Posted by Budhi Hermanto on February 16, 2018
Pesona Kepulauan Anambas, Surga di Asia Pasific

Impresionante! (istilah Spanyol.Red), kata yang tepat untuk menunjukan kekaguman pada Kepulauan Anambas, sebuah wilayah kepulauan di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau. Deretan laguna berwarna biru terang dengan koral dan biota laut yang melimpah menjadi pemandangan yang menakjubkan, membentang dari pulau Tukong Malang Biru hingga ke Pulau Tokong Berlayar. Pesona lain yang tak kalah indahnya adalah deretan bebatuan putih di beberapa pulau, serta hamparan pasir putih yang menawan, membuat Kepulauan Anambas sebagai Kepulauan tropis yang sangat memesona.

Total pulau di Kabupaten Kepulauan Anambas yang indah itu mencapai 255 buah pulau, sekitar 26 pulau dihuni oleh penduduk dari berbagai suku baik Melayu, Cina, Padang, dan Suku Jawa yang mendiami daerah transmigrasi. Sementara 229 pulau lainnya tidak berpenghuni. Wisata Anambas pastinya adalah Destinasi keren Wisata Indonesia.

Pesona Kepulauan Anambas : Surga di Asia Pasific

Kota Tarempa

Saat kapal hendak bersandar di Pelabuhan Tarempa, Ibukota Kepulauan Anambas, kita kan saksikan pemandangan menarik berupa warna warni pemukiman penduduk yang berhimpitan dari arah pantai hingga ke arah bukit. Panorama ini sepintas seperti di Riviera Perancis pesisir laut Mediterania. Mungkin berlebihan, tetapi itulah kesan saya untuk pertama kalinya melihat Kota Tarempa dari kejauhan. Tampak pula bangunan Vihara dengan warna merah mencolok, serta menara Masjid yang megah di tengah pemukiman penduduk. “Sepertinya kota kecil ini penuh toleransi, damai, dan menyejukkan” gumanku dalam hati.

Waktu menunjukan pukul 16;35 WIB saat kapal Ferry yang saya naiki dari Tanjung Pinang berlabuh di Pelabuhan Tarempa. Sejumlah kapal kayu dan speedboat terlihat berjejer rapih di ujung pelabuhan, dekat dengan kawasan pertokoan yang dindingnya terbuat dari kayu. Pertokoan di dekat dermaga ini juga berdiri di atas air laut, tepatnya di tepian laut teluk kota Terempa.

Jalanan di Kota Tarempa relatif kecil, biarpun bisa untuk jalur mobil tetapi di Tarempa jarang ada mobil. Sepeda motor adalah kendaraan yang paling banyak disini. Bangunan-bangunan tua bercorak China berjejer sepanjang jalan. Sepertinya kawasan Kota Tarempa ini adalah Chinatown karena mirip dengan kompleks Chinatown di Pinang, Malaysia.

Saya menginap di hotel kecil yang cukup bersih di Jln. Hang Tuah, Kota Tarempa. Lokasi hotel ini tak jauh dari pelabuhan, cukup jalan kaki sekitar 5 (lima) menit kita sampai di hotel yang dibangun diatas ruko. Di depan hotel ada kedai kopi tradisonal dengan pemandangan laut di pelabuhan Tarempa.

Surga di Asia Pasific

Berkunjung ke Kepualauan Anambas, kita bisa menggunakan jalur laut maupun udara. Saat ini telah ada 2 (dua) bandara di Kabupaten termuda Provinsi Kepulauan Riau itu. Satu bandara di Pulau Matak yang merupakan bandara khusus milik perusahaan Medco Energy, tetapi pesawat regular yang melayani route Tanjung Pinang-Palmatak hanya setiap hari sabtu dan senin. Harga tiket pesawat Tanjung Pinang – Palmatak sekitar Rp 1.250.000, untuk sekali jalan. Sedangkan bandara yang lain  adalah bandara yang baru dibangun oleh Pemerintah Pusat di Pulau Jemaja. Bandara di Pulau Jemaja ini telah disinggahi pesawat kecil yang melayani route Tanjung Pinang – Jemaja seminggu sekali. Harga tiket pesawat kecil ini hanyalah Rp 377.000 untuk sekali jalan. Tetapi karena kapasitas penumpang hanya 12 orang, maka bila tak memesan tiket jauh hari, akan kesulitan mendapatkan tiket pesawat dari Tanjung Pinang ke Jemaja itu.

Sementara menggunakan jalur laut, setiap hari ada kapal ferry dari Tanjung Pinang dan Batam menuju Anambas dengan waktu tempuh sekitar 7-8 jam. Harga tiket kapal ferry kelas VIP Rp 520.000 untuk sekali jalan. Ada juga kapal milik PT. Pelni yaitu KM Bukit Raya yang melayani jalur laut dari Tanjung Pinang ke Anambas setiap 15 (lima belas) hari sekali dengan waktu tempuh sekitar 16 (enam belas) jam.

Sehari setelah menikmati kota Tarempa, saya pindah ke Pulau Piugus untuk menginap di sebuah resort disana. Letaknya disebelah barat Pulau Siantan / Kota Tarempa. Saya naik kapal speedboat dengan biaya Rp 50.000 / orang. Resort yang saya tempati di Pulau Piugus sangat bagus, menghadap ke laut dangkal yang bening dan indah. Harga menginap di resort ini Rp 500.000/malam. Harga yang layak dengan keindahan dan sensasi yang didapat. Sore hari, kita bisa menikmati sunset dari beranda resort atau dermaga kecil di depan resort. Indah sekali.

Di depan Piugus, ada pulau Belibak sebagai perkampungan penduduk dengan hanya 40 KK (kepala keluarga), di sana tidak ada lokasi wisata pantai pasir putih yang panjang, tetapi penduduk Desa Belibak sangat ramah. Saya sengaja berkunjung ke Belibak untuk mengenal kehidupan masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan.

Marzuki (48), Kepala Desa Belibak menemani saya jalan-jalan keliling desa, bertemu dengan warga desa yang berbahasa khas Melayu (mirip Bahasa Malaysia). Saya dijamu minum kelapa muda yang baru dipetik dan aneka kue tradisoninal yang sangat enak. Semua itu saya nikmati secara gratis, mereka menolak pemberian uang dari saya sebagai pengganti kelapa muda dan kue tradisional yang disajikan secara mendadak pada saya selaku tamu yang berkunjung ke Belibak. Sungguh, perjamuan sederhana yang sangat mengesankan dan indah.

Ditemani Iyan, anak muda dari Palmatak, saya keliling ke beberapa pulau di sekitar Piugus menggunakan perahu kayu dengan harga sewa cuma Rp 150.000 selama setengah hari. Pulau Nongkat adalah salah satu pulau yang indah di Kepulauan Anambas dengan pantai pasir putih dan tumpukan bebatuan di tepian pulau. Airnya bening sekali, hamparan airnya menyemburatkan warna biru tua dan hijau terang dengan dasar laut yang bersih serta hamparan terumbu karang yang indah. Di Nongkat, kita cukup snorkeling dan berenang, karena lautnya dangkal dan bersih.

Penduduk sekitar Palmatak, sering berkunjung ke Pulau Nongkat saat liburan. Bermain pasir dan berenang sepuasnya di laut yang bening, bersih dan dangkal. Hampir semua sudut di perairan ini menawarkan pesona pemandangan laut yang indah.

Tak jauh dari Pulau Nongkat, ada Pulau Menyali, Pulau Mangkian, Pulau Mandar Riau Darat dan Pulau Mandar Riau Laut dengan hamparan pasir putih serta lambaian pohon nyiur yang diterpa angin. Pulau-pulau itu tidak berpenghuni tetapi sepertinya sengaja ditanami pohon kelapa dengan rapi. Dari sini, kita bisa menyaksikan momen indah saat matahari kembali ke peraduan dengan semburat warna jingga keemasan diujung laut.

Di utara Pulau Menyali, ada Pulau Penjalin yang berbatasan dengan laut Cina Selatan. Di Pulau Penjalin akan kita temui teluk kecil yang melengkung bak bulan sabit dengan hamparan pasir putih. Pulau ini memiliki pasir putih yang panjangnya sekitar 2 kilometer dengan bentangan pasir putih 50 meter. Laut disekelilingnya bening dengan gugusan terumbu karang yang indah. Kita bisa menyusuri pantai hingga ke sisi ujung pantai, sambil menikmati semilir angin. Bagi penggemar diving, anda bisa menikmati pemandangan bawah laut yang elok dengan aneka terumbu karang seperti Acropora, Lobophylia, Pocillopora, Porites dengan corak dan warna yang beragam seperti karang meja, karang bercabang, dan karang otak.

Kecantikan ragam pulau di Anambas ini sungguh tak terperi, sulit untuk mengungakapkanya dalam kata-kata. Bahkan ada yang menyebutkan, keindahan pantai dan laut di Kepulauan Anambas itu mengalahkan Maldives, sehingga CNN (Cable News Network) sebuah saluran berita kabel dari Amerika Serikat   menobatkan Anambas sebagai kepulauan tropis terindah di Asia pada tahun 2013 lalu.

Pantai Terpanjang di Indonesia

Menurut catatan yang pernah saya baca, pantai terpanjang selama ini ada di Bengkulu dengan garis pantai sepanjang 7 kilometer. Akan tetapi, bila kita berkunjung ke Pulau Jemaja, Kepuluan Anambas, kita akan mendapati pantai yang total panjang garis pantainya sepanjang 8 kilometer dengan pasir yang putih dan berbulir halus. Pantai itu bernama Pantai Padang Melang, terletak di pulau Jemaja, sekitar 123 Km dari Kota Tarempa, Ibu kota Kepulauan Anambas. Saya kira, inilah pantai terpanjang yang dimiliki Indonesia !.

Saya berkunjung ke Pulau Jemaja menggunakan kapal ferry dari pelabuhan Tarempa, turun di pelabuhan Letung, Pulau Jemaja. Waktu tempuh dari Tarempa ke Letung sekitar 2 jam.  Dari Letung (Ibu kota Kecamatan Jemaja), saya menyewa sepeda motor dengan harga Rp 75.000/hari untuk keliling Pulau Jemaja, termasuk ke pantai Padang Melang.

Di Padang Melang telah terdapat homestay yang sangat layak dengan ketersediaan air bersih yang berlimpah dan kondisi pantai yang bersih.  Satu-satunya kekurangan di pantai padang Melang adalah akses terhadap sinyal handphone dan internet. Sehingga jika sedang di pantai Padang Melang kita tidak dapat menerima telpon atau akses internet. Penduduk setempat memberitahu saya ada titik lokasi yang bisa dapat sinyal handphone , terletak di ujung pantai naik sedikit ke atas bukit. Agak merepotkan memang.

sunrise di kepulauan anambas

Sunrise di Kepulauan Anambas

Air Terjun Temburun di Kepulauan Anambas

Air Terjun Temburun di Kepulauan Anambas

Indahnya Anambas

Resort di Kepulauan Anambas, Nampak Atas

Permainan Gasing, Permainan Rakyat Kepulauan Anambas

Bermain Gasing di Anambas

Kura-Kura, atau Penyu di Anambas

Tukik dan Pasir di Kepulauan Anambas

Komunitas Seni di Festival Anambas

Komunitas Seni di Kepulauan Anambas


Selam di Kepulauan Anambas

Diving, Kepulauan Anambas tak hanya indah dari Atas

Karang Hijau Kepulauan Anambas

Karang Hijau Kepulauan Anambas

Anak Pantai, Selalu Ceria di Anambas

Anak Pantai, Selalu Ceria di Anambas

Jauh dari Hiruk Pikuk dan Kepenatan

Nikmati Gayamu di Anambas

Tapi lupakanlah soal sinyal handphone itu. Keindahan pantai terpanjang di Indonesia ini layak untuk dinikmati. Pantai Padang Melang lautnya jernih dengan pasir putih yang halus, lagi dangkal. Gelombang lautnya tenang, sehingga sangat aman untuk tempat bermain anak-anak atau yang tidak bisa berenang. Di tepi pantai terdapat berbagai gazebo di sela pohon-pohon kelapa yang berjajar rapi sepanjang garis pantai. Juga berbagai kedai makanan yang dikelola penduduk setempat.

Bagi yang senang bermain kano, di pantai Padang Melang tersedia fasilitas sewa kano yang dikelola oleh Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) setempat dengan biaya Rp 20.000 sepuasnya bermain. Enak bukan?. Selain itu, pemerintah juga telah membangun fasilitas pemandian umum yang memadai, untuk tempat pengunjung berbilas air setelah mandi di laut. Sungguh, pantai Padang Melang adalah destinasi wisata yang layak anda kunjungi.

Saya membayangkan kelak di Padang Melang akan ada lomba volley pantai, seperti di Pantai Copacabana, Rio de Janeiro, Brazil. Karena dengan pantai sepanjang itu, plus pasir putih yang halus, Pantai Padang melang layak menjadi lokasi ajang perlombaan volley pantai berkelas internasional.

Wisata Sejarah dan Budaya

Apabila sedang di Pulau Jemaja, luangkan waktu yang cukup dan menginap di Pulau Jemaja, baik tinggal di hotel atau homestay/rumah penduduk yang tersedia di sana. Ada banyak tempat indah yang layak dikunjungi. Salah satunya adalah Pulau Kuku, sebuah pulau yang pernah menjadi tempat pengungsian orang-orang Vietnam ketika mereka dilanda perang Vietnam yang terjadi pada tahun 1957-1975 antara Vietnam dengan Amerika Serikat.

Di Pulau Kuku masih terdapat makam para pengungsi Vietnam, bekas helipad, dan bangkai kapal pengungsi Vietnam yang masih teronggok di bibir pantai. Para eks pengungsi Vietnam yang masih hidup atau keturunannya hampir setiap tahun berkunjung ke Pulau Kuku berziarah ke makam kerabat dan lelulur mereka yang dimakamkan di Pulau Kuku. Menurut Rozi (36) seorang tukang ojek di Letung, ia mengatakan bahwa masih banyak penduduk Jemaja yang bisa berbahasa Vietnam karena mereka dulu menemani para pengungsi Vietnam. Bahkan menurut Rozi, orang-orang Vietnam yang berkunjung ke Pulau Kuku menyebutkan dirinya “kembali ke kampung halaman”, karena begitu kuatnya hubungan emosional antara para eks pengungsi Vietnam atau keturunannya dengan Pulau Kuku dan Jemaja pada umumnya.

Atraksi wisata yang tak kalah menarik di Pulau Jemaja adalah beragam seni tradisi dan budaya lokal yang masih ada di Jemaja. Salah satunya adalah Tari Gobang, sebuah tari tradisional dengan kostum aneh, para penarinya menggunakan topeng (wajah tertutup penuh), menggunakan jas, bersepatu, dengan topi seperti topinya para demang di Jawa. Ada juga yang bertopeng bengis seperti raksasa, monyet, atau paras yang menyerupai hantu. Konon ada yang menyebutkan bahwa tari gobang ini adalah tarian yang berasal dari makhluk bunnian (alam ghaib), ada juga yang menyebutkan bahwa tari gobang ini berasal kesenian suku laut yang dimainkan kala mereka singgah di Pulau Jemaja.

Ada ragam seni tradisi dan budaya lokal di Kepulauan Anambas yang menarik sebagai atraksi wisata budaya. Seni tradisi Mendu, yakni seperti teater tradisional yang menjadi tontonan rakyat. Dinamakan Mendu karena dalam pertunjukkannya kebanyakan memainkan ceritera tentang Dewa Mendu yang sangat terkenal di kalangan masyarakat 'suku laut' (orang pesuku) di kepulauan Tujuh. Ada juga pertunjukan silat, dan perlombaan gasing sebagai perlombaan rakyat yang sangat diminati kaum laki-laki di Anambas.

Wisata Berbasis Komunitas

Kepulauan Anambas belum seterkenal destinasi wisata bahari lain di Indonesia, seperti Raja Ampat di Papua dan Labuan Bajo, di NTT. Namun saya memprediksi, lambat atau cepat Anambas akan menjadi destinasi wisata favorit bagi para traveler yang menyukai wisata bahari dan kebudayaan.

Perjalanan saya ke Anambas selama seminggu, menemukan geliat dan kesediaan penduduk lokal di berbagai pulau di Kepulauan Anambas untuk memanfaatkan potensi keindahan Anambas sebagai destinasi wisata yang menjanjikan. Tanpa diminta, saya dipandu secara tidak langsung oleh anak-anak muda yang saya temui dalam berwisata di Anambas. Mereka sangat ramah, dan tanpa pamrih menemani saya keliling tempat tercantik di Indonesia yang pernah saya temui. Ini adalah potensi besar untuk berkembangnya industri wisata berbasis komunitas, dimana masyarakat setempat terlibat dan menjadi pelaku dalam dunia pariwisata. Bila pemerintah dan pemangku kepentingan pariwisata di Indonesia serius menggarap Anambas sebagai destinasi wisata kelas dunia, saya meyakini Anambas kelak akan sejajar dengan Maldives yang terkenal seantero jagat itu.

Terakhir, mari berkunjung ke Kepulauan Anambas, ini masih di Indonesia kawan, bukan di luar negeri. Cukup dengan biaya sekitar 5 juta rupiah, anda bisa menikmati keindahan Kepulauan Anambas selama seminggu. Yuk, berkunjung ke Anambas.

Yogyakarta, 11 Juni 2017, Budhi Hermanto