan dalam kebijakan destinasi MICE yang mampu mewujudkan pembangunan pariwisata nasional yang sesuai dengan karakteristik destinasi setempat, dapat diterima secara sosial, memprioritaskan masyarakat setempat, tidak diskriminatif, dan ramah lingkungan.

Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan ini menyesuaikan dengan indikator hasil penelitian dari peneliti MICE dunia seperti Oppermann (1996), Crouch & Ritchie (1997), Chacko and Fenich (2000), Baloglu and Love (2005) dan mendapatkan pengakuan dari hasil uji publikasi kriteria dan pedoman ke daerah, sehingga diharapkan dapat mensinergikan, memperkuat pengembangan di destinasi MICE Indonesia yang berdaya saing global.

Pedoman Destinasi MICE ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada Pemerintah, Pemerintah Daerah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mewujudkan destinasi yang memenuhi seluruh kriteria dan indikator suatu destinasi MICE yang berdaya saing nasional dan internasional, sehingga Menteri perlu menetapkan Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran.

B. Tujuan

Pedoman Destinasi MICE ini bertujuan untuk mengukur kekuatan Destinasi MICE dalam melakukan evaluasi diri (self evaluation) terhadap potensi destinasi guna mewujudkan MICE yang berdaya saing nasional dan internasional.

C. Pengertian Umum

Dalam pedoman ini yang dimaksud dengan:

  1. Usaha Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) yang selanjutnya disebut MICE adalah pemberian jasa bagi suatu pertemuan sekelompok orang, penyelenggaraan perjalanan bagi karyawan dan mitra usaha sebagai imbalan atas prestasinya, serta penyelenggaraan pameran dalam rangka penyebarluasan informasi dan promosi suatu barang dan jasa yang berskala nasional, regional, dan internasional.
  2. Pertemuan adalah pertemuan dua atau lebih orang yang diselenggarakan untuk maksud mencapai tujuan bersama melalui interaksi verbal, seperti berbagi informasi atau mencapai kesepakatan yang dapat berupa presentasi, seminar, lokakarya, pelatihan, team building maupun event organisasi atau perusahaan lainnya.
  3. Perjalanan Insentif adalah alat manajemen global yang menggunakan pengalaman wisata yang luar biasa untuk memotivasi dan/atau memberikan pengakuan kepada peserta dengan tujuan dapat meningkatkan kinerja dalam mendukung tujuan organisasi atau perusahaan.
  4. Konvensi adalah sebuah pertemuan resmi dalam skala besar yang dihadiri oleh perwakilan atau delegasi (pemerintah, asosiasi, atau industri) untuk melakukan diskusi, pertukaran informasi atau tindakan atas permasalahan khusus yang menjadi perhatian bersama.
  5. Pameran adalah sebuah acara yang terorganisasi dimana obyek ditampilkan kepada publik yang dapat berupa pameran dagang antar bisnis maupun pameran untuk konsumen akhir.
  6. Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan dan nilai yang berupa keanekaagaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan.
  7. Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.
  8. Industri Pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata.
  9. Biro Konvensi dan Pameran adalah lembaga atau biro yang mempunyai tugas untuk memasarkan Indonesia sebagai destinasi MICE yang mempunyai daya saing global.
  10. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintah daerah.
  11. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Kepariwisataan.


BAB II
KRITERIA DAN INDIKATOR DESTINASI MICE

Setiap destinasi untuk menjadi Destinasi MICE sudah seharusnya memenuhi standar yang ditetapkan oleh lembaga berwenang dengan persyaratan- persyaratan tertentu. Pengembangan Destinasi MICE secara garis besar meliputi 4 (empat) bagian, yakni:

  1. aksesibilitas;
  2. atraksi (daya tarik);
  3. amenitas; dan
  4. sumber daya manusia dan dukungan stakeholder.

Pengembangan Destinasi MICE diperjelas melalui kriteria dan indikator. Kriteria merupakan standar yang digunakan untuk menilai kondisi atau situasi lingkungan yang dikaji sebagai ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu. Indikator merupakan alat untuk mengukur realisasi dari standar tersebut.

  1. AKSESIBILITAS MICE
    Aksesibilitas MICE merupakan semua jenis sarana dan prasarana yang mendukung percepatan dan kemudahan jalur masuk dari luar ke suatu destinasi MICE, baik untuk arus orang maupun barang, termasuk pergerakan di dalam wilayah destinasi MICE itu sendiri. Pengembangan aksebilitas MICE merupakan kriteria sarana dan prasarana menuju dan dari destinasi MICE.
  2. ATRAKSI (DAYA TARIK) MICE
    Atraksi MICE merupakan daya tarik yang dapat menarik wisatawan MICE untuk berkunjung ke destinasi MICE atau seberapa besar destinasi mampu menyediakan fasilitas sebagai daya tarik untuk tempat penyelenggaraan kegiatan MICE dengan menghubungkan satu ukuran dengan ukuran lainnya. Pengembangan atraksi MICE mencakup kriteria:
    1. fasilitas pertemuan (meeting);
    2. fasilitas pameran;
    3. fasilitas akomodasi; dan
    4. tempat-tempat menarik.
  3. AMENITAS MICE
    Amenitas MICE merupakan segala fasilitas penunjang yang memberikan kemudahan bagi wisatawan MICE. Pengembangan amenitas MICE mencakup kriteria:
    1. keadaan lingkungan; dan
    2. citra destinasi.
  4. SUMBER DAYA MANUSIA DAN DUKUNGAN STAKEHOLDER MICE
    Sumber Daya Manusia MICE merupakan tenaga kerja yang pekerjaannya terkait secara langsung dan tidak langsung dengan kegiatan MICE. Pengembangan sumber daya manusia dan dukungan stakeholder MICE mencakup kriteria:
    1. profesionalitas sumber daya manusia; dan
    2. dukungan stakeholder.

Lebih lengkap mengenai uraian kriteria dan indikator dapat dilihat sebagai berikut:

  UNSUR DESTINASI   KRITERIA INDIKATOR
1 AKSESIBILITASI MICE   Aksesibilitas MICE merupakan kemudahan jalur masuk dari luar ke suatu destinasi MICE baik untuk arus orang maupun barang. Aksesibilitas bisa ditempuh melalui darat, udara atau laut. Kriteria aksesibilitas memiliki 8 (delapan) indikator yang dapat mendukung kenyamanan arus orang maupun barang, antara lain
  1. Bandara Internasional
    Destinasi memiliki bandara internasional dengan jadwal penerbangan internasional.
  2. Biaya Penerbangan Jumlah uang yang harus disediakan untuk transportasi dan akses menuju destinasi.
  3. Jadwal Penerbangan
    Memiliki jadwal penerbangan internasional dari dan menuju destinasi.
  4. Frekuensi Penerbangan
    Jumlah penerbangan internasional dari dan menuju destinasi dan seberapa sering/frekuensi penerbangan ke tempat atau tujuan destinasi.
  5. Kenyamanan Transit
    Kemudahan atau kenyamanan jadwal tranportasi ke tempat tujuan/destinasi.
  6. Pelayanan Kepabeanan
    Berbagai formalitas peraturan kepabeanan yang diperlukan untuk memasuki destinasi, seperti pajak, bea cukai, serta termasuk pelayanannya.
  7. Pelayanan Imigrasi dan Karantina
    Berbagai formalitas peraturan dalam keimigrasian yang diperlukan untuk memasuki destinasi, seperti visa dan sebagainya termasuk pelayanannya.
  8. Konektifitas Bandara Bandara
    memiliki akses untuk terhubung ke tempat penyelenggaraan kegiatan MICE (venue), fasilitas akomodasi, tempat-tempat menarik di dalam destinasi.
2 ATRAKSI
(DAYA TARIK MICE)
a Fasilitas Pertemuan (Meeting) dan Konferensi

Merupakan fasilitas yang ada di venue di destinasi tersebut yang dapat menampilkan informasi kapasitas, variasi, tata letak, biaya, suasana, keamanan, dan pelayanan.
Kriteria fasilitas meeting mempunyai 6 (enam) indikator yang mendukung keberadaan suatu meeting, baik itu congress, corporation meeting, association meeting, ataupun government meeting, yaitu antara lain:
  1. Variasi Venue
    Venue dalam destinasi tersebut tersedia dalam berbagai pilihan yang dapat dipilih sesuai keinginan pengunjung destinasi (baik venue yang di dalam hotel, venue mandiri (stand - alone venue) maupun venue khusus yang biasanya adalah outdoor venue).
  2. Kapasitas
    Jumlah ruang meeting (pertemuan) yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan meeting parapengunjung. Ruang pertemuan yang tersedia dari berbagai jenis ruang untuk kegiatan MICE (baik venue yang di dalam hotel, venue mandiri maupun venue khusus yang biasanya outdoor venue).
  3. Tata Letak
    Ruang pertemuan memiliki kesesuaian tata letak dan perencanaan ruang.
  4. Suasana
    Ruang pertemuan mampu memberikan suasana serta lingkungan nyaman yang diperlukan selama pertemuan. Kemampuan fasilitas pertemuan untuk menciptakan suasana dan lingkungan yang sesuai.
  5. Pelayanan
    Kepuasan yang didapat oleh peserta pertemuan dalam destinasi dengan mengukur persepsi kompetensi sumber daya manusia dalam destinasi dengan mengukur persepsi terhadap kualitas.
  6. Keamanan
    Perasaan terlindungi selama berada dalam lingkup ruang pertemuan dalam destinasi.
    b Fasilitas Pameran

Merupakan fasilitas yang ada pada venue pameran dengan berbagai jenis, kapasitas, tata letak, suasana, pelayanan dan keamanan dari sebuah tempat pameran.

Kriteria fasilitas pameran memiliki 6 (enam) indikator antara lain:
  1. Variasi Venue Pameran
    Venue pameran dalam destinasi tersebut tersedia dalam berbagai pilihan yang dapat dipilih sesuai keinginan pengunjung destinas (baik venue yang didalam hotel, venue mandiri (stand alone venue)/ exhibition hall).
  2. Kapasitas
    Jumlah ruang pameran atau exhibition hall yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan industri pameran yang akan digelar.
  3. Tata Letak
    Ruang pameran memiliki kesesuaian tata letak dan perencanaan ruang.
  4. Suasana
    Ruang pameran mampu memberikan suasana serta lingkungan nyaman yang diperlukan selama pameran berlangsung. Kemampuan fasilitas pameran untuk menciptakan suasana dan lingkungan yang sesuai.
  5. Pelayanan
    Kepuasan yang didapat oleh peserta pameran dalam destinasi dengan mengukur persepsi kompetensi SDM dalam destinasi serta persepsi terhadap kualitas pelayanan.
  6. Keamanan
    Perasaan terlindungi selama berada dalam lingkup ruang pameran dalam destinasi tersebut. Sampai seberapa jauh fasilitas dapat menyediakan keselamatan dan keamanan di lokasi pameran.
    c Fasilitas Akomodasi

Merupakan fasilitas hotel dan berbagai jenis penginapan yang terdapat pada suatu destinasi.

Kriteria fasilitas akomodasi mempunyai 5 (lima) indikator yang dapat mendukung pada destinasi MICE, antara lain:
  1. Variasi Jenis Akomodasi
    Akomodasi dalam destinasi tersebut tersedia dalam berbagai pilihan yang dapat dipilih sesuai keinginan pengunjung destinasi, seperti jenis akomodasi mulai dari hotel bintang lima, non bintang sampai dengan homestay.
  2. Kapasitas
    Jumlah kamar yang tersedia dari berbagai jenis hotel berbintang maupun non bintang.
  3. Harga
    Jumlah uang yang dikeluarkan untuk membiayai akomodasi yang dipilih oleh pengunjung di destinasi.
  4. Kualitas Pelayanan
    Kepuasan yang didapat oleh pengunjung destinasi dengan mengukur persepsi terhadap kualitas pelayanan.
  5. Keamanan
    Perasaan aman dan terlindungi selama berada dalam lingkup akomodasi dalam destinasi tersebut.
    d Tempat-Tempat Menarik

Tempat-tempat menarik yang bisa menjadi daya tarik bagi pengunjung (seperti tersedianya gedung dengan arsitektur unik, museum, monumen, atraksi wisata, taman kota, taman bertema, tempat bersejarah, tur lokal, dan lain-lain).

Indikator tempat-tempat menarik adalah sebagai berikut namun tidak terbatas pada:
  1. Pusat Perbelanjaan
    Keberadaan pusat perbelanjaan yang aman dan nyaman di dalam destinasi dengan harga yang terjangkau seluruh kalangan pengunjung destinasi (seperti tersedianya shopping mall, departement store utama).
  2. Restoran
    Destinasi memiliki berbagai restaurant dengan cita rasa kuliner yang diterima oleh pengunjung, serta tersedianya restoran lokal dan internasional dengan variasi menu, dan harga.
  3. Tempat Hiburan
    Destinasi menyediakan berbagai tempat hiburan, contohnya seperti bar, theatre, klub malam, restoran, dan lain-lain.
  4. Daya Tarik Wisata Alam, Budaya, dan Buatan Manusia
    Destinasi tersebut memiliki tempat-tempat indah, unik dan menarik yang dapat menjadi daya tarik pengunjung, contohnya seperti pemandangan alam, ragam budaya, adat istiadat, dan lain-lain.
  5. Rekreasi
    Destinasi menyediakan tempat untuk melakukan aktivitas rekreasi, olahraga, maupun taman hiburan, serta peserta dapat ikut terlibat dalam kegiatan tersebut maupun hanya sebagai penonton.
  6. Peluang Bisnis
    Keberadaan industri unggulan dan kesempatan menjalin hubungan bisnis, contohnya seperti dengan mengunjungi dan melakukan pertemuan dengan client lokal, negosiasi, business deals, penjualan, dan lain sebagainya.
3 AMENITAS MICE a Keadaan Lingkungan
Merupakan kriteria yang menyangkut informasi terkait dimensi Iklim, situasi alam dan lingkungan yang menarik, infrastruktur dan keramahtamahan penduduknya
Kriteria keadaan lingkungan suatu destinasi MICE memiliki 12 (dua belas) indikator antara lain:
  1. Infrastruktur
    Destinasi memiliki infrastruktur lokal yang sesuai dengan standar yang telah ditentukan.
  2. Kepolisian
    Penyebaran kantor dan kualitas pelayanan. Keberadaan kepolisian dalam destinasi tersebut serta yang siap mendukung keamanan dan perijinan suatu event.
  3. Pusat Informasi Pariwisata (Tourist Information Center)
    Destinasi memiliki usaha penyediaan informasi mengenai kepariwisataan suatu destinasi dalam bentuk bahan cetak, maupun elektronik.
  4. Rumah Sakit
    Destinasi memiliki fasilitas rumah sakit, baik rumah sakit umum daerah maupun rumah sakit internasional dengan lokasi yang mudah dijangkau dari seluruh area destinasi serta yang siap mendukung keberadaan suatu event.
  5. Money Changer
    Destinasi dilengkapi dengan tempat penukaran mata uang dengan lokasi yang mudah dijangkau.
  6. Perbankan
    Destinasi memiliki layanan dan lembaga perbankan untuk memfasilitasi kebutuhan finansial pengunjung.
  7. Sistem Informasi
    Destinasi memiliki sistem informasi dalam penyelenggaraan kegiatan MICE.
    Merupakan kombinasi dari teknologi informasi dan aktivitas orang yang menggunakan teknologi untuk mendukung operasi dan manajemen. Sistem Informasi yang sering digunakan merujuk kepada interaksi antara orang, proses algoritmik, data, dan teknologi.
  8. Layanan Pengiriman Barang
    Destinasi dilengkapi dengan lembaga yang melayani kebutuhan pengiriman barang secara lokal maupun internasional.
  9. Transportasi
    Destinasi dilengkapi dengan fasilitas transportasi umum yang tersedia di setiap area serta mempunyai kesesuaian dan standar yang sesuai kebutuhan.
  10. Keramahtamahan Masyarakat Umum
    Masyarakat lokal dalam destinasi memiliki sikap terbuka dan sigap membantu terhadap pengunjung.
  11. Kebudayaan Lokal
    Destinasi memiliki kebudayaan lokal yang khas yang bisa menjadi keunikan tersendiri untuk destinasi.
  12. Standar Harga
    Konversi nilai barang dan jasa yang harus dikeluarkan selama berada di destinasi.
    b Citra Destinasi
Merupakan informasi terkait reputasi destinasi serta usaha pemasaran destinasi yang dilakukan.
Kriteria citra destinasi MICE memiliki 8 (delapan) indikator antara lain:
  1. Keamanan
    Destinasi memiliki citra aman di mata dunia internasional terkait dengan tindak kriminal dan perilaku bom teroris, khususnya bagi delegasi saat di destinasi pada penyelenggaraan suatu event.
  2. Pengalaman Destinasi
    Destinasi pernah menyelenggarakan kegiatan MICE tingkat internasional dengan kinerja yang memuaskan.
  3. Reputasi
    Reputasi destinasi di mata asosiasi nasional, para meeting planner, serta asosiasi internasional sebagai tempat penyelenggaraan MICE internasional.
  4. Kondisi Sosial Politik
    Destinasi memiliki kestabilan sosial politik sehingga bisa menjamin kenyamanan pengunjung destinasi.
  5. Kondisi Ekonomi
    Destinasi memiliki kestabilan ekonomi yang mendukung keberlangsungan kegiatan yang diselenggarakan dalam destinasi.
  6. Kebersihan
    Destinasi memenuhi standar kebersihan internasional dan mampu memberikan kenyamanan serta tidak mengganggu kesehatan pengunjung.
  7. Resiko
    Destinasi memiliki manajemen resiko yang memenuhi standar dunia internasional sehingga mampu meminimalisir resiko yang akan terjadi, contohnya seperti kemungkinan adanya pemogokan, bencana alam, boikot, dan kejadian lainnya.
  8. Pemasaran
    Destinasi Destinasi memiliki program pemasaran yang efektif untuk memasarkan destinasi.
4 SUMBER DAYA MANUSIA DAN DUKUNGAN STAKE HOLDER a Profesionalitas Sumber Daya Manusia (SDM) MICE
Destinasi memiliki SDM MICE yang memiliki nilai kompetitif dan memperoleh pengakuan kompetensi nasional serta internasional. Kesiapan terlihat dari keberadaan PCO, PEO, DMC, EO, dan pendukung lainnya seperti lembaga pendidikan bidang MICE.
Kriteria profesionalitas sumber daya manusia (SDM) MICE memiliki 16 (enam belas) indikator antara lain:
  1. PCO (Professional Congress/ Conference/ Convention Organizer)
    Destinasi memiliki PCO yang merupakan jasa penyelenggara konvensi, perjalanan insentif dan pameran yang merupakan usaha dengan kegiatan pokok memberi jasa pelayanan bagi suatu pertemuan kelompok orang/negarawan, usahawan, cendikiawan dan sebagainya untuk membahas masalah- masalah yang berkaitan dengan kepentingan bersama.
    Destinasi memiliki tenaga profesional khusus dan tersertifikasi di bidang penyelenggaraan konvensi dan kongres yang berpengalaman, baik skala lokal, nasional maupun internasional.
  2. PEO (Professional Exhibition Organizer)
    Destinasi memiliki PEO yang merupakan suatu badan hukum atau perorangan/sekelompok orang yang tugasnya merencanakan, mempersiapkan dan melaksanakan penyelenggaraan suatu pameran secara profesional.
    Destinasi memiliki tenaga profesional khusus dan tersertifikasi di bidang penyelenggaraan pameran yang berpengalaman dalam skala lokal, nasional maupun internasional.
  3. DMC (Destination Management Company)
    Destinasi memiliki DMC yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa yang mengetahui secara mendalam suatu destinasi sehingga menjadi sumber informasi bagi calon pengguna destinasi tersebut.
    Destinasi dilengkapi dengan perusahaan jasa profesional khusus dalam design dan pelaksanaan event, tour, transport dan logistik yang telah terlisensi.
  4. EO (Event Organizer)
    Destinasi dilengkapi dengan perusahaan jasa profesional khusus pelaksanaan event yang telah terlisensi.
  5. Usaha Perjalanan Wisata
    Destinasi dilengkapi dengan perusahaan jasa profesional khusus pelaksanaan kegiatan tour yang telah terlisensi seperti Biro Perjalanan Wisata dan Agen Perjalanan Wisata (travel agent).
  6. Penyedia Transportasi
    Destinasi memliki usaha jasa transportasi darat, transportasi laut, transportasi udara dalam berbagai jenis yang dibutuhkan untuk kegiatan MICE.
  7. Jasa Logistik (Freight Forwarder)
    Freight Forwarder atau Shipping Agent/Carrier pameran merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang keagenan yang mengurus semua kegiatan yang diperlukan bagi terlaksanaya pengiriman dan penerimaan barang-barang pameran melalui transportasi darat, laut dan udara yang dapat mencakup kegiatan penerimaan, penyimpanan, sortasi, pengepakan, pengukuran, penimbangan, pengurusan penyelesaian dokumen, penerbitan, dokumen angkutan, perhitungan biaya, angkutan, klaim asuransi atas pengiriman barang serta penyelesaian tagihan dan biaya-biaya lainnya berkenaan dengan pengiriman barang-barang tersebut sampai dengan diterimanya oleh yang berhak menerima.
    Destinasi dilengkapi dengan perusahaan jasa profesional pengiriman yang dapat menunjang kegiatan MICE yang telah terlisensi.
  8. Perusahaan Pemasok (Vendor) yang terkait MICE
    Destinasi memiliki vendor atau supplier yaitu lembaga, perorangan atau pihak ketiga yang menyediakan bahan, jasa, produk untuk diolah atau dijual kembali atau dibutuhkan oleh perusahaan untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
    Vendor yang dibutuhkan dalam kegiatan MICE antara lain vendor untuk event production dan equipment.
    Contoh lainnya seperti kontraktor terkait MICE yang siap mendukung keberadaan suatu event.
    Terdapat perusahaan- perusahaan kontraktor terkait MICE yang bekerjasama dengan PCO/PEO/EO dalam penyelenggaraan suatu kegiatan.
  9. Pemandu Wisata
    Destinasi memiliki pemandu wisata profesional dan berpengalaman di bidangnya sehingga dapat memberikan pengetahuan baru yang menarik serta mampu bersikap persuasif kepada pengunjung untuk revisit.
  10. Jasa Percetakan
    Destinasi dilengkapi dengan berbagai macam jasa percetakan yang mendukung pelaksanaan kegiatan yang diselenggarakan dalam destinasi
  11. Jasa Boga
    Destinasi memiliki Jasa Boga yang merupakan usaha penyediaan makanan dan minuman yang dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan untuk proses pembuatan, penyimpanan dan penyajian, untuk disajikan di lokasi yang diinginkan oleh pemesan.
    Tenaga profesional dalam bidang boga yang akan mendukung setiap penyelenggaraan kegiatan dalam destinasi.
  12. Jasa Kontraktor Pameran
    Destinasi memiliki Stand Contractor, yaitu sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penyedia jasa membuat desain dan menyewakan booth interior, display booth dan kontraktor membuat stand booth pameran.
  13. Sanggar Seni Budaya dan Hiburan Lainnya
    Destinasi memiliki tenaga profesional dalam bidang seni budaya yang mampu memberikan citra positif terhadap budaya dalam destinasi.
  14. Jasa Otoritas Bandara
    Kerjasama jasa otoritas bandara mengenai permintaan khusus.
  15. Lembaga Pendidikan Terkait MICE
    Destinasi mempunyai lembaga pendidikan yang mampu mencetak lulusan yang memahami MICE sehingga menjadi aset yang penting di masa depan.
  16. Maskapai Penerbangan
    Destinasi memiliki maskapai penerbangan yang melayani seluruh kebutuhan transportasi udara setiap pengunjung.
    b Dukungan Stakeholder

Merupakan dukungan dari berbagai pihak antara lain pemerintah daerah, lembaga pemasar destinasi, dan asosiasi profesi atau industri tertentu yang dapat dijadikan duta destinasi MICE (ambassador) bagi destinasi tersebut.

Kriteria dukungan stakeholder lokal memiliki 3 (tiga) indikator yang dapat membantu terciptanya sebuah destinasi MICE antara lain:
  1. Asosiasi Profesi dan Industri
    Peranan organisasi dan asosiasi lokal yang berafiliasi ke organisasi atau asosiasi internasional sebagai duta destinasi. Besarnya bantuan dan dukungan yang ditawarkan organisasi dan asosiasi lokal.
  2. Destination Marketing Organization (DMO)
    Peranan Destination Marketing Organization seperti Biro Konvensi dan Pameran (Convention & Exhibition Burreau), Tourism Board atau sejenisnya dalam menjalankan fungsi pemasaran destinasi. Dukungan diberikan oleh Biro Konvensi dan Pameran pada saat perencanaan, logistik dan promosi.
  3. Pemerintah Daerah
    Dukungan pemerintah daerah dalam memberikan dukungan, misalnya memberikan insentif atau subsidi lain yang menjadi daya tarik bagi pengunjung destinasi. Seberapa besar destinasi (pemerintah) menawarkan potongan harga dan subsidi lain.


BAB III
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pemerintah dan Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan dan pengawasan dalam rangka penerapan Pedoman Destinasi MICE sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota melakukan pembinaan dalam rangka penerapan Pedoman Destinasi MICE sesuai dengan kewenangan masing- masing yang dapat mencakup sosialisasi, advokasi, dan bimbingan teknis penerapan Pedoman Destinasi MICE.

Menteri melakukan pengawasan penerapan dan pemenuhan Pedoman Destinasi melalui evaluasi penerapan Pedoman Destinasi MICE. Gubernur, Bupati/Walikota melakukan pengawasan penerapan dan pemenuhan Pedoman Destinasi MICE sesuai dengan kewenangan masing-masing melalui evaluasi laporan kegiatan penerapan Pedoman Destinasi MICE di wilayah kerja masing-masing.


BAB IV
KETENTUAN PENUTUP

Pedoman Destinasi MICE ini merupakan acuan bagi Pemerintah, Pemerintah Daerah, Biro Konvensi dan Pameran, Pelaku Usaha, dan Masyarakat dalam mewujudkan destinasi yang memenuhi seluruh kriteria destinasi MICE sehingga memiliki daya saing nasional dan internasional.

Demikianlah Permenpar 5/2017 tentang Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran semoga bermanfaat untuk dibaca dan diketahui.

Permenpar 5/2017 tentang Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran